
Dini keluar kamar saat waktu menunjukkan pukul empat sore, dia pun mulai menyiapkan lauk yang di bawa oleh ibu mertuanya.
Sandi keluar sambil mengendong Yusuf, "unda..." panggil Yusuf pada Dini.
"Iya sayang, wah sudah wangi ya Yusuf," sapa Dini yang ingin menggendongnya.
Tapi Sandi tak memberikannya, "mas tolong biarkan aku menggendong Yusuf Sebentar saja ..." mohon Dini.
Sandi pun luluh, Feby yang ingin keluar pun mengurungkan niatnya saat melihat ketiganya.
"Apa kamu memanaskan makanan dari ibu, mending tidak usah itu bisa melukai Feby, setelah apa yang tadi terjadi."
"Iya mas, aku mengerti," jawab Dini.
"Kenapa, itu masakan ibu loh mas, jarang-jarang aku bisa makan masakan ibu," kata Feby yang keluar dengan wajah sumringah untuk menyembunyikan lukanya.
Dini pun tak mengira jika Feby bisa menunjukkan ekspresi seperti itu saat ini.
"Baiklah, kalau begitu biar aku yang melanjutkan memasaknya, kakak temani mas sandi dan Yusuf ya," kata Feby berlari ke dapur.
Saat di dapur Feby menghapus air matanya, dia pun menyiapkan makan malam.
Akhirnya mereka berempat makan malam bersama, Sandi tertidur di kamar putranya saat membacakan dongeng.
Feby membawa teh untuk dirinya dan Dini, mereka sedang duduk menikmati suasana malam hari di samping rumah.
"Mbak ini biar hangat," kata Feby.
"Terima kasih, dan untuk tadi siang maafkan aku ya, seandainya aku bisa menjelaskan semuanya pada ibu pasti tadi tak mungkin terjadi, tapi aku juga tak mengerti kenapa reaksi ibu begitu," kata Dini.
"Tidak apa-apa mbak, mungkin ibu hanya takut aku menyakiti mbak lagi, setelah apa yang aku lakukan selama ini, maaf saja mungkin tak bisa menebus semua dosaku pada mbak Dini, bahkan jika mbak meminta nyawaku itu bahkan tak bisa menebus segala dosaku," kata Feby meneteskan air matanya.
"Sudahlah dek, semua sudah terjadi, ini juga bukan murni kesalahan mu dan mas Sandi," jawab Dini.
"Tidak mbak,ini semua salahku yang tergoda saat bersama mas Sandi," jawab Feby.
"Sebenarnya aku begitu membencimu saat mengetahui kebenarannya, tapi aku ingat kalau mas Sandi juga butuh seorang istri yang bisa memanjakan dirinya, hal yang tak bisa aku lakukan," lirih Dini.
"Apa maksud mbak Dini?" tanya Feby khawatir.
Dini pun menarik nafas dalam dia pun harus jujur pada madunya itu.
__ADS_1
Pernikahan Dini dan Sandi tak sepenuhnya bahagia, sandi baru mengetahui bagaimana istrinya.
Saat malam pertama mereka, saat mulai tertidur Dini berteriak keras, saat Sandi ingin mencumbunya.
Sandi pun membangunkan istrinya, "sayang kenapa?" tanya Sandi khawatir.
Dini hanya menangis tanpa menjawab Sandi, bahkan Dini sering ketakutan dengan hal kecil.
Sandi yang kebingungan tak bisa berbuat banyak, dia hanya bisa menenangkan istrinya itu.
Sebulan setelah pernikahan pun hal itu masih terjadi, Sandi mulai muak hingga ingin meninggalkan Dini.
"Mas aku mohon jangan tinggalkan aku, aku mencintaimu," kata Dini.
"Aku tak bisa tinggal dengan mu, kamu bahkan tak bisa jujur padaku, sebenarnya apa yang tejadi, kita bahkan belum melakukannya, aku juga pria normal Dini," marah Sandi yang sudah tak tahan lagi.
