BENIH TANPA CINTA

BENIH TANPA CINTA
31


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Sarah meluapkan kekesalannya karena mendapat perlakuan yang kurang menyenangkan dari teman-teman sosialitanya setelah melihat keberadaan Sela di tempat yang sama dengan dirinya.


Kekesalan itu dia luapkan kepada suaminya yang saat itu juga sedang sibuk bekerja, setelah menyelesaikan pertemuan dengan kliennya.


"Pa, anak itu sudah membuat malu mama meskipun sudah keluar dari rumah ini, sebenarnya apa maunya sih anak itu"


"Maksud mama siapa?"


"Siapa lagi kalau bukan Sela"


"Bukannya dia anak mama juga, mengapa mama sangat kesal terhadapnya"


"Karena dia tidak mau menuruti mama, dan memilih keluar dari rumah ini, hingga Marcel menghentikan semua fasilitas untuk mama"


Tidak mau memperpanjang perdebatan dengan istrinya Prabu memilih ke kamar dan merebahkan diri di sana, menutup mata dan telinganya dengan rapat. Semua keluhan dari istrinya tidak dia hiraukan.


Sarah melakukan panggilan dengan Marcel, dia mengeluh kepadanya dan meminta Marcel untuk segera membawa pulang Sela dan memaksanya tetap berhubungan dengannya. Marcel merasa sangat sulit untuk mendapatkan kembali Sela, karena saat ini Sela berada di tangan seorang pengusaha muda kaya raya dan berpengaruh di kota ini.


"Tante, bukannya Marcel tidak mau menuruti. Tetapi Marcel pesimis bisa mengajak Sela untuk kembali"


"Apa susahnya memaksanya untuk pulang bersamamu"


"Asal tante tahu saat ini Sela berada di tangan pengusaha muda kaya raya di kota ini. Ifan uang kita cari adalah pemilik perusahaan yang bekerjasama dengan beberapa perusahaan asing dan saat ini sedang menyelesaikan mega proyek"


Sarah terkejut mendengar penjelasan Marcel, meskipun sebelumnya sudah mendengar dari Tania, namun tidak menyangka jika Ifan adalah pemilik perusahaan terbesar di kota ini, dia mengira Tania hanya membual tentang Ifan.

__ADS_1


****


Sela menjalani hidupnya seorang diri dengan uang yang dia peroleh dari menerima desain logo secara online, meskipun hasilnya tidak terlalu besar namun bisa untuk menopang biaya hidupnya dan juga janin yang ada di rahimnya.


Kehidupan yang berat di awal trimester pertama dialami oleh Sela, hidup sendiri tanpa ada yang membantu saat dia mengalami muntah mual di waktu pagi, serta rasa malas untuk melakukan apapun dia alami dengan kuat. Untuk urusan makan Sela memilih untuk memesan secara online saat tidak ingin memasak, atau kadang hanya makan mie instan juga buah-buahan serta roti yang dia beli dalam jumlah yang cukup banyak sebagai persediaan ketika tidak ingin keluar mencari makan.


Ifan tidak tinggal diam membiarkan Sela hidup sendiri tanpa ada yang mengawasi, apalagi saat ini adalah saat terberat bagi wanita hamil yang belum perpengalaman. Ifan mengirimkan seseorang untuk mengawasi Sela dan memberikan bantuan saat Sela membutuhkan. Dia ditempatkan tepat di samping kamar kos Sela. Dan harus memberikan laporan kepada Ifan setiap hari.


Seperti sore ini, sejak pagi Sela tidak terlihat keluar dari kamar kosnya. Wanita tengah baya yang bernama Marni segera melaporkan kepada Ifan.


"Mbak, sekarang coba kamu ketuk pintunya dan lihat kondisinya, jika terjadi sesuatu pada Sela segera cari bantuan" Ifan menginstruksikan kepada Marni


"Baik Pak, segera saya akan melapor kepada bapak"


Marni mengetuk pintu kamar Sela yang tertutup rapat. Berulang kali diketuknya pintu itu namun tidak ada sahutan dari dalam. Butuh waktu sepuluh menit hanya untuk mendengarkan sebuah jawaban yang meluncur dari dalam.


