
Pagi ini Sita masih bekerja seperti biasa, dia merasa seolah tidak terjadi apapun atas tindakan kemarin. Melangkahkan kakinya menuju ke ruang pribadinya seperti seorang pemilik perusahaan yang berjalan angkuh melewati beberapa pegawai lain tanpa ada senyum sedikitpun. Dia tidak menghiraukan dengan kasak-kusuk yang dia dengar secara langsung ketika melewati mereka.
Merebahkan diri di sofa yang ada di dalam ruangannya, Sita mengangkat kakinya dan meletakkan di atas meja. Sedikit menghela napas yang sebenarnya sejak tadi sudah dia tahan, namun dia berusaha tenang dihadapan para pegawai lain.
"Aku harus mendapatkan kekuasaan di perusahaan ini, agar aku bisa membungkam mulut jahat mereka semua" Sita merencanakan langkah yang harus dia ambil agar tetap bisa beradi di perusahaan milik Ifan
"Aku harus mencari seseorang yang bisa menuntunku selain tante Trisna" Sita berjalan lambat mengitari ruangannya dan berbicara sendiri
Suara ketukan mengejutkan Sita yang sedang memikirkan nasibnya.
"Siapa?" Sita belum berani membuka pintu sebelum mengetahui siapa yang berada di luar sana
"Fandi"
Mendengar nama Fandi, Sita tidak berani berlama-lama untuk membuka pintu. Mempersilakan masuk, namun Fandi hanya berdiri di depan pintu dan mengatakan sesuai dengan perintah Ifan.
"Kamu di tunggu Bos di ruangannya" Suara ketus mendominasi, menandakan penyampai perintah memendam kemarahan yang tidak bisa dia keluarkan
Fandi memimpin dan diikuti Sita di belakangnya setelah dia menutup pintu. Langkah cepat Fandi, menandakan akan ada pembicaraan yang serius di antara mereka nantinya.
Mempersilakan Sita untuk memasuki ruangan Ifan terlebih dahulu. Sita mengira jika akan hanya ada Ifan dengan dirinya saja, namun keinginan Sita sirna setelah Fandi masuk kembali dengan beberapa map di tangannya.
"Fandi, perlihatkan semuanya biar pembicaraan kita cepat selesai" Ifan memerintahkan kepada Fandi untuk membuka semua berkas yang dibawa Fandi dari luar
Tidak menunggu lama, semua berkas sudah terbuka di atas meja. Di sana tertera berbagai macam bukti mengenai kejadian kemarin yang sudah mereka ketahui sebelumnya jika Sita sendiri yang mendalanginya.
__ADS_1
"Semua bukti ini tidak akan sampai di kantor polisi jika kamu tidak menggunakan mamaku sebagai orang di belakangmu, kami harus sadar siapa dirimu dan keluargamu" Ifan tidak mau mamanya digunakan sebagai senjata Sita untuk mendapatakan semua keinginannya
"Apa maksudmu? Aku tidak pernah menggunakan Tante Trisna sebagai alatku, semua atas kerja kerasku sendiri" Sita masih belum mau mengakuinya
"Aku tidak akan pernah percaya dengan semua perkataanmu lagi" Suara Ifan semakin mengeras
Selama ini Ifan tidak pernah berbicara keras kepada siapapun, termasuk orang yang sering merendahkan usahanya. Tetapi saat ini dia terlihat gusar karena sudah menyangkut harga diri dan juga keluarganya yang pastinya sedikit terancam dengan semua kejadian kemarin. Bagaimana tidak, kalau sudah ada yang berbuat sedemikian rupa terhadap dirinya bukan tidak mungkin saat ini keamanan dan kenyamanan hidup istrinya juga akan terganggu, apalagi saat ini Sela dalam keadaan mengandung yang harus selalu dijaga.
"Terus apa yang akan kamu lakukan terhadapku? Mau mengusir aku dari perusahaan ini, tidak akan pernah bisa. Dan kamu harus bersiap jika suatu saat perusahaan ini akan hancur dan beralih ke tanganku. Jangan pernah berbesar hati dan berfikir mampu melawanku" Saat ini Sita benar-benar mengibarkan bendera perang dan pastinya Ifan tidak boleh lengah dengan perkataan Sita.
