
Bu Marni sudah kehilangan akal untuk menghentikan niat anaknya untuk mendapatkan pekerjaan tanpa harus bersusah payah. Memang bukan Ifan yang dia tuju melainkan Trisna langsung.
Dengan kemampuannya dalam berkomunikasi, dengan mudah Sita bisa mendapatkan hati Trisna dan mendapatkan kesempatan dari beliau.
"Terima kasih Bu Trisna, saya tidak akan pernah melupakan kebaikan Ibu" Tidak lupa diperlihatkan wajah yang sangat takzim dan menyesal telah merepotkan terus
Trisna segera meminta Ifan untuk menyediakan satu meja untuk Sita, agar segera bisa bekerja dalam waktu dekat. Ifan tidak bisa menolak lagi permintaan sang Mama. Tanpa berfikir apapun Ifan memerintahkan Fandi untuk menyiapkan sebuah meja yang berada di sebelah ruangannya. itu juga merupakan permintaan Trisna dengan dalih agar Ifan lebih mudah memberikan arahan dan bimbingan kepada Sita kedepannya.
"Siapa Mas... " Sela masih sangat kamu dengan panggilan baru untuk suaminya
"Mama, meminta untuk menyiapkan meja untuk Sita" Ifan belum menceritakan siapa Sita yang sebenarnya, hal itu membuat Sela megerurkam dahinya
"Sita siapa?"
"Sita, anak perempuan Bu Marni yang baru lulus kuliah, dia meminta mama untuk membantu memberinya pekerjaan"
"Bukannya bagus Mas, sebagai tanda terima kasih kita kepada keluarga Bu Marni yang sudah menjaga Sela dengan penuh tanggung jawab"
"Bukannya Mas tidak mau membantu, tetapi kamu belum tahu siapa dia sebenarnya" Ifan memperlihatkan raut muka tidak suka, karena Ifan sedikit trauma dengan peristiwa beberapa tahu lalu, ketika Sita merayakan kelulusan di sekolahnya
Flashback
"Siapa yang menghadiri undangan kelulusanmu Sit?" Tanya salah satu teman sekolah Sita
"Ada, seorang cowok yang sangat tampan" Sita menjawab dengan tersipu malu, memperlihatkan secara tidak langsung siapa yang dimaksud oleh Sita
"Beruntung banget kamu Sit, bisa mendapatkan perhatian dari cowok yang sangat mapan diusia muda dan juga sangat perhatian kepadamu" Sahabat Sita ikut berkomentar, karena beberapa kali dia melihat Sita diantar Ifan dengan menggunakan mobil milik Trisna yang juga merupakan perintah dari mamanya, karena waktu itu Sita sedang tidak enak badan dan tidak bisa mengendarai sepeda sendiri
__ADS_1
"Aku iri sama kamu Sit" Lanjutnya lagi
Sita masih dengan senyum merekah mendengarkan semua pujian teman-temannya, bahkan saat itu Sita berada di atas angin karena Ifan sudah tampak berjalan menghampirinya. Karena siswa dan pendamping akan berjalan beriringan ketika memasuki ruang perayaan.
"Di mana tempatnya" Ifan masih bersikap dingin dan menunjukkan rasa tidak sukanya untuk hadir di sekolah ini, kalau saja Bu Marni tidak sedang mengawal mamanya, makan tidak akan sudi dia datang ke sini
"Sebentar Kak, jangan ke sana dulu, karena dari sekolah sudah mengatur setiap siswa dan pendamping masuk bersama dan beriringan, bahkan tempat duduknya juga tidak boleh berjauhan"
"Bulshitt aturan macam apa ini" Batin Ifan, karena dia pastinya tidak akan bisa dengan cepat meninggalkan ruangan itu jika semua sudah ditentukan, Ifan sendiri sebenarnya juga memiliki janji dengan seorang klien yang akan bekerja sama dengannya untuk pertama kali
Suara pembawa acara sudah mulai terdengar, satu persatu nama siswa kelas tiga dipanggil dan memasuki ruangan, begitupun dengan Sita dan Ifan berjalan beriringan memasuki ruang yang sudah disulap menjadi tempat berpesta para siswa yang merayakan kelulusan.
