
Ifan sudah menyiapkan makan malam untuk timnya yang sudah bekerja seharian memulihkan sistem komputerisasi di perusahaannya yang mendapatkan teror dari pihak lawan.
"Fan, minta beberapa orang untuk menurunkan makanan yang ada di mobil" Perintah Ifan setelah memasuki kantornya
"Siap" Fandi segera memanggil beberapa orang sesuai perintah Ifan, mengeluarkan semua barang yang ada di dalam mobil dan meletakkan pada sebuah meja besar yang berada di sudut perusahaan
Melihat banyaknya makanan enak, semua tim bergembira, melahap semua makanan tanpa tersisa karena sudah seharian mereka tidak sempat memasukkan sebutir nasi pun kedalam mulut mereka.
"Setelah makan, lebih baik kalian istirahat dahulu, dan kita lanjutkan pencarian pengirimnya besok pagi, yang terpenting semua sistem kita saat ini dalam kondisi aman dan sudah terproteksi ganda" Ifan tidak ingin membuat karyawan yang sudah bekerja dengan loyal dengannya akhirnya merasa sakit dan tertekan.
Tekanan hari ini sudah sangat menyita waktu istirahat dan makan mereka, kalau sampai diforair lebih lama takutnya tidak maksimal lagi dalam bekerja.
"Terima kasih bos" Jawab mereka serentak yang pastinya gembira
Setelah semua karyawannya pulang, Ifan dan Fandi memasuki ruangannya. Mencoba mencari pengirim masalah. Hampir tengah malam mereka tanpa mengeluarkan sepatau katapun, menyatukan kepingan-kepingan yang sudah ditemukan oleh tim siang ini.
"Sepertinya aku sudah menemukan siapa yang berada di balik semua kekacauan yang terjadi pada sistem kita" Fandi bisa membaca setengah dari informasi yang telah digabungkan
"Siapa?" Saat ini Ifan juga menemukan jawaban, namun dia belum pasti dengan temuannya
"Broto, dia adalah yang berada di balik semuanya"
"Sudah aku duga, tua bangka itu akan mengibarkan bendera perang denganku setelah mengetahui siapa diriku"
Setelah mengetahui dalangnya, Ifan dan Fandi memutuskan pulang untuk beristirahat dan melepaskan lelah yang sudah menumpuk.
Tujuan mereka kali ini adalah apartemen milik Ifan yang kini tinggal dihuni oleh Ifan seorang sejak Sela meninggalkan Ifan.
__ADS_1
****
Sebuah ruangan pribadi sudah tidak bisa diselamatkan dari amarah Broto, Kata-kata dan juga keramik hiasan semuanya pecah berhamburan di sudut-sudut ruangan, tangan Broto terluka dan mengeluarkan banyak darah, namun sepertinya dia sudah mati rasa dengan semua yang dialaminya kali ini. Bukan biaya yang kecil telah keluar hanya untuk mengacaukan perusahaan pesaingnya, seorang anak muda yang sangat tangguh dan disegani oleh para pengusaha dipenjuru kota.
"Harus dengan cara apalagi aku menghancurkan keluargamu Trisna, aku tidak ingin kau bahagia dengan keluargamu saat ini setelah kau membuatku kecewa beberapa tahun yang lalu"
Flashback
"Maaf Mas, aku tidak bisa menerima pinangamu, karena aku sudah memiliki calon yang sangat mencintaiku" Kalimat yang sangat menyakitkan bagi Broto waktu itu, kalimat penolakan yang terang-terangan dikemukakan di depan umum saat perayaan hari ulang tahun Trisna
Saat itu orang tua Trisna dan juga Broto sering bekerja sama untuk menaklukkan pesaing mereka. Membuat Trisna dan Broto semakin dekat, karena paras Trisna yang sangat menawan menjadi salah satu primadona bagi banyak pemuda saat itu, termasuk Broto yang sangat tergila-gila dan bermaksud untuk meminangnya.
Karena penolakan Trisna tersebut, setelah mereka berumah tanggal dan memiliki usaha yang berkembang pesat dengan ayah Ifan, Broto mengacaukan segalanya, karena kemampuan berbisnis ayah Ifan yang belum mumpuni akhirnya serangan yang dilakukan Broto berhasil dan membuat Ifan mengalami kebangkrutan. Untuk memperbaiki bisnisnya maka Ifan diasuh oleh Neneknya agar tidak diketahui oleh Broto, jika Trisna memiliki anak laki-laki.
