Berbagi Cinta : Sepupuku, Istri Siri Suamiku

Berbagi Cinta : Sepupuku, Istri Siri Suamiku
permintaan maaf (menjemput)


__ADS_3

Tak terasa sudah sebulan ini Sandi dan Feby pergi dari rumah, kondisi Andini juga semakin drop.


Bahkan dia sudah tak bisa beraktifitas sendiri, dan menghabiskan waktunya di atas tempat tidur.


Sandi bahkan tak pernah menelpon dini sedikit pun, hanya mengirimkan pesan.


Sedang Feby mulai menikmati waktu miliknya dengan putranya, bahkan mereka mulai menikmati waktu tanpa Sandi.


Sedang Sandi masih terus mencari Feby, dia juga sesekali mengawasi rumahnya dari jauh.


Kadang pulang hanya sekedar ganti baju, Dini pun tak bisa menghentikan suaminya lagi.


Meski Sandi mengatakan mencintainya, tapi Sandi adalah orang yang begitu menyakitinya.


"Mas ... tunggu sebentar, bisakah kita bicara," panggil Dini saat melihat Sandi.


"Maaf Dini, aku harus ke bengkel lagi, karena disana sedang sangat ramai, kamu di rumah bersama ibu, aku pergi," pamit Sandi mencium kening Dini.


Tubuh Dini terkulai lemas, sebuah pesan masuk dari Satrio ke ponselnya.


"Mas tunggu. aku tau dimana Feby!" teriak Andini.


"Dimana?" kata Sandi berbalik dan mengendong Andini.


"Di perumahan griya permata," Dini menyerahkan ponselnya.


Ternyata pesan dari Satrio, yang memotret Feby sedang berjalan bersama Yusuf, bahkan mereka tertawa bahagia.


"Aku akan menjemput mereka kembali," kata Sandi senang.


"Itu takkan berpengaruh mas, kamu lupa jika Feby tak ingin kembali, jika kedua orang tua mas tak meminta maaf," kata Dini menghentikan langkah Sandi.


"Terus aku harus bagaimana lagi, ibu dan ayah ku begitu keras kepala, mereka tetap tak bisa menerima Feby ..." lirih Sandi.


"tolong panggilkan mereka mas, biar aku yang berbicara dengan mereka," kata Dini.


Sandi pun mengikuti keinginan Dini, tak lama Bu Sulastri dan pak Ibrahim masuk ke kamar Feby.

__ADS_1


"Mas bisakah kamu menunggu di luar, biarkan aku berbicara dengan mereka sebentar," mohon Dini.


"Baiklah dek," jawab Sandi.


Dini melihat kedua orang tuanya, kemudian dia menangkupkan tangannya.


"Ayah ... ibu ... aku tak pernah meminta apapun dari kalian, tapi kali ini aku mohon tolong terima Feby dan putranya, dan jangan menghinanya lagi, demi aku dan calon anak ku, jika tidak mau, maka jangan harap kalian bisa menemui kami lagi, bahkan bisa menggendong cucu kalian nanti."


"Kamu mengancam kami," kata pak Ibrahim tak habis pikir.


"Karena hanya itu yang sekarang yang bisa aku pikirkan, karena kalian terus mencampuri urusan rumah tangga kami," jawab Dini.


"Baiklah aku menyetujui itu, tapi setelah ini kamu harus menurut pada kami, apapun itu," kata Bu Sulastri.


"Saya janji Bu," kata Dini.


"Baiklah, berikan alamat rumah itu,biar kami meminta maaf dan membujuknya," kata Bu Sulastri.


Dini memberikan sebuah kertas pada mertuanya, dan keduanya tak mengira jika wanita itu di sebuah perumahan mewah.


Feby sedang bermain di depan rumah, saat Satrio datang membawakan hadiah untuk Yusuf.


"Aku hanya ingin menemui Yusuf, lagi pula kamu kenapa begitu sensitif sih, kamu tak ingin berteman dengan ku," tawar Satrio.


"Maaf aku tak sembarangan memilih teman, apalagi pria dengan mulut tajam seperti mu," jawab Feby.


"Seandainya kamu bisa memberikan sikap ini pada Sandi, ku pastikan dia akan meninggalkan dirimu,"


Satrio melihat Feby dan menatap wanita itu dengan dalam, "kenapa tak menyuruh mbak sini saja, toh sekarang dia yang harus tegas, dan aku juga akan mengambil sikap ku."


