BENIH TANPA CINTA

BENIH TANPA CINTA
7


__ADS_3

Pertemuan malam ini terjadi hingga tengah malam. Beberapa kali Sela sudah menguap, namun malang bagi Sela yang ingin pulang terlebih dahulu terhalang karena dia tidak membawa uang sepeserpun, kalaupun harus naik taksi pasti memerlukan uang yang tidak sedikit, mengingat tempatnya saat ini cukup jauh dengan tempat kosnya.


"Fan jangan lupa dengan janjimu, untuk mengajaknya pulang ke rumah malam ini" Mama Ifan Trisna memperingatkan anak tunggalnya ketika Ifan hendak meninggalkan tempat acara


"Iya, Mamaku yang cantik dan bawel, tunggu Ifan di rumah" Ifan mulai menjauh dari mamanya dan hendak mengajak Sela pulang


Saat kembali ke meja dimana dirinya dan Sela tadi duduk, Ifan tidak menemukan keberadaan sosok Sela. Ifan kalang kabut mencari Sela dari toilet hingga ke depan restoran dan juga samping, namun Ifan tidak menemukannya.


"Sial, mana handphone aku juga tidak ada lagi" Ifan ingin menelphone, tetapi handphonenya ketinggalan di butik


Ifan kembali masuk, dia sendiri kaget seketika melihat Sela yang kini telah duduk di kursi yang sempat mereka tempati.


"Kemana saja sih kamu, dicari malah pergi tidak bilang-bilang, kalau kamu sampai hilang bagaimana" Ifan mengeluarkan semua kepanikannya


"Kalau saya sampai hilang pasti saya akan mengucap puji syukur karena sudah tentu tidak akan bertemu lagi dengan orang seperti anda" Sela lagi-lagi mengeluarkan kata-kata yang tidak enak untuk didengar


"Iya kamu puji syukur, aku yang....." Ifan belum menyelesaikan perkataannya sudah dipotong oleh Sela


"Buruan, antar aku pulang, aku sudah mengantuk" Sela berdiri dan berjalan keluar restoran


Ifan mengikutinya dari belakang dan membiarkan Sela berjalan lebih dahulu, namun karena banyaknya pintu, Sela salah memilih jalan yang menuju ke hotel yang menyatu dengan restoran. Senyuman nakal Ifan berkembang dan membiarkan tanpa memberi tahu kemana mereka akan berlabuh.


"Lho, mengapa sampai ke tempat seperti ini?" Sela mendadak berhenti setelah menyadari arahnya salah


"Bukannya kamu sengaja ke arah sini?" Ifan juga berpura-pura tidak tahu tujuan Sela


"Siapa bilang.... Aku capek mau pulang dan tidur" Sela semakin cemberut

__ADS_1


"Kita pulangnya ke sanakan..... biar kamu cepat tidur dan.... "


"Dan apa?! Jangan berfikir macam-macam, aku bukan wanita seperti yang kau bayangkan"


"Bukannya membayangkan, bahkan aku sudah pernah melihatnya....."


Sela reflek meninju dengan kuat lengan milik Ifan.


"Aduh.... Kenapa di situ sih nonjoknya, bisa cari tempat lain tidak sih..." Ifan semakin menjadi dalam menggoda Sela


"Bisa mencari jalan keluar yang benar tidak?" Sela mulai bersuara dengan nada tinggi


"Bukannya kamu yang mencari jalan keluar, seandainya tadi kamu mengikuti aku pasti sekarang sudah berada dalam perjalanan bahkan hampir sampai rumah" Ifan dengan nada tidak bersalahnya membuat alasan


Saat ini Ifan mulai memimpin mencari jalan keluar tidak lupa dia menggenggam erat tangan mungil milik Sela. Karena Sela sudah lelah dan mengantuk dia hanya menurut saja kemana langkah kaki Ifan diayunkan, bahkan saat ini Sela sudah tidak ingin berdebat lagi.


Sela masuk ke dalam mobil setengah sadar, tanpa berkata-kata langsung mendudukkan dirinya di kursi samping kemudi. Matanya terpejam hingga tidak membutuhkan waktu lama Sela sudah berada di alam mimpi dan tidak tahu lagi kemana Ifan akan membawanya.


