BENIH TANPA CINTA

BENIH TANPA CINTA
16


__ADS_3

Pemilik Kos mengangguk-anggukkan kepalanya dengan telepon genggam milik Ifan masih menempel di telinganya mendengarkan penjelasan dari Trisna. Dia mulai mengerti apa yang terjadi saat ini dan mengembalikan telepon genggam itu kepada Ifan.


"Mas, mengapa tidak bilang dari awal kalau mas ini anaknya mbak Trisna, kalau saya tahu tidak mungkin akan terjadi keributan yang tidak berguna seperti ini" Pemilik Kos menepuk pundak Ifan beberapa kali


"Ibu kenal dengan mama saya?" Ifan tidak percaya jika orang dihadapannya ini mengenal mamanya


"Pasti kenal..... Saya bisa memiliki tempat kos ini juga berkat bantuan mbak Trisna yang dengan suka rela memberikan bangunan yang awalnya akan dibuat tempat tinggal karyawannya yang memiliki rumah jauh dari perusahaan, namun karena mendapatkan tanah yang lebih dekat dengan perusahaan maka dialihkan ke sana. Dan bangunan ini di serahkan kepada saya untuk dilanjutkan pembangunannya, akhirnya saya buat untuk tempat kos. Lumayan sebagaimana penghasilan tiap bulan untuk keperluan sehari-hari" Pemilik Kos menjelaskan dari mana dia mengenal Trisna


"Oh.... " Ifan dan Sela berucap bersama


"Sudah, sekarang kalian bubar... semuanya sudah jelas mereka memang sudah sah" Pemiliknkoe membubarkan kerumunan


"Jadi, kamar yang itu bisa kami tempati selamanya Bu?" Ifan bertanya penuh harap


"Boleh, asalkan harus bayar setiap bulan"


"Beres Bu... " Ifan mengacungkan kedua jempolnya sebagai tanda jika dia menerima kesepakatan yang diajukan pemilik kos


"Bercanda Mas.... Lagi pula tempat ini milik mamanya Mas, jadi kalian bebas mau menempati kamar yang mana dan sampai kapanpun tidak perlu membayarnya sama sekali"


"Wah... Terima kasih banyak bu.... " Ifan berterima kasih karena sudah diberikan sebuah kamar kos yang disenangi Sela


"Jadi, Mas Ifan berencana selamanya tinggal di sini?" Sela bertanya setelah pemilik kos pergi meninggalkan mereka


"Bukannya kamu yang ingin tinggal di sini, dan tidak ingin meninggalkan tempat ini? Jadi tidak ada masalah jika kamar ini akan menjadi tempat persinggahan kita juga"

__ADS_1


"Oh... kirain apartemennya mau di jual dan memilih tinggal di tempat kos kecil ini"


"Lebih baik sekarang kita kembali ke apartemen saja, Lebih nyaman dan bebas di sana. Pokoknyaa mulai saat ini kita hanya sesekali saja ke sini"


"Tidak bisa dong, Sela harus sering datang ke sini"


"Untuk apa?"


"Kalau Sela tidak datang ke sini, siapa yang akan membersihkan tempat ini, aku tidak ingin jika suatu saat aku kembali ke sini tempat ini kotor. Aku mau tempat ini kapanpun aku pindah ke sini lagi tetap dalam keadaan bersih"


"Kalau hanya kebersihan, itu mudah S*yang.... biar nanti aku atur orang untuk membersihkan kamar ini setiap hari"


Sela dan Ifan meninggalkan tempat kos dan menguncinya. Mereka memilih kembali ke apartemen milik Ifan. Sela hanya mengikuti arus air saat ini, mengikuti perjalanan hidupnya sambil memikirkan bisnis yang akan dia mulai.


Memilih meja yang cukup menyendiri namun bukan meja VIP, Sela memilih tempat yang masih bisa berkomunikasi dengan orang lain. Menikmati makanan yang sudah tersaji dalam keheningan dan fikiran masing-masing.


****


Setelah mendapatkan beberapa nasehat dari orang tuanya, Marcel yang merasa diintimidasi ayahnya memilih untuk pergi menenangkan pikiran mengendarai mobil tanpa ada tujuan pasti. Marcel hanya mengikuti tangan dan kakinya mengarahkan kemana mobilnya berjalan menyusuri jalanan.