"Jika kamu butuh sesuatu, kamu bisa mencariku," kata Satrio mengacak rambut Feby kemudian pergi.


Bu Sulastri dan pak Ibrahim sampai di rumah milik Feby, mereka melihat Feby yang bahagia bersama Yusuf.


"Apa kita yakin ingin meminta maaf pak, lihatlah mereka bahagia tanpa mengusik rumah tangga anak kita, aku bahkan lupa jika dia itu istri kedua Sandi."


"Kita melakukan ini demi Dini, bukan karena Sandi, jadi apapun untuk menantuku," jawab pak Ibrahim.

__ADS_1


Feby langsung berdiri saat melihat kedua orang tua Sandi datang, "mbak Tami, bawa Yusuf masuk kedalam rumah."


"Baik non," jawab mbak Tami.


"Selamat datang, ada apa ibu dan bapak datang kemari, bukankah aku sudah pergi sesuai keinginan anda berdua, jadi apa lagi salah saya saat ini?" tanya Feby dengan nada bicara sedikit penekanan.


"Kami datang ingin meminta Maaf,dan mengajakmu kembali ke rumah, kamu juga masih istri Sandi dan ini semua kami lakukan untuk Dini," kata pak Ibrahim berterus terang.


"Kalau begitu saya yang akan meminta cerai dari putra anda.dan itu akan lebih baik, dan tolong minta mas Sandi untuk tidak mengangguku lagi, aku lelah dengan semuanya," kata Feby.


"Jangan nak, aku mohon ... aku bisa bersujud agar kamu bisa memaafkan dan kembali ke rumah itu, tolong ini semua demi Dini," mohon Bu Sulastri.


Keangkuhan wanita itu akhirnya hancur sudah, semu kini runtuh demi membahagiakan dan menuruti menantunya.


"Maaf jika aku ikut campur, ibu apa tidak pernah mengenal kata malu, kalian menghinanya habis-habisan sekarang kalian mengemis untuk meminta dia kembali," ejek Satrio.


"Ini demi Dini, sudah sebulan ini kondisinya terus menurun karena permasalahan ini, jika ini terus berlanjut, maka Dini bisa kehilangan bayi yang sudah begitu ditunggunya," jawab Bu Sulastri.


Satrio diam, dia telat sangat terlambat, "kembalilah, jangan membuat Dini terluka lagi," kata Satrio.


"Apa urusanmu, kalau aku kembali ibu dan bapak ini akan kembali menghinaku, dan mbak Dini juga tak bahagia, bukankah lebih baik aku pergi, toh mbak Dini bisa hamil lagi," kata Feby tetap pada pendiriannya.


Satrio mencengkram leher Feby, "kembalilah, atau aku bisa mematahkan lehermu jika kamu tak menurut pada Dini, jadi ingat ini baik-baik."


Feby meneteskan air mata, kenapa harus dia yang mengalami semua ini, akhirnya dini mengajak Tami dan Yusuf kembali ke rumah itu.


Sandi begitu senang dan langsung menggendong Yusuf, sedang Feby langsung bergegas masuk kedalam rumah.


"Selamat datang lagi Feby," sapa Dini.


"Kenapa kamu tidak bisa tegas padanya, dan berhenti memasang wajah tersenyum itu padaku, aku muak melihat wajah suci itu, maki aku sekarang dan lampiaskan semua luka mu, biar kita sama-sama tau betapa menyedihkannya diri kita terikat dengn pria itu, aku mohon mbak tegaslah sedikit saja," kata Feby sebelum meninggalkan dini yang mematung.


Feby benar-benar ingin marah saat ini, dia mengira jika Satrio benar-benar bisa menerima dan berteman dengannya.


Tapi nyatanya semua kembali pada Dini, semua orang berputar hanya dengan Dini dan Dini.


Feby juga ingin bahagia saat ini, "Kenapa aku harus tersiksa dan tercebak dengan hubungan sampah seperti ini," marah Feby memukul kaca rias di depannya hingga pecah dengan tangannya.

__ADS_1


"Nona!" panik mbak Tami setelah mengetahui apa yang di perbuat Feby, apalagi dia juga mendengar suara ribut dari kamar Feby.


__ADS_2