Setengah jam perjalanan, mobil milik Ifan memasuki pekarangan rumah yang sangat mewah dengan pilar-pilar yang menjulang menambah kesan kokoh pada bangunan tersebut.


Sela masih belum mampu hanya sekedar untuk membuka matanya, Ifan membiarkannya untuk tidur lebih lama. Ifan hanya bisa menunggu dan memandangi wajah cantik wanita yang kini duduk di sampingnya.


"Andai kamu tahu segalanya, pasti kamu tidak akan bertingkah dan sok jual mahal" Batin Ifan


"Suatu saat jika kamu telah menyadarinya, aku harap kamu akan bisa menerimaku" Ifan tersenyum membayangkan jika suatu saat Sela mengetahui segalanya


Badan Sela mulai terasa pegal ketika dia mulai terbangun dari tidurnya. Masih dengan nyawa yang belum terkumpul Sela bergumam "Sudah sampai ya? Mengapa tidak membangunkanku?"

__ADS_1


"Sudah sejak tadi kita sampai, ayo kita turun Mama sudah menunggu di dalam" Kata-kata Ifan sontak membuat mata Sela membola dan hilang rasa kantuknya


"Apa? Bagaimana bisa mamamu berada di tempat kos aku?" Sela belum sadar jika di depan sana bukanlah tempat kosnya melainkan rumah keluarga Ifan


"Siapa bilang di depan sana tempat kos kamu, coba dilihat ulang"


"Mengapa harus ke sini, bukannya langsung mengantarkanku pulang. Pokoknya aku tidak mau tahu saat ini juga kamu harus mengantarkanku" Sela masih belum mau bertemu dengan keluarga Ifan, dia merasa takut jika nanti diinterogasi oleh keluarga Ifan


"Mengapa harus takut, jika kamu tidak punya rasa kepadaku, kalau kamu takut berarti kamu berharap hubungan kita segera diresmikan" Ifan mulai mengeluarkan sindiran agar Sela mau untuk diajak masuk


"Siapa bilang saya takut, ayo kita masuk" Sela membuka pintu mobil dan segera turun.


Tidak dipungkiri sebenarnya dalam hati Sela ada rasa was-was dan jantungnya juga sudah tidak bisa diajak kompromi lagi. Dia menggirup udara berulang kali untuk mengurangi rasa canggungnya sebelum dia menginjakkan kakinya di teras rumah yang lebih megah dari pada rumah milik orang tuanya.


Ifan mulai menggandeng tangan Sela untuk membuktikan kepada orang tuanya jika mereka benar sepasang kekasih. Ifan merasakan dinginnya telapak tangan Sela, dia hanya bisa mengulas senyum yang tidak bisa dilihat orang lain.


"Tangan sudah dingin begini mengapa tadi bilangnya tidak takut" Ifan bergumam, awalnya dia berbicara pelan namun pada kenyataannya Sela masih mendengar gumaman Ifan


"Tangan aku dingin bukan berarti aku takut untuk bertemu dengan orang tuamu, namun karena kedinginan" Sela tetap berkilah agar tidak membuat Ifan besar kepala


"Dingin ya, coba lebih dekat sini" Ifan makin berani tidak hanya menggandeng tangan Sela, namun kini tangannya sudah berada di bahu milik Sela


Sela terlonjak kaget dengan sikap Ifan yang dia rasakan sedikit lembut dan tidak kasar. Sela memindai Ifan saat ini, di otaknya penuh pertanyaan dengan perubahan sikap Ifan yang sangat cepat.


"Jangan dilihat terus, kalau baju aku nanti mengecil bagaimana?" Ifan berbicara tanpa memandang Sela


"Siapa yang melihat, jangan kepedean, siapa juga yang mau melihat cowok seperti kamu, masih mending melihat cowok-cowok yang ada di drama Korea, lebih bening lebih ganteng lebih bersih pokoknya lebih dari segalanya, kamu tidak ada apa-apanya dibanding mereka" Sela membela diri

__ADS_1


"Tapi, yang di sini lebih perhatiankan...."


__ADS_2