
"Fan, segera ke ruanganku" Ifan memanggil Fandi melalui sambungan telepon.
"Siap bos" Mendengar nada bicara Ifan yang sudah berubah dari pada pagi tadi, Fandi merasa ada yang tidak beres saat ini. Keluar dari ruangannya dengan membawa beberapa map yang harus ditandatangani oleh Ifan segera
Belum juga sampai ke ruangan Ifan, Dia dikagetkan dengan suara Sita yang sedang bertelepon dengan seseorang, dan mengatakan jika saat ini keadaannya sangat kacau. Dari percakapan yang Fandi dengar dari Sita, dia bisa menyimpulkan jika perubahan Ifan dipastikan berasal dari Sita.
"Hai Kak.... " Fandi yang berdiri tepat di depan pintu ruangan Sita terkejut mendengar sapaan dari Sita
"Eh.. Hai... Apakah kamu membutuhkan sesuatu?" Fandi berbasa-basi
"Tidak Kak. Apakah Kakak mau pergi ke ruangannya Kak Ifan?"
"Iya" Jawab Fandi dengan singkat
"Boleh..... tidak....biar saya saja yang membawa ke tempat Kak Ifan?"
"Bukannya tidak boleh, tetapi ini adalah dokumen penting perusahaan yang harus saya antar sendiri ke ruangan Pak Ifan"
Sita semakin kesal dengan jawaban yang dia peroleh, harapannya untuk bisa masuk lagi ke ruangan Ifan dan minta maaf pupus sudah. Kembali ke ruangannya adalah pilihan yang tepat.
Fandi berjalan cepat agar segera sampai ke ruangan Ifan. Napasnya terlihat jelas semakin memburu.
"Dasar gadis gila" Fandi mengubah sejadi-jadinya setelah melihat tingkah laku Sita yang terkesan dibuat-buat dan manja
"Bicara apa kamu, memangnya tidak ada kalimat yang lebih bagus?" Ifan tidak suka saat mendengar umpatan Fandi
"Tidak ada perkataan yang baik buat dirinya" Fandi jijik juga tingkah Sita
"Awas, jangan bilang begitu... Siapa tahu jodoh"
__ADS_1
Mereka tidak berdebat lagi, Fandi menyerahkan map yang harus diperiksa oleh Ifan. Membicarakan pekerjaan yang sudah mencapai puncak pengerjaan. Hingga melupakan tujuan Ifan memanggil Fandi ke ruangannya.
Seharian Ifan tidak keluar dari ruangannya, gosip semakin menyebar di kalangan karyawannya. Mereka mengira bos mereka tidak keluar karena sekarang sudah ada yang menemani setiap saat tanpa harus meninggalkan ruangannya.
Tania semakin geram, seharian tidak bisa melihat orang yang sangat dia kagumi dan menarik perhatiannya, selama ini dia belum pernah melihat seorang pemuda tampan, pekerja keras dan juga sudah memiliki segalanya tanpa harus meminta orang tua.
"Betah banget si bos tidak keluar seharian" seorang teman Tania yang belum melihat bos mereka sejak pagi bermuka masam
"Jelas betah, orang ditunggu sama pawangnya" Jawab karyawan lain
"Memang betul ya, dia itu pacar Bos Ifan?" Tania yang sudah gatal ingin mengetahui siapa sebenarnya wanita yang baru masuk ke perusahaan tapi sudah mendapatkan fasilitas kelas atas
"Kalau bukan pacar mana mungkin disediakan ruangan khusus"
"Tapi aku tidak percaya jika wanita itu pacarnya" Tania masih belum percaya jika belum melihat sendiri kebersamaan Ifan dengan wanita itu
"Eh, Pak Fandi. Maaf Pak cuma lewat saja kok" Tania berlari meninggalkan Fandi yang masih shock melihat pemandangan di depannya
"Mudah-mudahan tidak ketahuan" Tania bergumam sendiri
Salah satu teman satu divisi Tania yang mengetahui niat Tania untuk mengintip ruangan Ifan ikutan penasaran.
"Bagaimana, benarkan gosip yang beredar?"
