BENIH TANPA CINTA

BENIH TANPA CINTA
40


__ADS_3

"Hai Tania, dari mana?" Sela mendengar sapaan sahabatnya yang telah lama tidak bertemu merasa sangat senang, namun lain halnya dengan Ifan yang sebelumnya telah mendengar pengakuan dari Tania bagaimana dia menjelrjjab Sela di depannya. Ifanpun memilih untuk tetap di dalam mobil dan tidak keluar


Tania tampak berlari kecil untuk menjangkau keberadaan Sela yang sudah tidak jauh dari mobil Ifan dengan membawa beberapa bungkusan di tangannya yang berisi kue-kue tradisional yang dia beli.


"Belanja banyak banget, memangnya ada acara di tempat kamu kerja?" Tania yang mengira Sela bekerja sebagai asisten rumah tangga di rumah Ifan


Sela tersenyum mendengar pertanyaan Tania, dia sendiri belum pasti maksud dari pertanyaan Tania baru saja.


"Tidak masalah yang penting kamu bekerja dan mendapatkan hasil yang halal, lagi pula ijazah kamu juga belum diambil, jadi lebih baik sementara kamu bekerja sebisa kamu saja" Antara mengejek atau memberi nasihar, semua itu tidak terfikirkan oleh Sela, yang terpenting baginya saat ini adalah belum ada seorangpun yang tahu mengenai statusnya saat ini


Sela tidk memberikan jawaban apapun, tidak membenarkan tetapi juga tidak menyalahkan semua yang dikatakan oleh sahabatnya yang kini masih menganggapnya atau tidak.


Tania berpamitan karena sudah terlalu larut. Dia harus segera istirahat karena besok pagi ada rapat di waktu pagi.


"Maaf ya Sel, aku harus pulang sekarang karena besok pagi aku arlda rapat pagi-pagi, maaf karena tidak bisa mengantarmu, hati-hati... Jika ada sesuatu jangan lupa hubungi aku" Tujuannya tidak hanya untuk mengetahui bagaimana kabar Sela ke depannya, melainkan Dia ingin mendapatkan informasi yang akan disampaikan kepada Marcel


"Hati-hati juga ya... " Sela melambaikan tangannya melepas kepergian sahabatnya yang sudah berlalu pergi dan tidak berbalik lagi


Sela segera menghampiri mobil milik Ifan dan segera masuk, meletakkan semua barang yang ada di tangannya ke kursi penumpang bagian belakang. Pandangan Ifan tidak lepas dari Sela, memperhatikan setiap gerakan yang dilakukan Sela, hingga membuat Sela mengerutkan dahinya dan berkata "Ada apa? Apakah ada yang salah dengan aku?"


Ifan menggelengkan kepalanya dan memegang puncak kepala Sela dengan penuh rasa sayang.


"Kamu memang tidak pernah berubah sejak dahulu, harusnya kamu sudah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik" Ifan mengatakan hal itu dengan lembut untuk menghindari kesalahpahaman


"Maksudnya?"Memangnya kamu menganalku?" Sela tidak percaya dengan ucapan Ifan yang mengatakan dia tidak berubah sejak dia kecil


Ifan memandang dalam Sela, tatapan yang terlihat sangat menyayangi dan menjaga w*nitanya.

__ADS_1


"Apakah kamu sudah lupa?" Tanya Ifan kemudian


"Lupa apa?"


"Yah... pastinya kamu sudah melupakannya, karena waktu itu kamu masih kecil baget"


Ifan menceritakan semua peristiwa yang terjadi saat mereka masih kecil dahulu dan harus terpisah hingga saat pertama kali mereka bertemu kembali. Sela baru teringat ketika dia dahulu hanya mempunyai seorang teman yang mau bermain dengannya.


"Jadi, kakak.... " Sela tanpa sadar memeluk erat Ifan, melepas rasa rindu yang sebenarnya sudah lama dia pendam, namun bagi Sela untuk mencari keberadaan Ifan sangat sulit, bahkan namanya saja Sela sudah lupa. Semua akses untuk mencari keberadaan Ifan tidak dia dapatkan karena Ifan juga tidak mempunyai banyak teman di wilayah tempat tinggal mereka dahulu


Mendapatkan perlakuan dari Sela yang sedang menumpahkan rasa rindu, Ifan hanya bisa berdiam dan men*kmati bagaimana rasanya disayangi oleh seseorang


"Terima kasih Kak... dari dahulu hingga sekarang aku masih terus merepotkanmu"


"Tapi, mengapa kakak tidak bilang sebelumnya, seandainya Sela tahu dari awal mungkin semua peristiwa itu tidak kita alami, bahkan Sela pasti akan sangat senang menerima kakak"


"Bisa tidak sebutannya diubah?"


