
Ifan memilih kembali ke kamar dan melanjutkan tidurnya, Sela memilih diam ketika melihat Ifan dengan santai menuju tempat tidur yang dia tempati saat ini. Ifan menyibakkan selimut dan segera masuk ke sana dan melanjutkan mimpinya.
"Mengapa kamu tidur di sini?" Sela mengusir Ifan
"Bukannya tadi kamu yang mau tidur di luar, kalau aku tidak mau. Di luar dingin, enakan juga tidur di sini" Ifan sudah tidak menghiraukan Sela yang masih saja bicara
Sela kembali berdiri, hendak kembali ke ruang tamu, dia sedikit membuka pintu kamar dan memperhatikan televisi yang masih menyala dengan tetap menayangkan acara yang sama, tentang fauna yang hidup di alam bebas.
Sela bimbang antara kembali ke sofa atau tidur di r**jang yang sama dengan Ifan. Namun, dia masih takut jika nanti Ifan berbuat macam-macam terhadapnya. Rasa takutnya mengalahkan logikanya Sela memilih untuk kembali ke r**jang milik Ifan dan segera merapatkan kelopak matanya.
"Akhirnya dia datang sendiri ke tempat ini, tanpa harus gue paksa" Batin Ifan dalam kegelapan kamarnya
Sela terlelap hingga pagi, untungnya mata Ifan masih tertutup rapat ketika Sela membuka matanya. Sela merutuki kebodohanya yang memilih untuk tidur di atas ra***ng yang sama dengan Ifan semalam. Dia langsung membuka selimut dan mengecek beberapa kali pakaian yang dia kenakan masih sama dan tidak ada yang berubah.
"Selamat pagi say**g" Sapa Ifan setelah dia membuka matanya dan terlihatlah pemandangan di sampingnya seseorang yang baru saja dia nikahi satu hari yang lalu
"Apaan sih...." Sela tidak enak hati karena mengusik tidur Ifan dan memilih untuk segera beranjak dari sana berniat untuk pergi ke kamar mandi
"Mau kemana?" Ifan yang menyadari Sela akan beranjak dari tempat tidurnya
"Mau ke toilet, apakah kamu mau ikut?"
__ADS_1
"Kalau kamu memaksa boleh juga.... Ayo..." Ifan segera berdiri dan menarik tangan Sela
"Tidak... tidak... jangan tarik tanganku, aku hanya bercanda mengapa diseriusin. Aku tidak mau ke toilet bareng dengan mu.... lebih baik aku di toilet bawah saja" Sela berusaha melepaskan tangannya, namun naasnya dia tersandung karpet dan jatuh telungkup
Sela menahan malu dengan bergegas lari ke kamar mandi yang berada di dalam kamar Ifan, tidak lupa menguncinya dari dalam.
"Bodoh banget sih aku... Mengapa coba tidak hati-hati" Gerutu Sela di dalam sana
"Lagian pagi-pagi sudah ngajakin ribut" Gerutunya lagi
"Semoga ini adalah yang terakhir dan dia segera ilfil denganku dan segera bisa terbebas dari orang seperti dia"
Karena Ifan juga sudah tidak bisa menahan hasratnya untuk mengeluarkan cairan dari kandung kemihnya, dia turun mencari toilet yang ada di bawah. Dia tidak ingin menggoda Sela lagi, dia takut nantinya Sela malah tidak leluasa lagi tinggal bersamanya. Karena sudah susah payah dia mendapatkannya dan tidak akan pernah dia lepaskan lagi. Cukup sekali dia kehilangan Sela selama beberapa tahun terakhir dan dengan susah payah dia menemukannya.
Flashback
Ifan harus ikut neneknya ketika perusahaan milik orang tuanya mengalami kebangkrutan. Dia harus meninggalkanorang taunya yang saat itu sedang mengalami kesulitan ekonomi. Tidak hanya meninggalkan orang tuanya yang harus menata ekonomi dari bawah lagi, tetapi dia juga harus meninggalkan teman kecilnya dulu yang selalu bermain bersamanya.
