BENIH TANPA CINTA

BENIH TANPA CINTA
6


__ADS_3

Ifan melajukan mobilnya dengan kecepatan rendah, dia ingin menikmati perjalanan dengan santai karena sebenarnya Ifan tidak ada niat untuk hadir dalam acara yang diadakan oleh mamanya. Dia terpaksa datang ke sana hanya karena tidak mau jika akan dijodohkan dengan anak teman arisan mamanya. Selain itu mamanya juga memberi syarat agar membawa pasangan jika tidak ingin dijodohkan.


Semilir angin malam menerpa wajah cantik Sela yang baru saja turun dari mobil yang dibukakan pintunya oleh Ifan, ala-ala pangeran yang mempersilakan tuan putrinya.


"Jangan berlebihan bisa tidak!" Sela berbicara lumayan keras


"Lagi pula aku masih punya tangan untuk membuka pintu ini" Lanjutnya


Ifan tidak menghiraukan ocehan Sela, dan saat ini Ifan dengan berani menggandeng tangan Sela dengan erat membawanya masuk ke sebuah restoran mewah yang sudah di sewa sepenuhnya oleh Mama Ifan beserta teman-temannya.


Ifan memperlihatkan deretan giginya yang putih menyapa setiap orang yang berpapasan dengannya.


"Sok terkenal, padahal mereka tidak mengenalmu" Sela bicara dengan nada menyindir


"Siapa bilang mereka tidak mengenalku, kamu akan tahu siapa diriku, dan saat kamu tahu siapa diriku, kau tidak akan pernah berpaling dariku" Ifan menyombongkan dirinya di depan Sela


"Tidak mungkin, dan tidak akan pernah gue tertarik dengan dirimu, yang pasti kamu pasti anak mami yang berlindung dibawah ketiak mamamu" Sela masih saja merendahkan Ifan


Hiruk pikuk di dalam restoran yang sudah diset sedemikian rupa, dengan tatanan yang sangat mewah, semua yang hadir di sana memakai pakaian yang berkelas, Sela hafal betul baju-baju yang memiliki nilai fantastik, meskipun baju-baju yang dimilikinya rata-rata masih dibawah harga semua pengunjung di sini.

__ADS_1


Sela memastikan lagi semua yang hadir disini adalah kaum sosialita dengan harta yang tidak akan habis tujuh turunan. Sela tertegun dengan pemandangan dihadapannya.


"Lihatnya sambil kedip bisa tidak?" Ifan menyenggol Sela dan sedikit berbicara dengan nada menyindir


"Sudah kedip dari tadi, kamu saja yang tidak melihatnya" Sela menjawab dengan sengit, selain menutupi malu, dia juga marah pasti dinilai kampungan oleh lelaki yang berdiri di sampingnya saat ini


"Tidak usah malu, lagi pula aku akan tetap menerimamu sebagai ibu dari anakku yang saat ini tumbuh di dalam sini" Ifan masih saja menggoda Sela dengan menunjuk perut Sela yang tertutup gaun malam dengan warna pastel


"Ayo, akan aku kenalkan kau dengan mama, mama pasti sangat senang apalagi sudah akan ada...... " Sela tanpa sadar memukul lengan Ifan dengan cukup keras hingga mengeluarkan suara yang membuat semua mata tertuju ke arah mereka


"Aduh, sayang mengapa kamu selalu menggodaku dengan cara itu, bukankah nanti bisa kita lanjut setelah di rumah, di sini masih banyak orang" Ifan yang tidak ingin membuat pujaan hatinya merasa malu segera menggandeng degan erat


"Selamanya malam Ma..." Ifan menghampiri mamanya dengan mengulurkan tangannya dan mencium punggung tangan mamanya


"Kenalin Ma, sesuai dengan syarat yang mama ajukan, saat ini Ifan tidak datang sendiri jadi tidak ada alasan lagi mama mencari seseorang untuk dijodohkan dengan Ifan" Ifan merangkul pundak Sela


