
Dalam hati Ifan ada rasa jengkel dan marah, namun tidak akan pernah membuatnya jengkel kepada Sela dan calon anaknya yang kini masih berkembang di dalam perut Sela, menurut orang-orang apapun yang diminta wanita hamil, maka harus dituruti.
Ifan menghubungi Fandi dan memintanya untuk segera ke rumah sakit untuk membantunya.
"Tumben, kamu butuh bantuanku"
"Kalau banyak pertanyaan lebih baik sekarang juga kamu keluar dari perusahaan" Ifan tidak lagi memberi kesempatan bagi Fandi untuk membuat alasan lagi
"Apaan itu, mainnya memberi ancaman?"
"Apa tugas terberatmu selama bekerja denganku?" Ifan mencoba menggiring opini terlebih dahulu sebelum ke inti permasalahan Ifan yaitu menghabiskan berbagai macam makanan yang sudah dia beli
Fandi mengingat jika semua pekerjaan yang dia lakukan tidak ada yang begitu menyita waktunya selama berhari-hari hanya untuk satu pekerjaan saja, semua dia libas dalam waktu singkat.
"Karena kamu belum pernah mendapatkan pekerjaan yang berat, mungkin saat ini waktu yang tepat untuk memberimu pekerjaan berat" Ifan tersenyum licik
Fandi menjadi was-was ketika melihat senyum Ifan yang sangat misterius tidak seperti biasa. Menghadap ke arah Sela yang kini sedang memperhatikan perdebatan antara dua cowok jago bisnis, Fandi meminta penjelasan dengan menggunakan bahasa matanya. Namun, Sela hanya mengedikkan bahunya seolah tidak tahu. Senyum Sela tidak kalah misterius dengan senyuman yang soperlihatkan Ifan sebelumnya.
"Dasar, suami istri sama saja" Gerutunya
Ifan mulai mengeluarkan semua makanan serba pedas ke atas meja. Tanpa basa-basi lagi Ifan menyodorkan sebagian makanan itu ke depan Fandi, dan membuat Fandi membelalakkan matanya...
"Untuk apa? Mau dibagi-bagi ke tetangga?" Bukan tanpa alasan Fandi bertanya seperti itu, makanan yang masih utuh dalam pembungkusnya dalam jumlah yang tidak sedikit dengan berbagai macam varian makanan pastinya dia berasumsi tugasnya kali ini membagikan semua makanan ini kepada orang yang ditemui
Ifan menggelengkan kepalanya dan melihat ke arah Sela sebagai isyarat jawaban atas pertanyaan Fandi. Melihat hal itu, Fandi yang dasarnya memiliki kepandaiannya serta kepekaan yang mumpuni sangat cepat menemukan jawabannya.
"Tidak bisa, kamu tahu sendiri jika perut aku spai kemasukan makanan pedas?" Fandi yang tidak tahan dengan makanan pedas selalu menghindarinya
"Tidak ada tidak bisa, semua makanan ini harus kita habiskan di depan dia" Bisiknya karena takut kedengaran sang ratu
__ADS_1
"Harus banget di sini dan juga harus kita yang menghabiskan?"
"Yang terpenting harus habis di hadapannya, tidak boleh dibawa ke luar ruangan ini"
Fandi menoy*r kepala Ifan beberapa kali dan mentertawakan sahabatnya itu, sejak kapan seorang pebisnis terkenal kehilangan cara untuk menyelesaikan masalah.
"Hati-hati, ini kepala setiap tahun dizakati" Bentak Ifan
"Lalu, otakmu yang pandai dalam berbisnis, sekarang tumpul?" Kata Fandi mengejek
"Sini, biar saya beri jalan untuk masalahmu kali ini, karena aku tidak bisa memakan ini semua, lebih baik kamu panggil orang-orang di luar itu, suruh mereka masuk dan menghabiskan makanan ini, yang terpenting bukan siapa yang menghabiskan makanan ini, tetapi intinya makanan ini harus habis di hadapannya"
Senyum cerah kini menghiasi wajah Ifan, sahabat yang dia panggil pada kenyataannya memang memberikan solusi yang sangat bisa dihandalkan.
Sela puas dengan cara mereka berdua menyelesaikan masalah, karena niat awal Sela sebenarnya adalah untuk berbagi bagi orang lain.
Marcel harus mengikuti perintah papanya untuk belajar bekerja di perusahaan keluarga, mempelajari seluk-beluk perusahaan dan juga yang lainnya, namun karena selama ini dia jarang menginjakkan kakinya di sana untuk bekerja, kali ini dia sangat kewalahan mengikuti jadwal Broto yang sangat sibuk, bahkan satu kegiatan belum selesai sudah disiapkan kegiatan lain.