"Tidak ada seorangpun yang berada di ruangan itu selain pak Ifan. Bahkan Pak Fandi juga di luar. Jadi sudah saya pastikan wanita itu bukan Pacar Pak Ifan" Tania bercerita dengan semangat
"Wah, masih ada kesempatan dong" Sambar karyawan lain
Setelah mengetahui jika gadis itu bukan kekasih pemilik perusahaan, mereka semakin semangat dalam bekerja untuk menarik perhatian dari Ifan.
__ADS_1
Fandi memperhatikan setiap peningkatan kinerja setiap karyawan, entah dari mana kekuatan itu berasal setiap karyawan terutama yang perempuan lebih giat dalam bekerja. Melihat peristiwa hari ini Fandi hanya bisa tersenyum, meskipun dia sebagai atasan bukan tidak mungkin jika dia juga sudah mendengar gosip dikalangan karyawan. Banyak gadis muda yang terobsesi dengan Ifan. Hal itu memberikan dampak positif bagi kenirja mereka, meskipun sebenarnya juga sebuah bom waktu jika mereka mengetahui status Ifan.
"Dasar, gadis sekarang, kerja semangat hanya untuk menarik perhatian pria" Fandi tersenyum menggelengkan kepalanya
"Ayo pulang" Suara Ifan mengagetkan Fandi yang sedang fokus memperhatikan seorang karyawannya yang masih muda namun tidak terpengaruh dengan setiap ucapan teman-temannya, dia hanya fokus dengan pekerjaannya dan juga pulang sesuai dengan waktu yang ditetapkan
Fandi mengikuti langkah Ifan yang berjalan cepat di depannya. Tanpa ada menoleh sedikitpun ke arah kanan dan kiri. Yang ada difikiran Ifan hanya rumah yang menjadi tempat tujuan akhir dari rasa lelahnya.
Sembari menuju ke tempat mobilnya, Ifan menyempatkan diri untuk menelphone Sila yang sedang di rumah senidiran.
"Sayang, aku sudah mau pulang, kamu ada mau nitip barang tidak?" Suara lembut Ifan membuat orang yang mendengarnya tersenyum-senyum
"Idih, bicaranya jangan begitu bisa tidak?" Fandi berisik ngeri mendengar ucapan sahabatnya, yang baru kali ini terdengan sangat menjijikkan ditelinganya
"Makanya cari pacar" Ifan sudah tidak menghiraukan sahabatnya lagi dan bergegss masuk ke dalam mobil, melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata
Meskipun Sela tidak menginginkan apapun, Ifan tetap mampir ke tempat makanan yang sudah menjadi langganan semenjak hidup bersama Sela.
Ifan memesan beberapa menu yang biasa dipesan oleh Sela. Setelah mendapatkan pesanannya, Ifan juga mampir ke sebuah minimarket membeli beberapa makanan ringan tidak lupa juga s*s* khusus untuk wanita hamil. Semua kebutuhan sudah ada di tangan, perjalanan terakhir adalah jalan menuju ke rumahnya.
Senyum merekah setelah terlihat Sela duduk di teras sendirian sambil membaca majalan di tangannya.
"Selamat sore s*yang" Sapa Ifan, dia meletakkan semua barang bawaannya di atas meja, berdiri di belakang kursi yang diduduki oleh Sela dan merangkulkan kedua tangannya di pundak Sela
Sela tersenyum senang mendapatakan perlakuan manis dari suaminya. Namun, tidak disangka Sita mengikuti Ifan hingga ke depan gerbang rumahnya, Sita hanya ingin tahu tempat tinggal Ifan saat ini, karena semenjak Ifan menikah sudah tidak tahu lagi keberadaannya dan juga status Ifan. Sita tidak ingin aksinya diketahui oleh orang lain, diapun bergegas meninggalkan kediaman Ifan setelah mengambil beberapa gambar dalam ponselnya.
Awalnya Sita tidak menyadari keberadaan seorang wanita yang dipeluk oleh Ifan adalah seorang perempuan muda. Dia baru menyadari setelah beberapa hari melihatnya kembali hasil bidikannya.
"Sejak kapan Kak Ifan tinggal dengan seorang perempuan, bukannya dia anak tunggal? Atau mungkin keluarga jauhnya? Tapi, tidak mungkin jika hanya keluarga jauh begitu dekat interaksi mereka" Danasih banyak lagi pertanyaan dalam benak Sita mengenai siapa wanita yang tinggal di rumah Ifan
__ADS_1