
Feby di larikan ke rumah sakit, dan mendapatkan perawatan intensif. pasalnya wanita itu mengalami luka parah.
Saat tau hal itu, Bu Sulastri sangat marah pada keduanya, Dini maupun Sandi.
Bu Sulastri datang bersama Tami untuk meminta penjelasan, tapi Sandi dengan santai menemui sang ibu.
"Ada apa ibu-" kata Sandi terputus karena tamparan yang di berikan Bu Sulastri di pipinya.
"Kenapa ibu menamparku?" kata Sandi tak terima.
"Seharusnya aku membunuhmu, kamu sangat kejam Sandi, apa salah Feby hingga kau hampir membunuhnya, bahkan setelah kau membunuh anak kandung mu sendiri," kata Bu Sulastri marah.
"Tidak Bu, itu bukan anak mas Sandi," jawab Dini membela Sandi.
"Tutup mulut mu Dini, aku menyesal telah salah menilai mu, kau buta karena rasa cemburu mu, hingga dengan tega memfitnah wanita sebaik Feby, jika saja kamu mau membantu Feby lepas dari Sandi, itu akan sangat baik," kata Bu Sulastri.
"Ibu!" bentak Sandi.
"Sandi!!!!" teriak Tami tak tahan lagi.
"Kau lupa dengan semua ancaman tuan sepuh bukan, aku ingatkan, kamu akan miskin karena semua usahamu di sokong oleh nona Feby, dan untuk mu Dini, kau sudah tak perlu berlindung di balik topeng lemah mu itu, kau itu iblis yang bersikap seperti malaikat, dan aku muak melihat kalian, dan tolong jangan menganggu nona Feby, cukup kalian membuatnya menjadi pelampiasan, dan untuk kalian berdua, pasangan yang sangat sempurna, yang satu iblis dan yang satu wanita yang pintar bersilat lidah," kata Tami bertepuk tangan.
"Cukup Sandi, ibu akan menjadi saksi untuk perceraian mu dan Feby, dan untuk Yusuf biar ibu yang membesarkan cucu ibu, dan mulai saat ini aku memutuskan semua hubungan dengan mu," kata Bu Sulastri seperti petir di siang bolong untuk Sandi dan Dini.
Keduanya tak mengira jika Bu Sulastri sampai bertindak sejauh itu, Dini menahan tubuh Sandi yang limbung.
Tami mengejek keduanya, tapi mereka tak tau apa yang sudah di lakukan oleh Dini.
Tanpa menyentuh Dini bisa membunuh Feby dengan bantuan seseorang.
Pak Ibrahim sedang keluar membeli kopi dan air untuk minum Feby nantinya saat sadar.
Dia tak mengira keputusannya meninggalkan Feby adalah kesalahan besar.
Seseorang masuk ke ruang rawat itu dan mengusap pipi Feby dengan lembut.
"Maaf ya, aku sudah berjanji dan aku tak bisa membatalkan janji itu, jadi aku harus membunuhmu," gumam pria itu.
__ADS_1
Feby pun sadar dan berontak saat pria itu mencekiknya, akhirnya Feby pun tak bernafas lagi.
Pria itu memotret sosok Feby yang sudah tak bergerak dan bernafas, kemudian mengirimkannya pada seseorang yang menyuruhnya.
"Aku sudah menepati janji ku, dan jangan mengangguku lagi," tulisnya menyertakan foto Feby.
"kerja bagus," gumam orang yang begitu membenci Feby.
Pria itu pun menghilangkan jejak dengan membawa mayat Feby mengunakan tong sampah.
Pria itu bergegas pergi dan menyamar sebagai cleaning servis dan tak ada satu orang pun yang mencurigai dirinya.
Dan dengan leluasa dia membawa mayat wanita tak bersalah itu, kemudian dia bergegas menghilang dari kota itu.
Satrio yang ingin memenuhi janjinya pada Dini pun menghampiri rumah sakit, tapi dia tak menemukan gadis itu.
Dia pun bergegas berteriak mencari suster, dan pak Ibrahim menghampiri ruangan itu dan kaget tak melihat Feby.
