
"maaf, anda berdua?" tanya bibi sopan.
"kami adalah orang tua Bram, kalau mbak ini?" tanya wanita sepuh itu.
bibi pun langsung mempersilahkan masuk dan menyambut keduanya. kedua orang itu tau jika Bram menikah tapi tak mengira jika istri Bram jauh sangat muda.
"maaf permisi, saya akan menghubungi mas Bram sebentar," pamit bibi yang bingung mau apa.
pasalnya dulu dia juga tak pernah menghadapi mertuanya, karena dia hanya menantu yang tak di inginkan.
"ada apa sayang? apa kamu sudah merindukan ku?" tanya Bram yang menjemput Edgar.
"mas orang tua mu datang, aku harus bagaimana?" tanya bibi khawatir.
"ya anggap saja mereka seperti orang tua mu sendiri," jawab Bram yang langsung mematikan telponnya.
bibi pun keluar sambil membawa minuman, "ah itu maaf sebelumnya, sepertinya mas Bram masih sibuk, apa om dan Tante butuh sesuatu?" tanya bibi sedikit takut.
"kenapa berdiri, kemarilah, dam kenapa memanggil dengan om dan Tante, panggil mana dan papa seperti halnya Bram," kata wanita itu.
"mama ..."
"iya nak, aku mama Inggrid dan ini papa Vin," kata mama Inggrid.
"salam kenal mama, saya Febiola," jawab bibi.
"kami tau, Bram sudah cerita semuanya, dan kami datang untuk melihat keluarga putra kami," kata papa Vin yang begitu datar.
"iya pa, maaf tapi baby Ale masih tidur siang, apa kalian ingin melihatnya?" tawar bibi.
"boleh, tapi mana Putra terbesarmu nak?" tanya mama Inggrid.
"Edgar masih belum pulang ma, mungkin sebentar lagi," jawab bibi.
tapi tak terduga, mobil milik Bram yang datang bersama Edgar, dan bocah itu berlari sambil membawa dua piala dua tangannya.
"mama lihat aku menang ma ..." kata pria itu dengan senang.
"selamat sayang, kamu menang lomba apa?" tanya bibi.
"lomba memanah dan juga matematika," jawab Bram yang pulang bersama Edgar.
"putra hebat mama, sekarang salam dulu ke Oma dan opa ya," kata bibi pada Edgar.
__ADS_1
tanpa di duga papa Vin langsung berdiri dan melihat Edgar, dan langsung memeluknya.
"ini baru cucu opa yang berbakat," kata pria itu begitu bangga.
baru kali ini bibi melihat putranya menjadi kebanggaan, dan bukan anak yang tak di inginkan.
"keluarga kalian malaikat?" bisik bibi pada Bram.
"bukan, kami manusia biasa bibi, hanya saja papa memang sudah ingin memiliki cucu dari lama," jawab Bram memeluk istrinya yang sedih.
Bu Inggrid pun juga tau perasaan dari bibi, karena Bram sudah menceritakan segalanya, dan mereka tak keberatan dengan pernikahan ini.
"nyonya, tuan kecil bangun," kata bik tum.
"kemarikan bik," jawab bibi yang mengendong bocah berusia lima belas bulan itu.
"kemarikan bayi tampan ini dengan Omanya, karena kamu sedang hamil tak boleh mengendong bayi lagi, takut terjadi apa-apa dengan kandungan mu," kata Bu Inggrid.
"maaf harus merepotkan mama," kata bibi tak enak.
"tidak kok, ini kewajiban kami, oh ya kira-kira apa jenis kelamin bayi kalian?" tanya papa Vin.
"belum tau pa, kata dokter bayinya malu," jawab Bram.
"hei pak tua, aku juga ingin punya cucu perempuan, jangan serakah, anak Bram sudah dua yang laki-laki," kesal Bu Inggrid.
"biarin, nanti minta mereka bikin lagi saja, gampang kan," jawab papa Vin.