Dari pagi hingga sore menjelang begitulah kegiatan Marcel. Sampai di kantor hari sudah beranjak malam, dia merebahkan di atas sofa yang berada di dalam ruangannya yang sengaja sudah disiapkan oleh papanya. Menghilangkan rasa pegal dan beberapa kali menguap.
"Sunggu hidup ini nyaman jika rebahan seperti ini ada uang yang mengalir ke rekening" Gumam Marcel sendirian sambil memejamkan matanya
Dari arah pintu, Broto berjalan menghampiri sofa yang ditempati Marcel, dia sempat mendengar gumaman yang dilontarkan sang putra.
"Memangnya ada uang mengalir ke rekening tanpa harus bekerja keras?" Broto menghampiri sang putra dengan beberapa berkas yang harus diselesaikan malam ini juga
"Bukannya selama ini memang uang selalu mengalir ke rekening Marcel tanpa harus bekerja Pa?" Marcel masih membela diri
"Tapi Papa yang membanting tulang, mulai saat ini uang yang masuk ke rekeningmu akan dihitung sesuai dengan kerjamu di perusahaan ini, semakin bagus pekerjaanmu, semakin banyak uang yang akan masuk ke rekeningmu, dan berlaku kebalikannya"
__ADS_1
Marcel hanya bisa menerima semua keputusan papanya, karena selama ini apa yang sudah diucapkan oleh Broto maka tidak ada yang bisa merupakan sekalipun itu mamanya Marcel dahulu, yang kini sudah hidup tenang di surga.
Broto memberikan arahan dalam menyelesaikan berkas-berkas dihadapan mereka, Marcel masih belum semangat tidak memegang satu kertas sekalipun karena badannya yang sudah sangat lelah. Untuk saat ini Broto masih memberikan toleransi kepadanya.
"Mulai minggu depan kamunhatua bisa menyelesaikan semua ini tanpa bantuan Papa" Broto meninggalkan Marcel setelah menyelesaikan memeriksa berkas-berkas yang dia bawa tadi
"Ada satu pekerjaan yang harus kamu tangani dan jangan sampai ada satu orang mengetahui jika kamu adalah anak dari Broto" Broto kembali memberikan perintah sebelum melangkahkaj kakinya keluar pintu
***
Di perusahaan Ifan semua pekerjaan hampir selesai, hari ini Ifan harus datang ke kantor sedikit terlambat karena drama yang dibuat Sela, namun juga memberikan kebahagiaan bagi Ifan karena Sela sudah keluar dari rumah sakit dan saat ini pulang ke apartemennya.
Senyum Ifan kembali menghiasi wajahnya yang membuat kebanyakan karyawan wanitanya terpesona dengan ketampanannya. Termasuk Tania yang kini mulai merias diri dan mencari celah untuk bisa selalu berdekatan dengan Ifan.
"Bos, ini berkas laporan yang kemarin kami buat dan kami mohon untuk diperiksa" Tania menyerahkan kepada Ifan dengan memperlihatkan kecentilannya, beberapa kali Tania berusaha meny*ntuh tangan Ifan namun diketahui oleh Ifan
"Letakkan dimeja, dan akan segera saya periksa, setelah selesai biar Fandi yang akan mengantar ke mejamu, dan jangan masuk ke ruangan ini seenakmu" Ifan mengetahui maksud Tania yang beberapa kali diketahui ingin meny*ntuhnya dan kini memberikan peringatan kepada Tania
Tania keluar dari ruangan Ifan dengan wajah cemberut, karena mulai saat ini dia sudah tidak bisa mengakses ruangan Ifan tanpa ijin darinya, hal itu membuatnya merasa sudah tidak ada celah lagi untuk mendapatkan perhatian Ifan.
"Sepertinya anak baru itu ada rasa denganmu" Fandi juga memperhatikan interaksi antara Tania dengan Ifan yang baru terjadi di hadapannya
"Masa bodoh, di hati ini hanya ada Sela, tidak ada yang lain"
Ifan menceritakan kepada Fandi jika sebenarnya Tania adalah sahabat Sela, beberapa hari yang lalu Tania menjelek-jelekkan Sela di hadapannya secara langsung.
"Wah, mencari mati dia" Hanya itu yang keluar dari mulut Fandi mendengar semua cerita Ifan
"Biarkan dia tahu sendiri siapa Sela saat ini"
__ADS_1