Waktu janji temu dengan klien semakin dekat, Ifan berusaha keluar dari tempat duduknya, akhirnya Ifan sudah terbebas dari kungkungan banyaknya orang di dalam dan yang terpenting sudah terbebas dari Sita yang sejak tadi manjanya minta ampun.
Ifan segera menuju mobilnya dan meninggalkan lahan parkir dadakan karena banyaknya pengunjung asal ada lahan kosong di situ mereka menempatkan kendaraannya. Belum juga berhasil keluar dari gerbang sekolah, beberapa orang yang memiliki usia tidak jauh dari dirinya menghadang mobil yang dia kendarai.
"Iya, lebih baik sekarang juga mas keluar dari mobil itu, jika tidak ingin terjadi sesuatu" Salah seorang dari mereka meminta Ifan untuk turun
Karena tidak tahu apa maksud dari perintah tersebut, Ifan menurutinya dan ikut melihat kearah samping kanan dan kiri. Namun naas bagi dirinya seketika mendapat bogem mentah yang berasal dari salah satu mereka. Karena tidak ada persiapan apapun Ifan tersungkur dengan darah segar mengalir dibibirnya.
"Maaf, karena kau sudah mengingkari janji untuk tetap menemaninya di sini" Mereka pergi tanpa pamit langsung meninggalkan Ifan setelah mengatakan itu, tidak lupa ada lemparan sebuah kertas yang berisi tulisan yang mengancam akan membeberkan semua kepada klien-klien Ifan jika berani keluar dari sekolah ini
Flashback Off
Bukannya Ifan takut dengan ancaman yang dulu pernah dia terima, namun yang dia takutkan jika nanti Sita benar masuk ke perusahaan dan mengetahui rahasia perusahaan, maka pastinya tidak akan segan membuka rahasia perusahaan kepada pihak lawan.
"Bagaimana dia bisa sejahat itu? Apalagi saat itu usianya masih sangat muda" Sela tidak pernah berfikir jika anak seusia itu sudah berbuat jahat apa lagi dengan orang yang selalu membantu perekonomian keluarganya
__ADS_1
"Kita tidak pernah tahu hati seseorang, makanya jangan mudah percaya sama orang lain"
"Jadi Mas tidak mempercayai Sela?"
Sela merajuk hingga membuat Ifan kewalahan untuk membujuknya. Ifan tidak tahu perkataan mana yang membuat istrinya sampai semarah itu.
*****
Pagi ini di perusahaan Ifan ada penyekatan ruangan, sesuai dengan perintah Trisna. Ruangan yang dulunya hanya digunakan oleh Fandi kini harus dibagi dua dengan Sita.
"Siapa yang akan menempati ruangan itu?" Tanya Fandi kepada Ifan saat melihat ruangannya kini semakin sempit
"Kamu ingat Sita?"
"Jadi dia yang akan menempati ruangan itu? Mengapa harus berdekatan dengan aku, mengapa tidak di lantai dasar saja, memangnya siapa dia?" Fandi mengingat kejahatan yang dilakukan Sita membuat Ifan yang baru merintia bisnis harus mengganti rugi karena mengingkari janji temu mereka
"Bos besar. Kalau sudah bos besar yang mengatakan saya tidak bisa menolaknya"
"Oh iya, Hati-hati dengan data penting perusahaan, komputernya jangan dihubungkan dengan server pusat perusahaan, tetapi hubungkan dengan komputer lain yang tidak ada data perusahaan" Ifan harus mengantisipasi segala kemungkinan terburuk
"Baik Bos"
Fandi segera meminta tim teknisi untuk mengerjakan perintah Ifan, semua harus segera diselesaikan supaya tidak ada kemarahan dari Bos besar.
Hanya membutuhkan waktu dua hari untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut, semua instalasi komputer sudah diset sesuai dengan perintah Ifan dan diberikan pasword lain.
Sita mendapatkan kabar dari Trisna, jika dia bisa datang sewaktu-waktu ke perusahaan dibawah kendali Ifan, karena ruangan yang diminta semua sudah selesai disiapkan. Sita sangat gembira mendengar berita tersebut, yang dia inginkan cepat atau lambat pasti akan tercapai.
__ADS_1