Flashback Off
"Bukannya kamu tahu, jika perusahaan kita saat ini sedang berkembang pesat, serta banyak dari kliennya beralih kepada kita" Ifan tidak tahu pasti alasan yang sebenarnya adalah sang ibu, kalau hanya klien yang lari ke perusahaannya hanyalah sebagian saja
Suara bel pintu terdengar beberapa kali, Trisna yang mendengar kabar jika putranya diserang oleh perusahaan Broto bergegas mendatangi putranya dan memberikan dukungan kepadanya.
"Bagaimana dengan perusahaan Nak?" Dengan wajah cemas Trisna bertanya kepada Ifan setelah memasuki apartemen putranya
"Sudah teratasi Ma, untungnya tim Ifan bekerja dengan cepat, saat ini sistem telah dibuatkan pengaman ganda untuk meminimalisir adanya serangan lagi" Ifan menjelaskan dengan tenang dan tidak ingin membuat mamanya ikut memikirkannya
"Apakah kamu tidak akan bilang, siapa yang telah berbuat jahat kepadamu?" Meskipun Trisna tahu siapa dibalik semuanya, namun dia memilih menunggu anaknya bercerita sendiri, dia tidak ingin mengatakan alasan yang sebenarnya mengapa Ifan menjadi sasaran Broto
"Mama, mama tidak usah ikut memikirkan semua ini. Ifan bisa menyelesaikannya tanpa harus mama ikut campur, anak mama saat ini sudah dewasa"
__ADS_1
Karena Ifan sudah menganggapnya enteng dan tidak membutuhkan bantuannya, maka malam ini mereka hanya makan malam dan bersenda gurau saja. Trisna juga tidak mau ikut campur perihal masalahnya dengan Sela.
****
Bu Marni selalu terjaga saat suara yang mencurigakan terdengar dari kamar kos Sela, dia tidak mau mengulangi kesalahannya. Jika saat ini dia sampai teledor maka semuanya akan berakhir, sesuai dengan perkataan Ifan tempo hari.
Seperti malam ini, terdengar teriakan Sela yang membuat kaget seluruh penghuni kos. Mereka berlarian menuju ke depan pintu kos milik Sela, termasuk Bu Marni. Karena tidak ada akses untuk masuk selain pintu depan, dan tidak ada tanda-tanda orang akan membuka, maka terpaksa Bu Marni mendobraknya dengan sekuat tenaga, dia tidak memikirkan efek dari dobrakannya membuat pintu rusak parah.
"Bu Marni hebat" Ujar salah seorang penghuni kos yang menyaksikan langsung kekuatan Bu Marni
"Heran dengan Bu Marni, saudara bukan, anak juga bukan tetapi setiap terjadi sesuatu dengan Mbak Sela maka dia akan membantunya" Salah seorang penghuni lain berkomentar
Bu Marni tidak lagi menghiraukan semua komentar yang tidak penting dari penghuni lagi, yang terpenting saat ini baginya adalah menemukan Sela agar tidak mendapatkan peringatan dari Ifan.
Kalau sampai terlambat menemukan maka, keluarganya sudah pasti terkena imbas.
"Mbak Sela, Mbak Sela ada di mana?" Beberapa kali Bu Marni berteriak memanggil nama Sela sambil berjalan menyusuri setiap sudut kamar kos yang tidak seberapa luasnya
Di dalam kamar Mandi tidak ditemukan sosok Sela, Bu Marni segera berlari ke tempat tidur, dan di samping tempat tidur terlihat sepasang kaki yang bergerak pelan.
"Bu Marni... tolong Sela Bu... " Sela lirih meminta tolong
"Masya Allah Mbak Sela, mengapa sampai begini?"
"Tidak apa-apa Bu, Sela hanya terjatuh saat akan turun dari tempat tidur"
"Bagaimana tidak apa-apa, teriak sangat kencang membuat penghuni lain ikut berhamburan" Bu Marni sangat takut setelah mendapati Sela yang tengah duduk tidak berdaya menahan rasa sakit
__ADS_1
Bu Marni meminta bantuan untuk memanggil mobil bantuan dan bergegas membawa Sela ke rumah sakit yang sudah di sediakan oleh Ifan, dengan dokter yang sudah di bayar oleh Ifan sebelumnya dan harus selalu siap kapanpun Sela membutuhkan bantuan.