Sita meninggalkan ruangan Ifan tanpa berkata apapun. Saat ini Ifan dibuat pusing dengan perilaku Sita yang terang-terangan melawannya dan tidak akan tinggal diam dengan segala ancaman Ifan.
"Bagaimana menurutmu Fan?" Ifan meminta pendapat kepada Fandi yang kini duduk tercengang mendengar semua perkataan Sita barusan
"Ha..." Fandi yang masih tertegun terkejut mendengar pertanyaan Ifan
Ifan memutuskan untuk meninggalkan perusahaannya diikuti oleh Fandi, tujuan mereka adalah apartemen milik Ifan, sebelum menginjak pedal gasnya, Ifan menyempatkan menelpon Dito untuk datang juga.
Semua berkas sudah mereka tata rapi di atas meja yang terletak di ruang tengah apartemen Ifan. Sila yang baru turun dari kamarnya, terkejut melihat suami dan juga sahabatnya sudah sibuk membicarakan sesuatu dengan wajah yang terlihat tegang. Awalnya Sela tidak ingin mendekat ke arah mereka, namun karena rasa penasaran Sela mengendap-endap mendekat ke arah meja, kemudian duduk di sofa yang kosong.
"Ada apa say*ng" Ifan mengetahui kedatangan istrinya yang mengendap-endap
"Boleh tidak Sela duduk di sini?" Sela berdiri menghampiri dan mendekap erat pinggang suaminya yang saat ini tepat berdiri di depannya, tidak lupa dengan suara manjanya
Ifan mengusap lembut jemari Sela, menghela napas sejenak dan memikirkan perkataan yang akan dia keluarkan dari mulutnya agar Sela tidak salah paham dan berakhir seperti peristiwa semalam dimana Sela marah hanya karena hal kecil.
__ADS_1
Ifan berbalik dan memegang pundak Sela sembari menepuknya beberapa kali
"Say*ng, bukannya tidak boleh. Tapi... Mas minta maaf banget untuk saat ini lebih baik kamu ke kamar dahulu, kasian yang ada di perutmu. Karena saat ini kami sedang membicarakan bisnis yang baru saja berjalan. Setelah selesai Mas berjanji akan memberikan apapun permintaan darimu" Ifan berbicara panjang lebar untuk menjelaskan kepada Sela jika pekerjaan kali ini sangat rahasia dan tidak boleh ada yang tahu
"Benarkah..... Mas akan menuruti permintaan Sela?" Wajah Sela berbinar mendengar perkataan Ifan
Tanpa menunggu jawaban Ifan lagi Sela bergegas kembali ke kamarnya dan beristirahat sesuai dengan perintah Ifan.
Satu jam berlalu pembicaraan antara Ifan, Dito dan Fandi selesai. Sebelum mereka berpamitan, Ifan meminta Dito untuk memeriksa kandungan Sela, bukan pemeriksaan rutin, namun Ifan memanfaatkan kedatangan Dito ke apartemennya dan pastinya gratisan.
"Bagaimana?" Awas jangan sampai salah diagnosa"
Bukannya memeriksa Sela, Dito malah berdiri dan mundur, ingin meninggalkan Sela yang siap untuk diperiksa. Dito merasa tidak dipercaya mendengar ancaman Ifan
"Sejak kapan kamu berisik begini" Dito membuka pintu kamar dan ingin keluar
Ifan menghentikan sahabatnya yang hendak pergi.
"Baiklah, aku tidak akan bicara lagi, sekarang mulailah memeriksa, tapi...."
"Nih, periksa sendiri" Kesabaran Dito semakin habis, mendengar ocehan Ifan yang tidak ada hentinya, menyerahkan stetoskop yang berada di tangannya kepada Ifa
"Baik-baik, aku tidak akan bicara lagi" Mengetahui Dito semakin marah, Ifan hanya mengikuti Dito dari belakang, memperhatikan tangan Dokter muda itu sambil beberapa kali tangannya hendak menghentikan tangan Dito
"Heran deh, tenang saja aku tidak akan menyakiti istrimu, jangan khawatir" Mengetahui tingkah Ifan, Dito segera memperingatkannya
__ADS_1
Ifan berpindah tempat, berada di atas r*njang yang ditiduri oleh Sela. Matanya tidak pernah berkedip sedikitpun memperhatikan pemeriksaan yang dilakukan Dito