"Boleh, bagaimana kalau..... "


"Mas, kamu harus memanggil aku mas" Ifan memaksa Sela untuk memanggilnya dengan sebutan itu, karena menurutnya sebutan itu sangat enak didengar di telinganya


Sela mengangguk dengan cepat, menyetujui permintaan Ifan untuk mengubah panggilannya. Keduanya kini sudah tidak canggung lagi, setelah Sela mengetahui siapa Ifan sebenarnya, karena sebenarnya Sela juga mencari keberadaan Ifan yang sudah menjadi cinta pertama bagi Sela kecil dahulu. Bahkan alasannya untuk putus dengan Marcel salah satunya adalah Ifan.


Mereka bergegas meninggalkan toko kue dan kembali ke apartemen. Kini genggaman tangan Ifan tidak pernah terlepas lagi dari tangan Sela, bahkan Sela sangat menikmati perlakuan Ifan saat ini, rasa nyaman itu kini sudah kembali. Tidak ada rasa khawatir dengan keberadaan orang-orang yang tidak menyukainya selama pahlawannya selalu berada di sampingnya.


"Mana barangnya, biar aku saja yang membawanya" Ifan meminta semua barang yang berada di tangannya, dia tidak ingin Sela kecapean meskipun barang yang dibawa Sela tidak terlalu banyak

__ADS_1


Sela menyerahkannya, kemudian berjalan cepat menuju unit mereka.


"Hati-hati Say*ng, jalannya jangan cepat-cepat kasihan yang ada di perutmu" Sela reflek memegang perutnya yang kini sudah mulai terlihat sedikit membuncit, ada rasa bahagia di hatinya, orang yang telah memaksanya untuk menikahinya adalah orang yang selama ini dia cari-cari


Sela tersenyum manis dan berhenti seketika, menunggu Ifan yang masih berjalan di belakangnya


*****


"Saya curiga, Sela memang bekerja sebagai asisten rumah tangga, baru saja aku bertemu dengannya, dia membawa banyak barang di kedua tangannya" Tania bersemangat menceritakan pertemuannya dengan Sela ketika jalan pulang


"Tidak mungkin, dia saja tidak pernah mengerjakan apapun di rumahnya dahulu" Marcel tidak percaya dengan ucapan Tania


"Itukan dulu, sebelum semua fasilitasnya diminta oleh orang tuanya, lagi pula dia saat ini pasti sangat membutuhkan uang untuk memenuhi semua kebutuhannya" Tania masih dengan pendiriannya


Tania masih menyebutkan beberapa alasan lagi, hingga dia berani mengatakan jika Sela saat ini bekerja sebagai seorang asisten rumah tangga pada keluarga bosnya.


"Kalau bukan sebagai asisten rumah tangga, lalu kamu berfikir dia istrinya Pak Ifan?" Entah mengapa kata istri keluar begitu saja dari mulut Tania


"Apa kami bilang? Istri.... Jangan mimpi, tidak ada yang bisa memilikinya selain diriku, bahkan jika mereka sudah menikah, akupun rela untuk membuat mereka berpisah" Marcel tersulut emosi, karena rasa sayangnya yang masih sangat besar untuk Sela, dia tidak ingin mendengar siapapun mengatakan jika saat ini Sela sudah menjadi milik orang lain


Tujuan Tania hanya ingin menjelekkan Sela di mata setiap orang, namun bagi Marcel itu semua hanya bualan Tania saja yang ingin menjauhkan Sela dari Ifan dan ingin memiliki Ifan.


"Lebih baik kamu, cari kaca yang besar terlebih dahulu, kemudian kamu pakai kaca itu untuk menilai dirimu sendiri"


"Jadi, maksud kamu aku berbohong dengan semua perkataanku"


"Sudahlah, tidak perlu diperpanjang lagi"

__ADS_1


"Harusnya kamu senang mendengar semua berita yang aku sampaikan kepadamu, dengan begitu jika Ifan menjadi milikku, maka dengan mudah Sela akan menjadi milikmu kembali"


"Tapi, saat ini aku tidak peduli dengan masalah cewek"


__ADS_2