"Maaf, aku besok sudah tidak bisa bermain lagi denganmu, karena aku harus ikut nenek di kota yang jauh dari sini. Aku akan berusaha mencarimu jika suatu saat nanti aku sudah bisa berdiri di atas kakiku sendiri dan aku akan mengajakmu tinggal bersamaku" Ifan kecil berpamitan dengan sahabatnya
"Lalu aku bermain dengan siapa? Sedangkan mereka tidak pernahau bermain denganku" Keluh gadis kecil yang hanya bisa bermain dengan Ifan, karena menurutnya hanya Ifan yang selalu bisa melindunginya dari teman-teman lain yang suka menjahilinya. Ifan adalah teman sekaligus dianggap seperti kakak yang selalu ada saat dia butuhkan
__ADS_1
"Kalau kamu tidak nyaman untuk bermain dengan mereka, kamu bisa bermain di halaman rumahmu saja" Ifan memberikan ide
"Tapi, kalau bermain sendiri tidak seru" Rengek gadis itu
"Kalau tidak mau main sendiri, mulai sekarang kamu harus berani melawan mereka dan jangan mau kalau ditindas. Kalau kamu sudah tidak bisa melawan lebih baik kamu segera menghindar" Ifan menenangkan dan memberikan saran kepada teman kecilnya yang sangat dia sayang
Ifan harus segera pulang karena sudah ditunggu oleh neneknya untuk segera berangkat. Sebenarnya dia juga sedih meninggalkan gadis kecilnya. Bahkan dia sendiri pada waktu itu belum paham mengapa harus meninggalkan kedua orang tuanya dan tinggal bersama nenek dan kakeknya yang jauh dari kota kelahirannya.
"Ma, tolong jaga Ifan dengan baik, aku tidak ingin Ifan menjadi sasaran orang yang sudah menjatuhkan perusahaan kami. Kami mohon pada Mama untuk selalu menjaga dan mengawasinya" Mama Ifan berpesan kepada Mamanya untuk selalu menjaga anak semata wayang yang sebenarnya sangat dia sayangi, namun karena ada musuh perusahaan yang sudah berhasil menjatuhkan perusahaannya dia tidak ingin Ifan menjadi salah satu sasaran bagi musuhnya tersebut.
"Baiklah... Mama akan berusaha sekuat tenaga mama dan Papa untuk selalu menjaga dan melindungi Ifan, dan mama do'akan agar perusahaan segera pulih dan orang tersebut mendapatkan balasan yang setimpal dengan perbuatannya"
"Terima kasih Ma atas bantuannya, Maaf kami selalu merepotkan mama hingga saat ini"
"Mama tidak merasa direpotkan, Mama malah senang ada Ifan bersama kami"
Dengan mengendarai mobil milik Nenek, Ifan meninggalkan kota kelahirannya yang banyak kenangan dengan perasaan sedih. Ada rasa berat di hatinya, namun keadaan yang membuatnya harus mengikuti nenek. Dengan alasan Neneknya sudah tidak ada lagi yang menemani.
Beberapa hari di rumah nenek, Ifan hanya berdiam diri di kamar yang sudah di hias sesuai dengan usianya, ada beberapa mainan khas anak laki-laki dan juga poster bergambar manusia laba-laba kesayangannya sejak kecil dengan ukuran yang sangat besar di salah satu sisi dinding kamarnya.
Hatinya masih sedih mengingat gadis kecil yang selalu bermain dengannya. Dia memikirkan bagaimana gadis itu bisa melewati hidup di sana dan apakah dia memiliki keberanian untuk melawan mereka yang selalu membuat perkara dengannya.
__ADS_1
Ifan dibujuk oleh neneknya untuk bersekolah agar bisa mendapatkan teman dan tidak hanyaa berdiam di kamar terus-menerus.
Pagi hari yang cerah Ifan bersiap dengan seragam sekolah barunya dengan tas berada di punggungnya. Diantar oleh sopir pribadi neneknya. Wajah yang tampan sejak kecil dengan kulit bersih dan terawat membuat dia mudah untuk mendapatkan teman di sekolah barunya.