Berbagi Cinta : Sepupuku, Istri Siri Suamiku

Berbagi Cinta : Sepupuku, Istri Siri Suamiku
bertemu teman lama.


__ADS_3

Feby sedang asik makan sambil mengecek laporan yang dikirim oleh Eni.


Tapi saat melihat jam dia terkejut karena sudah lumayan siang dan dia tak menyiapkan apapun untuk cemilan putranya.


Dia terlalu asik dengan pekerjaannya, "ah gawat jika aku tak memasak sesuatu, Yusuf pasti akan ngambek," gumam Feby.


Dia mulai membuat puding, sambil terus mencoba menelpon Sandi, tapi handphone Sandi sedang sangat sibuk.


Tak lama terdengar suara ketukan pintu, Feby pun dengan buru-buru membuka pintu.


Dia juga tak mengecek siapa yang datang, "tunggu sebentar, iya mau cari siapa?"


Feby terdiam melihat pria yang berdiri di depannya, pria tinggi itu membuat Feby sedikit merinding karena tatapannya.


"Apa ini benar rumah Sandi dan Andini? aku teman lamanya," suara itu mengejutkan Feby.


"Ah.. ha-ha-ha-ha iya, tapi mereka belum pulang," jawab Feby mencoba untuk tersenyum pada pria itu.


"Boleh aku masuk? di luar sangat panas?" tanyanya lagi.


"Maaf tuan, tapi di rumah tak ada orang, lebih baik nanti kembali lagi saja, karena aku takut orang akan salah mengira," jawab Feby menutup pintu dengan keras karena takut.


Bukan tidak sopan, Feby takut jika itu modus perampokan atau apapun itu, Feby bahkan terus menelpon Sandi tapi tak bisa.


"Ah... bodoh kenapa kamu bilang di rumah tak ada orang," kata Feby memukuli kepalanya.


Kemudian dia mencoba menelpon Dini, "hallo mbak,cepat pulang di rumah ada seorang pria yang menakutkan, aku mohon," suara Feby sedikit bergetar.


"Apa? baiklah, kami akan pulang ini sudah masuk kedalam komplek rumah kok," jawab Dini.


Terdengar suara mobil Sandi dan benar saja, Dini ingin sekali tertawa melihat pria yang sedang duduk sambil memijat keningnya.


"Kenapa tak masuk bro? dan itu Kenapa kepala mu?" tanya Sandi yang mengendong Yusuf.


Di belakang mereka ada beberapa teman Keduanya yang cukup banyak sekitar sepuluh orang.


"Widih ... si ganteng duluan aje," kata teman yang lain.


"Gila ya adek mu itu, main banting pintu sembarangan, untung kacamata ku tak pecah," kata Satrio.

__ADS_1


"Feby?" kata Sandi.


"Dia takut karena kamu yang memasang wajah sanggar, sudah ayo masuk," ajak Dini yang membuka pintu.


Feby pun yang mendengar semuanya berlari ke kamar, dia tak ingin menganggu acara Sandi dan Dini.


Bahkan dia yang tadi sempat membuat cemilan juga sudah mengirim pesan pada Dini untuk menyuguhkan semuanya.


Satrio mencari sosok wanita yang membuatnya kesakitan, tapi tak bisa menemukan sosok itu.


"Ayo kemari sat," panggil Sandi.


Mereka pun berkumpul di ruang tamu, "mana nih adik yang membuat pria tampan ini kesakitan, aku penasaran," tanya temen Dini.


"Dia itu pemalu, dia itu jarang mau muncul ke luar saat ada tamu," jawab Sandi.


"Tapi kamu juga awas kalau sampai tergoda, apalagi dia cantik dan masih muda belum lagi begitu modis tadi," kata Satrio.


"Satrio, Kenapa ngomong seperti itu," kesal Dini.


"Itu memang kenyataannya, apalagi kalian tinggal serumah begini, meski dia itu saudara kami juga tetap hati-hati, karena hati orang dalamnya tak ada yang tau," kata Satrio.


Sandi geram, "tutup mulutmu, dia itu adikku, jangan menghinanya," kata Dini membela Feby.


"Ndak au, au unda," jawab Yusuf memeluk Dini.


