
Tami pun segera mencari kotak pertolongan pertama, dan mengobati tangan Feby.
"Non, jangan seperti ini, ingat juga kondisimu, dan ada dia di perut nona jadi tolong tenanglah," bisik mbak Tami.
"Aku lelah mbak, Kenapa aku tak bisa hidup tenang, padahal sebulan ini aku sudah merasa bahagia," jawab Feby.
Sandi msuk ke kamar dan kaget melihat luka Feby dan kaca meja rias yang pecah.
"Ada apa? apa yang kamu lakukan," kata Sandi sedikit membentak.
"Aku hanya meninju kaca itu, bukan dirimu itu saja, memang kenapa masalah buat mu mas?" kata Feby ketus.
"Kenapa kau berubah Feby, kau sekarang sangat kasar, bahkan dengan Dini juga," kata Sandi menarik lengan Feby.
"Kenapa? kamu menyesal saat sekarang tau sikapku, kasihan ... lebih baik kau menceraikan aku dan nikmati hidupmu dengan wanita yang keluarga mu puja itu, mudah bukan?"
"kau stres Feby," maki Sandi mendorongnya.
Untungnya Tami sigap menangkap tubuh Feby, "ya! aku stress dan hampir jadi gila menghadapi kalian semua yang tinggal di rumah ini, ha-ha-ha-ha!"
Sandi pun meninggalkan Feby di dalam kamar, Feby pun di bantu Tami untuk duduk.
"kamu berlebihan," kata Tami.
"lebih baik lagi jika langsung di kirim ke rumah sakit jiwa bukan, toh sebentar lagi aku akan benar-benar gila menghadapi kegilaan Keluarga ini,"
Tami pun tak mengira mendengar ucapan dari mulut Feby, bahkan wanita itu begitu tertekan saat ini.
"sudahlah, tak perlu di pikirkan lagi, sekarang nona cantik mau makan apa? biar aku buatkan?" tanya Tami.
"mie ramen, please ..."
"dasar kamu ini, hak boleh mie instan," kata Tami.
"kalau begitu mbak buat saja, gampang kan, atau kita delivery saja," jawab Feby yang di acungi jempol oleh Tami.
"baiklah biar aku pesan, dan sebentar sekarang giliran putramu mau makan apa?" Tami pun berjalan keluar.
Yusuf sedang bermain bersama Dini dan Sandi, Tami pun menghampiri semua orang.
"Yusuf sayang, mama mau beli ramen, kamu mau juga atau mau di buatkan makanan yang lain?" tanya Tami dengan lembut.
__ADS_1
"Mau makan takoyaki mbak," jawab Yusuf.
"Jangan sayang, kita makan makanan rumah saja ya, lebih sehat," bujuk Dini.
"Tidak perlu merepotkan mbak Dini dan juga ibu mas Sandi, aku masih bisa menghidupi putra ku sendiri, ayo mbak kita pergi keluar saja, ayo Yusuf," panggil Feby.
"Feby sikap apa ini!" bentak Sandi.
"Ini sikap ku, tak suka maka ceraikan saja, begitu saja kok susah, bukankah itu akan membuat kebahagiaan kalian utuh," ajak Feby mengambil putranya.
Sandi ingin mengejarnya tapi Dini menahan Sandi, "biarkan mas, mungkin Feby butuh waktu setelah semua yang terjadi,"
"Apa yang kalian bicarakan saat memintanya kembali, kenapa dia sekarang begitu berubah?" tanya sandi pada orang tuanya.
"Kami bicara baik-baik dan tak melakukan apapun yang menyakitinya," jawab Bu Sulastri.
Mobil Feby berhenti di sebuah taman yang cukup ramai di perumahan itu, "kenapa berhenti disini?" bingung Tami.
"aku akan menunjukkan hiburan terbaik di komplek ini, ayo ..."
Tami pun mengikuti Feby, baru juga turun dari mobil, beberapa ibu-ibu mulai berbisik.
Feby mengajak Yusuf bermain di taman komplek, "lihat Bu, perempuan perebut suami orang, dasar hak tau malu, muka tembok dia itu, cantik tapi sifatnya menjijikkan," bisik ibu-ibu itu.