Merasakan tubuhnya yang sudah meminta asupan, Marcel memilih menepikan mobilnya ke sebuah tempat makan yang kebetulan dia lewati dan cukup ramai pengunjung, namun Dia belum pernah memasukinya karena tempat makan ini termasuk harganya yang cukup mahal, meskipun orang tua Marcel pemilik perusahaan tetapi selama ini uang sakunya tidak cukup jika untuk makan di sini. Kali ini Marcel tidak memikirkan seberapa banyak uang yang akan dia keluarkan untuk sekali makan ini, dia akan menggunakan kartu khusus tabungannya jika nanti kartu bulanannya tidak cukup.


Di sambut oleh seorang resepsionis dan diarahkan ke sebuah meja yang masih kosong, Marcel mengikuti langkah pegawai itu dengan matanya yang masih tertuju pada ponsel yang ada di tangannya, membaca beberapa pesan yang masuk ke dalam aplikasi yang banyak penggunanya, serta membalasnya jika sekiranya memang mendesak dan harus segera di jalan, dan mengabaikan pesan-pesan yang berasal dari ayahnya.


Mengambil sebuah kursi dan segera duduk di atasnya serta memilih beberapa menu makan siang, Marcel kembali sibuk dengan telepon genggamnya. Telinganya mendengar sayup-sayup suara yang sangat dia kenal, Marcel mulai meletakkan teleponnya dan memperhatikan beberapa pengunjung yang duduk berdekatan dengannya.

__ADS_1


Matanya tertuju pada seorang yang duduk membelakanginya, dia hafal betul bentuk postur tubuh dan rambut yang selalu terurai panjang dan tidak pernah diikat. Namun dirinya menolak mempercayai penglihatannya, karena saat ini dia pasti tidak punya uang untuk makan ditempat seperti ini. Jangankan makan di tempat mahal, hanya untuk makan di warung saja pastinsngat sulit karena sudah tidak memiliki fasilitas dari orang tuanya.


"Tidak mungkin dia, bukannya semua fasilitasnya sudah ditarik oleh Om Prabu" Marcel berbicara sendiri


"Maaf Mas, apanya yang tidak mungkin?" Seorang pramusaji mendengar ucapan Marcel


"Bukan anda Mbak, tetapi ada seorang yang sedang duduk di sana, mirip sekali dengan pacar saja, jadi saya berfikir tidak mungkin"


"Oh.... Mereka pelanggan di sini, tetapi yang perempuan baru kali ini datang ke sini"


"Memangnya siapa Lelaki itu mbak?" Marcel penasaran siapa lelaki itu


"Dia anak seorang pengusaha terkenal di kota ini, bahkan dia juga sudah memiliki usaha sendiri dan memiliki beberapa bidang usaha. Dia juga di gadang-gadang sebagai satu-satunya pewaris dari orang tuanya dan juga dari neneknya. Beruntung banget cewek itu bisa dekat dengannya, bahkan sejak tadi lelaki itu sangat perhatian sekali dengan wanita tersebut" Pramusaji itu menjelaskan dengan tatapan penuh iri


"Apakah saya bisa minta tolong?" Marcel mengajukan sebuah pertanyaan


"Maksudnya?" Pramusaji tersebut bingung dengan permintaan Marcel


"Iya, saya cuma meminta tolong agar wanita itu bisa menoleh ke arah sini, karena saya butuh kepastian, apakah dia benar teman saya atau bukan" Marcel menjelaskan maksudnya meminta tolong


"Saya akan tetap membelakangi dia, namun akan mengarahkan kamera telepon genggam saya supaya saya bisa mengambil gambarnya" Lanjut Marcel menjelaskan


"Oh, tapi saya tidak berani mas, maaf ya... lebih baik mas mita tolong orang lain saja" Pramugari itu menolak


"Silakan di terima" Marcel memberikan beberapa lembar kertas berwarna merah yang ada di dompetnya dan menyerahkan kepada pramugari itu

__ADS_1


__ADS_2