"Apakah mbak Sela sakit? Karena sejak pagi hingga sore ini Mbak Sela tidak terlihat keluar kamar, kami khawatir jika terjadi sesuatu pada mbak Sela"


"Terima kasih atas perhatian ibu Marni, tetapi saya tidak apa-apa hanya sejak pagi saya harus menyelesaikan desain saya dan ketiduran setelahnya. Maaf sudah merepotkan Bu Marni" Pekerjaan Sela yang sudah harus dikirim hari ini membuat Sela harus lembur menyelesaikannya kemudian tertidur karena kelelahan


"Apakah mbak Sela sudah makan, saya lihat sejak pagi tidak ada ojek online yang mengantar makanan untuk mbak Sela?"


"Sudah Bu, tadi sudah minum s*s*, makan roti dan buah yang saya beli beberapa hari yang lalu"


Percakapan antara Sela dan Bu Marni berakhir ketika ada seorang bapak paruh baya berseragam hijau menghampiri mereka dan menyerahkan pesanan milik Sela.

__ADS_1


Bu Marni kembali ke kamarnya dan segera melaporkan keadaan Sela sore ini.


"Terima kasih Bu untuk hari ini, saya berharap ibu masih mau mengawasi Sela untuk saya, untuk imbalannya akan saya beri dalam nominal yang lumayan"


"Baik Pak Ifan, saya akan selalu siaga menjaga mbak Sela, Terima kasih atas semua yang sudah bapak berikan kepada keluarga kami, mungkin saat inilah waktunya kami membalas kebaikan Pak Ifan"


Bu Marni adalah salah satu janda yang menjadi tanggungan perusahaan Ifan dalam beberapa tahun terakhir. Setiap bulan mereka mendapatkan sembako dan juga uang dalam nominal yang lebih dari cukup untuk menghidupinya beserta dia orang anak yang masih bersekolah.


****


"Mengapa Om Prabi bisa bekerja sama dengan perusahaan lain selain perusahaan Papa?" Broto yang sedang duduk santai menyesap r*k*k ditemani secangkir kopi di sore hari menghadap matahari yang mulai tenggelam mendapat pertanyaan dari sang anak yang baru saja pulang dari luar


"Cel, setiap perusahaan tidak hanya bekerja sama dengan satu perusahaan saja, begitupun Om Prabu wajar jika bekerja sama dengan perusahaan lain untuk mengembangkan usahanya, kalau hanya bekerja sama dengan perusahaan papa makan tidak akan ada jaminan kelangsungan hidup perusahaan jika suatu saat perusahaan papa kolaps"


"Tapi Pa..."


"Tidak ada kata tapi, jangan mencampur adukkan urusan pribadimu dengan urusan perusahaan yang sudah berjalan dengan baik, jika itu terjadi bukan perusahaan kita yang berkembang melainkan sebaliknya, bisa jadi akan bangkrut"


Mendapatkan jawaban dari Papanya, Marcel merasa papanya kini sudah tidak peduli dengan hidupnya. Dia berfikir jika saat ini uang lebih berharga dibandingkan kebahagiaan dirinya.


"Oh iya, lebih baik kamu fokus mencari pengalaman untuk memimpin perusahaan, sebelum papa tidak sanggup lagi memimpinnya, dan juga tinggalkan p*r*mpuan-p*r*mpuan yang memanfaatkan harta yang kamu minta dari papa"


Broto tahu jika selama ini Marcel banyak menghabiskan uangnya hanya untuk kesenangannya bersama per*mpuan tidak benar dan hanya memanfaatkan uang Marcel.


Mendapat pukulan telak dari papanya, Marcel kembali meninggalkan rumahnya dan pergi tanpa tujuan dengan mengendarai sepeda motornya yang masih terparkir di depan gerbang.

__ADS_1


Menyusuri jalanan yang padat karena bersamaan dengan para pekerja pulang dari kantor, apalagi ditambah ada sebuah insiden kecelakaan di depan sana membuat emosi Marcel tidak dapan dia kendalikan dan dia mengeluarkan p*st*l yang ada di sakunya dan men*mbakkan ke arah atas untuk memecah kemacetan, namun hal itu malah menimbulkan sesuatu yang tidak baik bagi dirinya.


__ADS_2