BENIH TANPA CINTA

BENIH TANPA CINTA
28


__ADS_3

Tania menghubungi Marcel sepulang dari kantor, mereka memutuskan untuk bertemu di sebuah kafe yang berada tidak jauh dari rumah Tania.


Wajah Tania tersirat sangat kesal, mengingat dengan santainya Sela bisa makan bersama dengan bos besar perusahaannya di restoran mewah, tanpa ada rasa canggung di antara keduanya.


"Mengapa selalu dia yang mendapat kebahagiaan tanpa harus bersusah payah" Gerutu Tania sambil bersiap untuk pergi


"Dari keluarganya yang sangat menyayanginya sejak kecil, kemudian Marcel juga menjadi miliknya dan sekarang Bos Ifan juga sangat perhatian dengannya, harusnya sudah sejak dahulu aku mengacaukan hidupnya, memangnya siapa dia. Aku sudah banyak berkorban demi dia, menjadi sahabatnya berharap bisa mengalihkan Marcel, namun pada kenyataannya meskipun Marcel berkencan dengan wanita lain masih saja kembali ke Sela" Tania semakin marah mengingat dirinya sudah banyak berkorban untuk Sela menemani kemanapun Sela pergi.


Marcel sudah menunggu kedatangan Tania, dia tidak bisa menunggu lama setelah mengetahui kabar keberadaan Sela dengan Ifan. Membuka sosial media milik Sela berulang kali, namun tidak ada jejak sama sekali di sana.


"Sebenarnya Ifan itu siapa, hingga sulit aku mendapatkan informasi tentang dia" Marcel bermonolog menikmati minuman dan makanan kecil yang dia pesan terlebih dahulu sambil menunggu kedatangan Tania


Marcel masih duduk cemas menunggu kedatangan Tania, melihat ke arah pintu berulang kali namun sosok yang dia tunggu belum juga menampakkan batang hidungnya. Dalam hatinya berfikir mungkin Tania sedang membohongi dirinya karena tidak mungkin sahabat Sela akan memberitahu keberadaan mantan pacarnya itu sedangkan orang tuanya saja tidak tahu dimana saat ini Sela tinggal.


"Mukamu seperti baju belum disetlika" Tania mengagetkan Marcel yang duduk sendiri dengan wajah cemas


"Iya, menunggumu yang tidak kunjung datang" Marvel bicara ketus


"Maaf, baru sampai rumah langsung mandi dan ke sini" Tania bahagia memiliki kesempatan untuk makan dengan Marcel hanya berdua di malam minggu hari yang dinantikan bisa makan bersama dengan seorang cowok yang dulu sangat dia gandrungi saat Marcel masih bersama Sela, namun untuk saat ini Tania ingin mendekati Ifan, bos di perusahaannya.


Mereka berdua berbincang hingga larut malam. Tania mengatakan jika saat ini Sela dekat dengan Ifan, namun belum tahu ada hubungan apa diantara keduanya yang Tania ketahui jika saat itu Ifan hanya makan siang dengan klien. Tania juga mengatakan jika Ifan adalah Bos dari perusahaan tempatnya bekerja dan satu-satunya perusahaan yang terkemuka di kota ini.


"Tidak mungkin jika mereka hanya rekan kerja, karena belum lama ada yang melihat mereka berjalan selayaknya sepasang kekasih" Marcel tidak percaya dengan perkataan Tania


"Tapi Pak Ifan bilang saat itu beliau sedang makan dengan klien dan aku disuruh datang ke tempat mereka makan"

__ADS_1


"Apakah kamu berbicara dengan Sela?"


"Malas, kalau nanti Pak Ifan tahu aku kenal sama Sela bisa jatuh harga diriku di depan Pak Ifan, karena baju dipakai Sela sangat-sangat tidak layak jika diketahui dia salah satu sahabatku"


Marcel mencengkeram erat tangannya mendengar perkataan Tania yang sangat merendahkan Sela. Rona kemarahan terlihat jelas di wajah Marcel.


