
"Kamu yang beli?" Tidak mungkin jika Ifan tahu dimana coklat itu biasa dibeli oleh ayahnya, karena hanya satu toko di kota ini yang menjualnya, sedangkan toko tersebut berada di lokasi yang cukup jauh dari apartemen milik Ifan
"Mengapa bertanya seperti itu? Bukannya hanya sebuah coklat dimanapun atau siapapun yang beli, kalau sudah berada di rumah ini berarti milik kita dan harus segera dimakan" Ifan tidak mau berterus terang dari mana dia memperoleh coklat tersebut
"Curiga saja?"
"Curiga bagaimana?" Kalau hanya beli coklat sebesar itu aku juga bisa, jangankan hanya segitu bagaimana kalau kita beli pabriknya saja, kalau kamu suka kamu bisa memakannya tanpa harus menunggu yang dijual di toko"
"Tapi yang di toko lebih berkesan dari yang di pabrik"
Sebenarnya Ifan tahu jika lelaki paruh baya yang dia temui baru saja adalah ayah Sela. Dan dia juga tahu yang sangat dirindukan lelaki itu adalah istrinya saat ini, namun dia belum mau bercerita sebelum semua bisa diselesaikannya.
Sela sering membelinya di toko tersebut dengan papanya sejak dia masih kecil. Untuk saat ini bukan nilai dari coklatnya yang Sela rindukan, tetapi momen ketika mereka berdua memilih dan membeli coklat itu sambil menyusuri rak-rak yang berisi berbagai macam olahan coklat dengan berbagai varian rasa.
"Dimakan dulu saja yang ada, kapan-kapan kita akan mengunjungi toko itu" Ifan mengalihkan pembicaraannya dengan memasukkan sepotong coklat ke mulut Sela
Sela menikmati coklat yang sudah lama tidak dia makan, coklat almond yang sangat dia sukai dan hanya papanya saja yang mengetahui itu. Beberapa potong coklat sudah beralih tempat dari tangan Ifan ke dalam perut Sela, bahkan di dalam mulut Sela masih ada sisa-sisa coklat ketika rasa mual mendominasi di perut Sela.
"Mas..... tolong perutku sakit banget.... mual rasanya pengen muntah" Sela meringis merasakan perutnya melilit
"Kamu duduk dulu, biar aku panggil dokter" Ifan menghubungi Dito yang kebetulan juga sedang tidak bertugas malam ini
"Sebentar lagi Dito akan sampai di sini, kamu tahan dulu ya S**ang..." Ifan tidak tega melihat istrinya kesakitan, rasanya dia ingin memindahkan rasa sakitnya untuk dirinya saja
Lima belas menit, akhirnya Dito datang dengan peralatan medisnya. Bersiap untuk memeriksa keadaan Sela yang terlihat pucat wajahnya dan juga matanya terpejam
"Dok, saya sudah sembuh setelah melihat dokter di sini, jadi tidak perlu memeriksaku lagi" Sela membuka matanya dan melihat dokter ganteng pujaan hatinya, otomatis rasa sakitnya sirna begitu saja
__ADS_1
"Maksudnya?" Dito semakin bingung dengan perkataan Sela
"Iya, Dok... saya sudah mendapatkan obatnya... yaitu melihat dokter ganteng dihadapanku" Rasa was-was kini menghantui perasaan Dito setelah mengetahui maksud perkataan Sela, kalau sampai Ifan mendengarnya sudah bisa dipastikan akan tamatlah riwayatnya
Namun, untuk mengurangi kecanggungan, Dito tetap memeriksa Sela agar dia bisa membuat laporan kepada Ifan yang selalu meminta laporan secara detail, apalagi ini mengenai orang yang sangat dia cintai.
"Bagaimana keadaannya?" Dito kaget lagi mendengar pertanyaan Ifan yang tiba-tiba masuk
"Dia hanya masuk angin saja, jadi tidak perlu khawatir yang berlebihan, istirahat yang cukup juga pasti dia sembuh" Dito mengatakan yang sejujurnya
"Mungkin dia kecapean, makanya jangan diajak bertempur terus, badannya juga butuh istirahat jangan mikir enaknya saja tapi juga pikir eneknya juga" Lanjut Dito
"Sial*n, mana obatnya dan sekarang juga kami bisa keluar dari tempat saya" Ifan mengusir Dito terang-terangan
"Oh, iya satu lagi pesanku..."