Feby pun memilih bermain ponsel hingga ketiduran, entah kenapa dia merasa dirinya mudah lelah.


Pukul satu siang semua pamit, kecuali Satrio, dia merasa Dini masih menyembunyikan sesuatu darinya.


"Jangan baper lagi ya Satrio," goda Sandi.


"Gak kok, tapi sekali kamu menyakiti dirinya aku akan membawanya pergi dari mu," jawab Satrio ketus.


"Tapi ku akan melawan mu meski sampai mati, karena aku mencintai Dini dan tak akan ku biarkan siapapun membawanya pergi," jawab Sandi dingin.


Sandi membawa Putranya Yusuf untuk tidur di kamar, dia membiarkan dini berbincang bersama Satrio berdua.


Toh dia juga ingin melihat kondisi Feby yang dari tadi tetap tinggal di kamar.

__ADS_1


"Kau menyembunyikan sesuatu bukan, kata Deni kamu memiliki madu, benarkah atau itu hanya gosip?" tanya Satrio pada keduanya.


"Ha-ha-ha apa maksudmu?"


"Jawab aku Dini, jangan bilang bocah ini putra suamimu dan wanita lain itu," kata Satrio.


Dini pun mengangguk lemah, Satrio tak rela tapi dini melarangnya, "tidak boleh, aku yang mengizinkan mereka menikah, dan kamu tak boleh melukai mereka," kata Dini.


"Tapi ini keterlaluan, dia mengajak madunya tinggal satu atap," kesal Satrio.


"Itu juga keinginanku bukan dirinya, jadi aku mohon jangan lukai suamiku, lagi pula cerita kita berakhir saat kau memberikan aku minuman itu," kata Dini.


"Kau selalu mengingatkan aku tentang kejadian itu, aku benar-benar minta maaf," lirih Satrio.


"Kalau begitu berhenti mencampuri urusan ku, ini Keluarga ku, dan aku bahagia saat ini," kata Dini yang mampu membungkam Satrio.


Satrio pun tak mengira Dini bisa berkorban sejauh ini, dia tau jika wanita di depannya itu pasti sangat terluka saat ini.


"Ikutlah dengan ku, aku akan selalu menerima mu Dini," kata Satrio memberikan tangannya.


"Maaf aku tak bisa, aku sudah terlalu mencintai suamiku, aku tak bisa meninggalkan dirinya."


"Tapi kamu melukai dan menyiksa diriku sendiri dini," kata Satrio tak habis pikir.


"Sudah kau menghasut istri orang, sekarang tolong jangan menganggu rumah tangga kami, kamu dengar dia bahagia bersama ku," kata Sandi tak suka pada pria di depannya itu.


"Baiklah aku akan pergi, dan Dini tawaran ku akan berlaku selamanya untukmu," kata Satrio sebelum pergi.


"Simpan dan kenang untuk dirimu sendiri, dan jangan berani mengnggu istriku," kesal Sandi.


Satrio menatap rumah itu sebelum pergi, Satrio melihat Feby yang buru-buru menutup tirai saat dia melihat wanita itu.


"Kau melukai dirimu demi pria itu, dan kehadiran wanita itu bukan. kalau begitu suatu saat aku akan membawanya pergi dari kalian berdua, agar kamu bisa tersenyum kembali Dini. karena kebahagiaan mu adalah kebahagiaan ku, dan untuk duka mu biar ku yang menyingkirkannya," gumam Satrio sebelum pergi dari perumahan itu.


Sandi tak mengetahui tentang siap Satrio, dia baru saja pulang dari Papua.


Ya pria itu baru selesai menyelesaikan kontrak pekerjaan di pulau itu, dan dia banyak belajar disana.


Dan Satrio bukan pemuda yang sama dengan sepuluh tahun yang lalu, saat ini dia bisa melakukan apapun untuk membuat orang yang dia sukai bahagia.

__ADS_1


Dan sekarang dia memiliki target baru, dan dia akan melaksanakan ide gilanya mungkin.


Dini melihat Sandi yang begitu marah, "mulai saat ini tolong jangan bertemu pria itu, aku tak suka dengan itu, kamu mengerti," kata sandi dingin.


__ADS_2