
Bu Marni mengajak Sita ke rumah mereka yang ada di kampung, jauh dari hingar bingar perkotaan. Kampung mereka berada di lereng gunung jauh dari rumah-rumah tetangga. Matahari sudah menampakkan diri ketika mereka sampai di tempat tujuan. Membuka pintu dan segera memasuki rumah, Bu Marni takut jika ada orang lain yang mengetahui keberadaan mereka di sini.
Lain halnya dengan bu Marni yang sangat ketakutan, Sita malah terlihat santai dan tidak begitu memikirkan peristiwa yang sudah dia rencanakan. Dia merasa kesal dengan putusan ibunya yang harus menghilang untuk beberapa saat.
"Ibu tahu tidak, kalau Sita pergi begitu saja tanpa ada keterangan, yang ada Sita malah dianggap pelaku yang sebenarnya"
"Tapi Sit, mereka sudah tahu kebenarannya, apapun yang akan kamu katakan mereka tidak akan pernah percaya lagi"
Bu Marni sudah mendengar percakapan antara Dito dengan anak buahnya, meskipun hal itu belum sampai ke telinga Ifan, namun Dito adalah salah satu sahabat Ifan yang sangat dia percayai.
"Pokoknya Sita harus kembali segera" Sita membanting pintu dengan keras, memanggil mobil yang tadi mereka gunakan sebagai alat transportasi
Sita tidak menghiraukan teriakan ibunya yang sangat menghawatirkan dirinya.
****
Sela dan Ifan memutuskan untuk pulang ke rumah mereka, menyiapkan beberapa penjaga untuk selalu siaga di sekitar rumah, meskipun sebenarnya sudah ada penjaga yang bersiaga dua puluh empat jam, namun Ifan tidak mau terjadi sesuatu lagi.
"Mengapa kita pulang ke sini mas, bukannya belum ada perabotannya?" Sela tahu banget jika di rumah baru mereka belum ada satupun perabotannya
"Tenang saja, semuanya sudah siap, tinggal kita tempati" Ifan langsung meminta Fandi untuk membeli semua perabotan rumah tangga yang dia butuhkan setelah memutuskan akan pulang ke rumah baru mereka, karena sudah tidak mungkin lagi akan kembali ke apartemen, selain kamar yang harus naik tangga juga demi keselamatan dan kenyamanan Sela
Bukan tidak mungkin peristiwa kemarin sebenarnya mengincar Sela juga. Orang-orang di sekitar apartemen milik Ifan yang dahulu sebagian besar sibuk di luar semua dan belum kembali jika malam belum menjelang bahkan ada yang pulang menjelang pagi.
__ADS_1
Trisna tidak mengetahui sama sekali mengenai kepemilikan rumah baru Ifan, karena Ifan tidak meminta pendapat Trisna dengan alasan dirinya dan juga Sela yang akan menempati, jadi tidak ada kewajiban untuk meminta pendapat kepada orang tuanya.
"Bagaimana, apakah kamu suka dengan semua ini?" Sela terkagum-kagum dengan semua yang ada di dalam rumahnya, dari desain dan juga penataannya yang simple namun rapi membuat mata Sela menikmatinya
"Bukannya kemarin masih kosong Mas?"
Ifan hanya tersenyum mendengar pertanyaan istrinya. Jangankan hanya perabotan rumah, apapun yang diinginkan oleh Sela pasti akan tersedia saat ini juga.
"Kamu mau apa?, Apapun keinginanmu pasti akan terkabul. Apakah kamu tidak tahu jika apa yang dikatakan oleh suamimu ini pasti akan tersedia dengan cepat"
Mendengar kesombongan Ifan membuatnya mendapatkan cibiran dari Sela.
"Tidak usah dimanyun-manyunin, kalau tidak ingin terjadi sesuatu"
Setelah kembali dari luar kota, Trisna berniat untuk menjenguk anaknya di apartemen Ifan, namun sesampainya di sana, Trisna tidak menemukan siapapun di dalam setelah berhasil memasukinya. Hanya ada beberapa barang yang tidak terlalu penting, semua barang-barang penting milik Ifan juga sudah tidak tertinggal di sana.
