BENIH TANPA CINTA

BENIH TANPA CINTA
56


__ADS_3

Trisna segera meninggalkan kediamannya setelah mengakhiri panggilan telephonnya. Emosinya masih belum reda meskipun sedikit mendengar alasan Ifan.


Memperlihatkan kartu akses masuk ke lingkungan rumah Ifan, Trisna segera mengambil jalan yang menuju ke rumah anak semata wayangnya. Meskipun dia sangat menyayangi anaknya, tetapi dia menyayangkan tindakan Ifan yang tidak menghargai Sita sebagai anak dari orang yang sudah menjaga mereka sejak dahulu.


"Apa maksudmu bertindak seperti itu?" Trisna masuk tanpa mengetuk pintu dan berjalan dengan angkut menuju tempat Ifan saat ini sedang duduk santai dengan Sela di depan televisi


"Belum juga duduk, sudah bertanya Ma" Ifan bersikap santai mendengar pertanyaan mamanya yang jelas terlihat masih emosi


Trisna masih belum mau diam, Ifan dan Sela hanya bertindak sebagai pendengar yang tidak bisa menyela sama sekali.


"Minum dahulu Ma" Ifan menyodorkan segelas air putih dingin ke hadapan mamanya


Setelah menghabiskan segelas air minum, Trisna mulai dingin dan bersiap mendengarkan penjelasan Ifan.


"Maaf Ma, bukannya Ifan tidak menghormati mama lagi, tapi saat ini Ifan sudah dewasa dan memiliki kehidupan sendiri, yang terpenting Ifan sudah menceritakan semuanya perihal mengapa Dito meminta pergi Bu Marni dari rumah sakit. Mau percaya atau tidak semua terserah mama. Ifan sudah jujur" Ifan menceritakan penyebab mereka masuk rumah sakit dan hampir membuat dirinya kehilangan calon anak mereka


"Terserah kalian mau bagaimana ke depannya, tetapi jangan kalian ikut campur dengan orang-orang mama" Trisna masih sangat mempercayai Bu Marni sebagai salah satu orang yang bekerja dengannya


Setelah ada titik terang, Trisna meninggalkan kediaman baru Ifan. Sebelumnya Ifan sudah berpesan agar merahasiakan tempat tinggal barunya saat ini.


****


Keadaan di perusahaan sudah tidak seperti kemarin, semua karyawan sibuk dengan pekerjaan masing-masing, hal ini tidak ubahnya karena pengaruh dari Fandi yang akan memberikan sanksi ketika melihat ada karyawan yang bergosip ketika sedang bekerja. Karena pekerjaan yang semakin banyak hingga membuat mereka tidak ada kesempatan untuk berbicara satu sama lainnya, bahkan untuk sekedar meluruskan punggungpun mereka urungkan.


Sita yang baru saja menjejakkan kakinya di perusahaan melihat pemandangan yang tidak biasa di dalam perusahaan. Orang-orang yang biasanya berbicara satu sama lain dilihatnya semua menunduk ke meja menghadapi pekerjaan yang seolah tidak ada habisnya. Hal ini membuat Sita dengan sombongnya melangkahkan kakinya memasuki ruang pribadinya.


Di dalam ruangannya tidak ada satu pekerjaanpun yang diberikan kepadanya, semua karena perintah dari Ifan. Bukan tanpa alasan Ifan memerintahkan hal tersebut. Untuk membuat Sita merasa bosan dan lambat laun akan keluar dari perusahaan dengan sendirinya.

__ADS_1


Sampai siang hari Sita tidak mendapatkan tugas apapun, membuat dirinya bebas untuk berselancar di dunia maya, menghabiskan waktu hingga jam pulang berdentang. Selama beberapa hari Sita masih dengan pekerjaannya, bukannya membuatnya bosan malah membuatnya sangat bahagia, tidak ada pekerjaan yang harus diselesaikan dia di kantor hanya untuk bersenang-senang dan akhirnya mendapatkan penghasilan. Siapa juga yang tidak mau makan gaji buta.