"Jaga dia, kalau sampai kamu sedikit goyah, aku pastikan dia jatuh ke p**ukanku, karena sepertinya dia sangat mengagumiku, begitu juga aku juga sangat... sangat mengaguminya"
"Pergi tidak... Tidak akan aku lepaskan dia untuk siapapun, dan jangan mimpi sambil berjalan"
Takut mendapat kemarahan lebih dari Ifan, Dito bergegas meninggalkan kediaman Ifan dan kembali ke unitnya sendiri.
****
"Bagaimana sekarang, apakah sudah baikan?" Setelah mengirim Dito ke luar apartemennua, Ifan menghampiri Sela yang masih berbaring di sofa
"Berkat dokter Dito yang ganteng semuanya sudah membaik, jadi tidak perlu khawatir lagi"
__ADS_1
"Maksudnya bukan karena obat yang diberikan Dito tetapi karena Dito-nya?" Ifan menekankan nama Dito diakhir
"He.. he... " Sela tersenyum, tahu jika saat ini Ifan menahan amarah
"Lebih baik kamu sekarang istirahat dan juga banyak minum air putih, supaya besok pagi segera pulih" Ifan tidak mau berdebat dengan Sela yang saat ini membutuhkan istirahat
Merebahkan diri di atas kasur, Sela bersiap untuk istirahat, merasakan kepalanya yang masih pusing disertai rasa mual diperutnya, hanya ingin istirahat tanpa ada gangguan. Ifan mengangkat selimut hingga menutupi seluruh t**uh Sela serta menaikkan suhu ruangan agar lebih hangat.
Setelah memastikan Sela telah terlelap, Ifan mengambil laptopnya dan membuka email yang masuk ke dalam akunnya. Memastikan perusahaan berjalan lancar tanpa ada hambatan yang berarti. Setelah selesai memeriksa semua pekerjaan bawahannya, Ifan menghubungi Fandi yang dia beri tugas khusus.
"Bagaimana apakah sudah ada kesepakatan, kapan penandatangan kontrak akan dilakukan?"
"Selasa depan jam 10 pagi, mereka berharap bisa bertemu dan melakukan penandatangan, karena jam sebelas mereka akan bertolak ke luar negeri" Fandi memberikan laporan mengenai penandatangan kontrak besar perusahaannya
"Baiklah, aku pasti akan datang, dengan penandatangan kontrak itu kita akan memiliki kekuatan yang sangat besar hingga aku akan segera bisa mencapai semua yang sudah aku rencanakan"
"Sudah saya pastikan mereka akan setuju dengan kontrak yang kita sampaikan asalkan kamu sendiri yang datang menemui mereka"
Ifan mengakhiri telepon dan kembali ke kamar untuk istirahat, memegang dahi Sela dengan hati-hati agar tidak menganggu tidurnya.
"Setelah aku bisa menguasai bisnis di negara ini, aku akan lebih mudah melindungimu dan aku pastikan kamu akan selalu berada dalam keadaan aman dan tidak ada yang berani menindasmu lagi" Ifan meng"*up dahi Sela kemudian ikut terlelap di samping Sela
****
Sarah mendapati rumahnya kosong, membuat dia marah, tidak menemukan keberadaan suaminya, yang biasanya selalu berada di ruang kerjanya tetapi saat ini tidak ada di sana, kembali melihat ke garasi namun mobil yang biasa dipakai oleh Prabu tidak terparkir di sana.
"Halo, dimana kamu, mengapa meninggalkan rumah dalam keadaan kosong, bagaimana kalau ada penjahat yang masuk" Sarah melampiaskan kemarahan karena direndahkan oleh salah satu temannya arisannya karena dalam sebulan ini dia belum bisa membeli tas keluaran terbaru seperti teman-teman yang lain kepada Suaminya.
__ADS_1
"Aku hanya mencari udara segar di luar" Prabu tidak mengatakan jika dirinya pergi membeli coklat kesukaan anak perempuannya