Rasa panik menyerang perasaan Trisna, Mencari penanggung jawab apartemen, menanyakan mengapa semua barang Ifan tidak berada di tempatnya.
"Maaf Bu, tadi sore beberapa orang mengambil barang milik Pak Ifan, tetapi mereka sudah membawa surat kuasa yang ditandatangani oleh Pak Ifan sendiri. Bahkan kami juga sudah memastikan kepada Pak Ifan" Pihak penanggung jawab gedung memberikan jawaban atas pertanyaan Trisna
Beberapa kali Trisna melakukan panggilan telephone kepada Ifan, namun tidak ada jawaban dari pihak penerima telephone. Membuat Trisna harus menghubungi beberapa sahabat Ifan termasuk Fandi dan juga Dito.
Tidak ada jawaban pasti dari mereka, karena sebelumnya Ifan juha sudah berpesan kepada mereka agar tidak memberi tahu siapapun mengenai keberadaannya saat ini, termasuk ibunya sendiri. Kalau mereka tahu biar dari dia sendiri.
__ADS_1
Bukannya Ifan tidak menghormati ibunya, namun dia juga harus melindungi keluarga kecilnya dari ancaman-ancaman yang berasal dari pihak luar yang tidak menyukai Ifan, bahkan para pesaing-pesaing bisnisnya setelah mengetahui titik lemah seorang Ifan.
Karena tidak mendapatkan jawaban pasti, Trisna menghubungi Bu Marni yang semalam diberikan tugas oleh dirinya untuk membantu anak dan menantunya. Namun Bu Marni menjelaskan bagaimana mereka mengusir Bu Marni dari Rumah sakit dengan melebih-lebihkan, hal ini dilakukan Bu Marni untuk melindungi Sita.
"Ya sudah, lebih baik sekarang kamu menuju rumah saya. Ada yang harus saya bicarakan dengan mu" Trisna meminta Bu Marni agar ke rumahnya
Trisna tidak bisa menemukan keberadaan anaknya, merasa sangat kalut, tidak seperti biasanya apapun pasti akan dibicarakan dengn dirinya. Tetapi mengapa saat ini keputusan diambil sepihak dan dalam waktu yang sangat mendesak dan dalam waktu yang singkat.
Dalam benak Trisna juga sudah menyimpulkan beberapa kemungkinan, namun dia belum berani membenarkan asumsinya sendiri. Bu Marni sampai di tempat Trisna dan langsung mengikuti langkah Trisna memasuki rumah.
"Bagaimana mungkin mereka mengusir dari sana, sedangkan mereka tahu siapa kamu di mataku?" Pertanyaan yang sejak tadi mengganggu pikiran Trisna kini sudah dikeluarkan
"Saya juga tidak tahu Bu, bahkan saya tidak diijinkan untuk masuk ke rumah sakit, apalagi masuk ke ruangan Mas Ifan dan Mbak Sela" Bu Marni mulai mengarang cerita
"Beraninya mereka berbuat seperti itu kepada saya, dimana rasa hormat mereka?" Kemarahan Trisna yang selama ini tidak pernah dilihat oleh siapapun kali ini membuat semua orang yang melihatnya merasa ketakutan
"Di mana Sita saat ini?" Trisna berniat untuk menggali informasi dari Sita mengenai keadaan perusaan Ifan
"Saat ini Sita sedang tidak enak badan, dan sedang beristirahat di rumah Bu" Lagi-lagi Bu Marni membohongi Trisna
Trisna meminta Bu Marni untuk pulang terlebih dahulu, jika ada yang diperlukan maka akan dihubungi lagi.
Telepon Trisna berdering nyaring setelah Bu Marni keluar dari rumahnya, Ifan melakukan panggilan untuk memberitahu keberadaannya saat ini dan meminta mamanya untuk datang ke tempatnya karena ada sesuatu hal yang mau dibicarakan.
__ADS_1
Sesuai permintaan Ifan, Trisna datang dengan mengendarai mobil sendirian, tanpa ada sopir ataupun orang lain. Sesuai dengan aturan lingkungan Ifan, Trisna juga melalui pemeriksaan ketat untuk bisa masuk ke rumah Ifan.