"Belum pasti, dia benar-benar pacarmu, bahkan beberap hari yang lalu kamu masih sendirian, tidak mungkin secepat itu kamu mendapatkan gadis cantik ini, melainkan memang gadis cantik ini kamu bayar untuk malam ini" Mama Ifan tidak percaya dengan yang diucapkan Ifan l, karena beliau tahu betul anak lelakinya


"Mama boleh tidak percaya bahkan kami akan segera melangsungkan pernikahan dalam waktu dekat" Ifan tidak mau kalah berdebat dengan mamanya

__ADS_1


"Mama belum memberi restu, sebelum mama yakin jika gadis ini adalah pacarmu yang sesungguhnya"


"Apakah mama tidak percaya jika dia bukan pacar Ifan, apakah mungkin jika dia bukan pacar Ifan tetapi saat ini ada sesuatu yang tumbuh di dalam perutnya" Ifan berbicara dengan cukup keras hingga mengundang beberapa orang yang berada di dekatnya menoleh ke arah perdebatan antara anak dan ibu


"Ifan, kamu bicara apa. Bisa tidak bicaranya dikendalikan. Baiklah untuk saat ini Mama percaya dengan yang kamu katakan, tapi malam ini kamu harus pulang dan membawanya ke rumah, jika semua yang kamu katakan tidak berbohong. Kita bicarakan di rumah setelah acara mama selesai" Tidak ingin mengundang keributan mereka menghentikan perdebatan dan memulai acara


Ifan masih dengan santai menggenggam tangan Sela menuju ke sebuah bangku yang masih kosong, setelah mempersilakan Sela duduk, Ifan mengambil beberapa makananmakanan. Dalam beberapa menit Sela masih merasa dongkol dengan sikap Ifan yang telah mengklaim dirinya sebagai pacar bahkan calon istri kepada mamanya tanpa memberitahunya terlebih dahulu. Namun setelah memasukkan beberapa makanan ke dalam mulutnya sebagai pengalihan atas rasa marah di dadanya, Sela mulai buka suara


"Mengapa kamu secara sepihak mengatakan hal itu kepada mamamu, kalau ingin mencari pacar pura-pura mengapa tidak bilang sari awal, kalau sudah tahu dari awal, pasti aku akan bersikap manis tanpa ada perlawanan namun dengan syarat harus memberiku imbalan yang fantastis" Sela membayangkan imbalan yang akan dia terima dari Ifan jika dia mau bekerja sama mengelabuhi mama Ifan diacara seperti ini, mungkin dia bisa membuka usahanya sendiri tanpa bantuan orang tuanya dan akan segera terealisasi semua janjinya kepada orang tuanya


"Siapa yang berpura-pura, bahkan saya sangat serius dengan semua perkataanku tadi di hadapan Mama. Kalau kamu mau imbalan yang fantastis mungkin bisa segera terwujud, bahkan semua hartaku mau kamu habiskan juga tidak masalah jika nanti kita sudah resmi menikah" Ifan sangat santai dengan perkataannya bahkan tanpa beban sedikitpun


"Atas dasar apa kita harus menikah, kalau saya tidak mau apakah pernikahan tetap akan berjalan, bahkan kamu saja tidak tahu siapa orang tuaku, bagaimana bisa menikah? Jangan mimpi" Sela berusaha menggagalkan semua rencana lelaki itu dengan beberapa dalih yang pastinya tidak bisa dengan mudah merealisasikannya


"Itukan menurut kamu, apakah kamu lupa jika pernikahan tetap bisa dilakukan jika orang tuamu dianggap sudah tidak ada, dan membeli wali hakim untuk menjadi wali pernikahan?"


"Tapi orang tuaku masih hidup dan dalam keadaan sehat, bahkan aku tahu keberadaan mereka, jadi tidak akan bisa terlaksanan"


"Akan aku buktikan jika pernikahan kita tetap akan berlangsung tanpa ataupun dengan kedatangan orang tuamu, terutama ayahmu"

__ADS_1


"Mereka tidak akan pernah setuju, meskipun kau berhasil menemukan mereka"


__ADS_2