"Iya perempuan begitu itu yang menghabiskan uang suami ya, dasar wanita lont*, jijik ah jangan dekat-dekat," saut yang lain.
"Kasihan anaknya ya, lahir dari rahim pelakor, dasar wanita gak laku gitu tuh, atau jangan-jangan dia itu perempuan gatal, amit-amit Bu, awasi suami ibu, nanti dia ambil juga," kata wanita yang lain.
Tami tak habis pikir, bagaimana bisa berita butik itu di terima Feby, yang bahkan semua yang di bicarakan itu tak benar.
Selain Tami, ada satu orang lagi yang melihat wanita yang tak menggubris omongan orang, dan hanya fokus pada kebahagiaan putranya itu.
Dia yang baru mengetahui segalanya pun tak mengira jika Feby begitu tegar mendengar ucapan jahat mulut tetangga.
"Apa yang kamu perbuat Dini, dia sudah mau berubah dan pergi, tapi kamu menariknya kedalam lubang tak bertepi itu," gumam pria itu.
"Kasihan kamu non, bahkan kamu harus sampai merahasiakan kehamilan mu demi kebahagiaan istri mas Sandi," kata mbak Tami.
Satrio terkejut, pasalnya dia tak tau jika Feby hamil, bahkan merahasiakan, berarti wanita itu tak ingin menganggu kebahagiaan Dini.
"Apa aku salah menilai orang ..."
__ADS_1
Feby sedang berlarian bersama Yusuf, sekarang hanya putranya itu yang menjadi kekuatan terbesar untuk menghadapi dunia kejam untuk Feby.
Sandi pun sekarang sering menghabiskan waktu bersama Dini, karena wanita itu begitu manja padanya.
Terlebih Feby yang sedikit berubah, membuat Sandi marah dan kini hanya Dini yang membuatnya nyaman.
"Jangan tinggalkan aku mas ..." lirih Dini yang melihat Sandi ingin menjauh.
"Adek ku yang manis ... aku kebelet pipis, masak kamu mau ikut, manjanya," kata Sandi mengusap jilbab Dini.
"Mas bohong ... pasti mau pergi kan,"kata Dini dengan wajah sedih.
"Tidak dek, beneran deh ... ya sudah pintu kamar mandi tidak ku tutup biar kamu bisa melihat," kata Sandi tertawa.
Dini pun senang bisa kembali melihat wajah sandi yang tersenyum lebar, karena sudah sangat lama dia tak melihat wajah tampan suaminya itu.
Sore harinya Feby pulang dengan membawa beberapa baju baru yang lebih longgar untuk menyembunyikan kebenarannya.
Sandi ingin masuk kedalam kamar Feby, tapi Feby langsung menguncinya dari dalam.
Sandi juga tak bisa masuk meski itu lewat kamar Yusuf, karena g
Feby mengunci pintu penghubung itu juga.
"Feby buka pintunya," kata sandi sambil sedikit menggedor pintu.
"Tak perlu masuk, aku sedang alergi melihat mu mas, jadi temani mbak Dini saja, jangan menggangguku," jawab Feby.
Feby memilih menghalangi pintu dengan meja rias, kemudian dia mulai live di Instagram.
Banyak yang menyukai dan membencinya, tapi saat Sandi ingin masuk dia tak bisa mendobraknya.
Feby hanya tersenyum mengejek, karena dia benar-benar ingin pisah dengan pria itu.
"Jangan di hiraukan ya teman, hanya orang iseng yang mau ganggu waktu kita," kata Feby saat live-nya.
Dini tak mengira jika Feby melakukan semua itu, dan itu menjadi keuntungan untuknya.
"Mas Sandi ... aku ingin makan sate langganan kita," kata Dini menghampiri Sandi.
"Aku belikan tapi kita makan di rumah ya," jawab Sandi.
__ADS_1
"Gak mau, aku mau makan di tempat, dan harus sama mas," minta Dini yang akhirnya di turuti oleh Sandi.