"Brengsek, kau bawa pergi kemana menantuku, jawab brengsek!" bentak pak Ibrahim mendorong tubuh dari Satrio.
Pak Ibrahim pun memukuli pria itu, hingga beberapa perawat melerai mereka.
"Pak tolong jangan membuat kegaduhan, ini rumah sakit," kata Para perawat.
"Rumah sakit apa anj*Ng, bagaimana bisa kalian kehilangan satu pasien kalian, jawab dimana menantuku!" teriak oak ibrahim mengamuk tanpa ampun.
Bu Sulastri kaget mendengar suara gaduh, dia pun bergegas masuk dan melihat suaminya menangis.
Sedang Feby tak ada di kamar rawatnya, "Ayah... Feby mana yah?" tanya Bu Sulastri.
"Dia hilang Bu, dan aku menemukan Satrio yang datang saat tak menemukan Feby," jawab pak Ibrahim.
Para satpam mengamankan Satrio, dan membawanya ke kantor untuk melihat hasil rekaman CCTV.
Tapi yang di katakan Satrio benar, pria itu tak terlibat, kini semua orang pun panik mencari Feby.
Bahkan kakek Cahyono yang mendengar berita tentang hilangnya Feby sempat syok.
__ADS_1
Bahkan sekarang pria tua itu mengerahkan segala daya untuk menemukan cucu tersayangnya itu.
Pak Ibnu dan Soraya bahkan melakukan apapun untuk bisa menemukan putri mereka.
Sedang adik tiri dari Feby merasa sangat sakit hati, gadis yang bernama Feli itu sangat marah.
Apalagi setelah mendengar semua yang di lakukan oleh Sandi dan Dini pada kakaknya itu.
Pasalnya Feli begitu menyayangi Feby, meski awalnya dia menolak tapi Feby bersikeras bahkan rela menentang Ibnu dan dirinya.
Dan saat ini Feby malah hilang tanpa jejak, bahkan jika matipun jasadnya tak di temukan.
"Kalian biadab, lihat saja aku akan menuntut balas pada kalian berdua, dan kalian begitu suka menyiksa dirinya, maka aku akan menyiksa kalian lebih parah dari yang akan kalian rasakan, terlebih kau wanita jagat, kau akan ku buat lebih memilih mati di banding hidup," gumam Feli menusuk-nusuk foto Dini dengan pisau.
Feli bersumpah akan membalaskan dendam dengan sangat menyakitkan pada kedua orang itu.
dan saat ini dia berencana untuk bagaimana cara untuk bisa masuk ke keluarga Sandi dan Dini.
Tapi dia tak perlu terlalu pusing, toh Sandi adalah pria mata keranjang dan bisa di goda dan itu sangat mudah untuk dirinya.
Sedang di tempat lain,dini merasa berterima kasih sekali pada orang yang membawa Feby pergi dari kehidupannya dan Sandi.
Bu Fatma merangkul putrinya itu, "ke apa kamu terlihat begitu bahagia sekali sih nak?"
"Iya Bu, sekarang hanya Dini istri mas Sandi, dan mas Sandi juga sudah kembali seperti dulu, dan kami sedang konsultasi untuk kehamilanku lagi, ibu doakan saja ya," kata Dini senang.
"Insyaallah selalu nak, ibu juga selalu ingin melihatmu bahagia, dan jika kamu menginginkan sesuatu bilang saja pasti ibu bisa penuhi semuanya," jawab Bu Fatma.
"Terima kasih ibu, ibu memang yang terbaik," kata Dini.
Sedang Sandi baru menyadari hidupnya terasa hampa setelah Feby pergi dan menghilang bak di telan bumi.
Bahkan dia juga tak bisa menemui putranya Yusuf yang saat ini dalam pengasuhan kedua orang tuanya sendiri.
itu terjadi karena Bu Sulastri tak ingin Yusuf mengikuti jejak Sandi, itulah kenapa pak Ibrahim sedang berniat membawa cucunya itu pergi dari kota itu.
Tapi itu bisa terjadi setelah keluarga Feby mengizinkan hal itu, karena bagaimanapun Yusuf juga cucu keluarga itu.
__ADS_1