"Bagaimana apakah dia terlihat bosan?" Ifan memang beberapa hari semenjak peristiwa yang dia alami belum pergi ke kantor, semua pekerjaan dipegang oleh Fandi


"Mana ada dia bosan, yang ada dia malah terlihat bahagia tanpa mengerjakan apapun, di kantor hanya rebahan dan bermain sosial media" Fandi mengeluh ketika mendapat pertanyaan dari Ifan


"Lagian pula Mas juga sudah tahu bagaimana sifat Sita, malah diberi kebebasan seperti itu, harusnya mas beri pekerjaan yang banyak dengan deadline yang singkat"


"Setuju" Fandi ikut menimpali usul Sela


Mereka bertiga menyiapkan beberapa pekerjaan yang cukup berat untuk dikerjakan oleh Sita beberapa hari ke depan. Dari pekerjaan di kantor bahkan pekerjaan lapangan sekalipun. Mereka menyusun rencana sangat teliti, Pekerjaan di lapangan mereka memilih waktu saat tengah hari hingga jam tiga sore baru kembali ke kantor. Dan selanjutnya harus menyelesaikan laporan sore itu juga sebelum jam pulang kantor, jika belum selesai dia harus lembur dan hari itu juga harus selesai.


"Huft, baru juga beberapa hari tidak ada pekerjaan, tapi mengapa hari ini sangat sibuk" Keluh Sita sekembalinya dari lapangan


Mengerjakan laporan yang harus selesai hari ini juga, merupakan pekerjaan yang sangat berat baginya. Apalagi melihat teman-teman yang lain sudah meninggalkan kantor sejak sore hari dan tinggal dirinya dengan satpam kantor saja.


Setelah beberapa kali berfikir, Sita memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya.


****


Pagi ini Ifan tidak mau meninggalkan Sela sendirian di rumah, meskipun keamanan sangat terjamin, namun dia tidak ingin melepas pandangannya dari Sela sedetikpun.


Sampai di kantor semua karyawan masih sibuk dengan pekerjaannya, Ifan belum melihat Sita berada di ruangannya.


"Apakah Sita setiap hari seenaknya dalam bekerja Mas?" Sela yang ikut terkejut melihat ruangan Sita yang masih kosong sedangkan yang lain sudah sibuk dengan pekerjaan


"Begitulah dia, bekerja seenak dia sendiri"

__ADS_1


Ifan dan Sela memasuki ruangan Ifan yang kini sudah dilengkapi dengan tempat tidur yang nyaman, khusus disiapkan untuk Sela ketika ikut ke kantor.


"Kapan Mas menyiapkan semua ini?" Sela yang masih dalam genggaman Ifan semakin manja


"Mas tidak menyiapkan sendiri kok, Mas hanya perintah dan semua sudah tersedia" Ifan semakin erat memeluk tubuh Sela yang semakin berisi


Ifan melakukan panggilan telepon, meminta Fandi untuk datang ke ruangannya membawa semua berkas beberapa hari yang lalu termasuk pekerjaan yang harus di selesaikan oleh Sita.


"Ini semua pekerjaan selama kamu tidak datang ke kantor, selesai dengan baik kecuali pekerjaan yang diberikan kepada Sita" Fandi meletakkan setumpuk berkas ke meja Ifan


"Panggil dia kemari"


Sita memasuki ruangan Ifan, dia terkejut di dalam sana ada Fandi dan juga Sela. Saat ini posisi Sela berada di pangkuan Ifan, sedangkan Ifan sibuk menyelesaikan pekerjaannya tanpa merasa terganggu dengan keberadaan Sela.


Sita semakin marah melihat pemandangan seperti itu, melangkahkan kakinya dengan hentakan keras namun tidak ada yang mempedulikannya.


"Ini pekerjaanku" Sita meletakkan map yang berisi laporannya yang baru selesai setengah dengan sedikit membantingnya, Sita berdiri hendak keluar dari ruangan yang dia rasa sangat panas meskipun berada di tempat ber-AC, namun dicegah oleh Ifan


"Tunggu"


Dengan berat, Sita kembali duduk dengan wajah yang sangat merah menahan amarah.


"Akan aku lihat terlebih dahulu, setelah selesai kamu bisa meninggalkan ruangan ini"


Ifan memeriksa laporan yang dibuat Sita dengan lambat, membiarkan dia melihat kemesraan antara dia dengan Sela.


Hampir satu jam Sita menyaksikan pemandangan di depan matanya, membuat dia tidak kuat lagi dan segera berdiri meninggalkan ruangan Ifan tanpa permisi

__ADS_1


__ADS_2