"kamu dengar sayang," bisik Bram
"maaf papa... yang ini saja belum lahir, kenapa harus buat lagi?" tanya bibi tak percaya
"karena kami hanya punya Bram, jadi kami begitu mengandalkan dirimu menantuku, jangan khawatir nak, mama akan membantumu untuk menjaga mereka," kata papa Vin.
sedang Bram tertawa melihat reaksi istrinya yang tak percaya, bik tum juga tersenyum mendengar ucapan dari orang tua Bram.
sedang di rumah keluarga pak Ibnu, semua berjalan dengan sangat baik, Feli juga sudah pasrah dengan segalanya.
meski awalnya dia tak ingin melakukan pernikahan ini, terlebih Sandi sudah membuatnya tergila-gila.
tapi dia tak mungkin membuat orang tuanya sedih, "besok jangan sampai mempermalukan ayah Feli," kata pak Ibnu.
"iya ayah," jawab Feli yang sebenarnya ingin menolak tapi tak bisa.
__ADS_1
sedang Sandi kaget melihat surat panggilan dari pengadilan agama untuk gugatan perceraian yang di ajukan oleh dini.
"brengsek... dia berani mengajukan gugatan ini, dia sudah bosan hidup ternyata, terlebih setelah semua yang dia lakukan," marah Sandi.
di pun membuang panggilan dari pengadilan itu, dia memutuskan untuk menemui dini.
dia langsung menuju ke rumah lama keluarga Dini, dia tak bisa melepaskan dini begitu saja.
sesampainya di rumah itu, sandi langsung masuk kedalam rumah, dia juga tau jika pak Harto baru saja meninggal dunia
tapi dia tak peduli, dia ingin Dini juga merasakan kehancurannya saat ini. karena dia tak mau cemas sendirian.
sandi masuk ke kamar Dini, ternyata wanita itu sedang berganti pakaian. karena dia harus segera membantu keluarga pak Ibnu lagi.
sandi langsung menjatuhkan wanita itu keatas ranjang, "kau tak bisa berpisah dariku, setelah semua yang ku alami, kau tak boleh bahagia di atas duka ku," maki sandi yang mencengkram dagu Dini.
"lepas kan mas, tolong kita sudah lama berpisah, dan aku bukan istrimu lagi," kata Dini berontak melawan.
tapi tenaga Sandi begitu besar, pria itu pun menampar Dini hingga terluka.
kemudian dengan brutal Sandi melakukan hubungan badan secara paksa dengan Dini.
dini tak bisa berontak, dia merasa sandi benar-benar sudah kesetanan, bahkan teriakan dan makian dini pun tak di hiraukan pria itu.
"jangan pernah berpikir untuk pergi, setelah semua yang telah aku alami, itu terjadi karena mu, ingat itu," kata sandi yang meninggalkan dini yang sudah acak-acakan.
bahkan wanita itu hanya bisa meringkuk menangis, dia tak mengira jika tabiat buruk sandi keluar.
dia pun merasakan bagaimana Feby dulu yang di paksa sandi saat ingin meminta cerai, dulu dia tertawa melihat Feby.
sekarang dia juga merasakan bagaimana sandi yang begitu dua cintai kini menginjak-injak dirinya.
"aku lelah ..." tangis Dini.
dini sudah mandi dan berganti baju, saat sandi datang dan membekap mulut wanita itu hingga pingsan.
"sekarang kamu harus menebusnya, aku tak mau meninggalkan wanita cantik seperti mu ini disini sendirian dan kesepian, aku akan membuatmu berguna untuk ku yang terakhir kali ya," gumam pria itu tertawa melihat tubuh dini tak berdaya.
Sandi pun membawa dini pergi, dia punya rencana tersendiri, dan setelah itu dia pun bisa pergi menjauh dari orang yang mengenalnya.
karena dia perlu identitas baru untuk membalas dendam, tapi sebelum itu sandi akan menjadikan dini orang paling di impikan.
toh wanita itu tak mungkin bisa hamil lagi, jadi itu nilai plus untuk wanita itu.
__ADS_1