"Maaf, bukan maksud aku untuk merendahkan Sela, tapi kalau kamu melihatnya sendiri pasti sama penilaianmu kepadanya"


"Sekarang lebih baik kamu pergi" Marcel berbicara dengan penuh penekanan, dia tidak ingin kemarahannya semakin memuncak saat mendengar orang lain menghina Sela, meskipun sebenarnya dia sendiri yang sering meremehkan Sela


Tania meninggalkan Marcel di kafe, dia tidak ingin menjadi pelampiasan amarah Marcel yang terlihat jelas di wajahnya.


***


Malam ini Ifan pulang sedikit terlambat dibandingkan dengan hari-hari yang telah lalu. Biasanya Ifan kembali dari kantor pukul lima sore, namun karena banyak pekerjaan yang harus selesai hari ini, Ifan sampai di rumah pukul tujuh malam.


Siapapun akan terpana dengan ketampanan Ifan yang berjalan dengan menggulung baju putih panjangnya, Sela yang setengah terlelap ketika mendapati Ifan yang duduk di sampingnya. Mengucek mata yang dan memastikan beberapa kali orang yang duduk di sampingnya benar Ifan, Sela sedikit terpana dengan wajah Ifan yang tidak berkedip memperhatikan dirinya.


"Sadar Sela.... Jangan sampai kamu terjerat pesonanya" Batin Sela


"Sudah selarut ini mengapa tidak makan dahulu?" Ifan memb*l*i rambut Sela yang tergerai, membuat Sela salah tingkah


"Tidak enak makan sendiri" Sela bertingkah manja tidak seperti biasanya


"Siapa yang memasak makanan banyak begini?"

__ADS_1


"Aku memesannya, hanya sebagai ucapan Terima kasih kepadamu"


"Untuk???"


"Karena kamu sudah meminjamkan laptop dan saat ini perusahaan yang memesan logo kepadaku sudah membayar bahkan memberikan bonus yang lumayan banyak" Sela bercerita dengan penuh semangat


Mereka berdua menikmati makan malam berdua, disertai obrolan ringan, masih seperti siang tadi, Sela makan dalam porsi yang tidak seperti biasa. Makanan di atas meja sebagian besar masuk ke mulut Sela, membuat Ifan penasaran.


"Tumben, kamu makan banyak banget" Tidak ada maksud Ifan untuk menyinggung Sela yang sangat menikmati makanan


"Jadi, kenapa kalau aku makan banyak, kamu akan meninggalkan aku jika suatu saat nanti aku gendut? Memang seharusnya kamu tidak peduli denganku mulai saat ini, dan biarkan aku pergi dari rumah ini" Sela marah-marah tidak jelas, mengungkit masalah yang sudah berlalu serta mengatakan jika kalau tidak di paksa oleh Ifan makan tidak mungkin dia berada di rumah ini saat ini dan meminta Ifan untuk melepaskannya


Sela meninggalkan meja makan setelah lelah berbicara panjang lebar, dia menuju tempat tidur dan menangis di sana hingga tidak sadar dia sudah terlelap dan terbuai dengan mimpi indah yang menghampirinya


"Sebenarnya apa yang terjadi dengannya, sebentar manja, sebentar galak dan selalu berubah-ubah moodnya" Ifan dibuat bingung dengan sikap Sela yang dengan cepat berubah


Ifan menyelimuti Sela yang sudah tidak sadarkan diri, mengec*p kening Sela dan mengusap puncak kepalanya perlahan. Ifan segera membersihkan diri, badannya terasa lengket.


"Ma, Ifan bingung dengan sikap Sela akhir-akhir ini, karena sebentar dia manja sebentar dia marah, yang lebih membuat Ifan bingung nafsu makan Sela tidak seperti biasa, apa karena Sela stress dengan pekerjaannya?" Ifan mengadu kepada Trisna, namun di luar dugaan Ifan, Trisna malah mentertawakannya


"Mama kok malah tertawa?"


"Memang harus sabar menghadapi wanita hamil, sebaiknya kamu harus selalu menjaga moodnya agar tidak membuatnya marah dan kesal, usahakan selalu menuruti semua keinginannya, serta jangan pernah menyinggung perasaannya"


Dalam hati Ifan bahagia mendengar ucapan mamanya, yang mengatakan Sela hamil, dia sangat bersyukur dengan hamilnya Sela berarti dia tidak akan pernah kehilangan lagi.

__ADS_1


"Besok harus aku bawa kedokter untuk diperiksa memastikan dia hamil atau tidak"


__ADS_2