"Mas aku tak bisa, aku selalu teringat hal itu, aku mohon jangan paksa aku," kata Dini memohon.
"Sebenarnya apa yang terjadi Dini, keluargamu juga terus menyembunyikan segalanya, aku muak harus bertanya dan terus kebingungan seperti ini!" teriak Sandi.
"Apa orang tuaku tak mengatakan masa laluku? apa mas menikahiku tanpa mengetahui apapun?" tanya Dini sedih.
"Rahasia apa?" tanya Sandi.
Tapi Sandi juga tak bisa meminta cerai dari Dini, karena keluarganya memiliki hutang Budi pada keluarga Dini.
Sandi pun terpaksa menerima segalanya, meski harga dirinya terluka tapi dia tetap menerima Dini.
Malam pertama mereka terjadi begitu saja, meski Dini harus menahan segalanya tapi dia tak ingin melukai suaminya lagi.
Dan pernikahan mereka mulai seperti pernikahan orang-orang, sampai Dini yang belum bisa hamil meski sudah dua tahun pernikahan.
Sandi akan mengikuti semua kesukaan Dini, bahkan mereka sering memakai baju couple pilihan Dini.
Meski Sandi sempat jadi bahan ledekan teman-temannya saat berkumpul bersama.
Sandi melakukan itu untuk kebahagiaan Dini, tapi ada satu hal yang tak pernah bisa Dini lakukan, yaitu mengikuti hobi Sandi yang selalu suka touring menggunakan motor gede.
Itulah yang menjadi awal petaka untuk mereka, bahkan Dini tak berniat berubah sedikitpun sikapnya.
Feby hanya diam mendengarkan hal itu, meski dia merasa masih ada beberapa hal yang di sembunyikan dini.
__ADS_1
Tapi Feby tak berani bertanya karena itu adalah hal pribadi dari Dini.
"Aku sangat membencimu, bahkan aku hanya bisa menangis saat melihat kalian bersama waktu itu. ingin rasanya aku memukul atau bahkan menjambak mu, tapi yang bisa kulakukan hanya bisa menagis dan meminta keadilan, tapi aku berpikir dari posisi mas Sandi lagi, dan aku mencoba membuka hati untuk menerima mu, dan inilah kita sekarang, semoga kita bisa melewati ini semua ya Feby," kata Dini tersenyum.
"Insyaallah mbak," jawab Feby membalas senyum itu.
Malam makin larut, keduanya pun berpisah untuk beristirahat di kamar masing-masing.
Tapi saat masuk kamar, Feby sudah di hadang oleh Sandi dan langsung memeluk tubuhnya erat.
Dini pun tidur mengunakan penutup telinga, agar tak mendengar suara yang akan membuatnya sakit hati.
Sandi benar-benar tak melepaskan Feby malam ini, bahkan Sandi begitu menikmati olahraga panasnya.
Feby bahkan sampai tak bisa bangun karena keganasan Sandi, "maafkan aku jika terlalu semangat, sampai kamu begitu lelah," bisik sandi.
"uh ... kamu selalu gitu mas," jawab Feby.
Tapi tak di duga, tiba-tiba Yusuf masuk ke kamar mereka dan tidur di antara mereka.
Sandi dan Feby pun panik bukan main, pasalnya Feby belum mengenakan pakaian miliknya.
Sandi pun memeluk putranya, agar Feby bisa memakai baju dan ke kamar mandi.
Setelah itu keduanya malah tertawa, sandi juga sudah melarang Feby untuk meminum pil penunda kehamilan.
Pasalnya Sandi ingin memiliki anak lagi bersama Feby, karena dia tak ingin hanya memiliki satu anak.
Keesokan harinya Dini sudah akan berangkat ke sekolah, dan hanya bertemu dengan Sandi dan Yusuf.
"Mas aku pamit berangkat ya," pamit Dini.
"Aku antar, lagi pula Feby masih istirahat dan sepertinya aku harus membeli sesuatu juga, ayo Yusuf antar bunda sekolah," ajak Sandi.
"Baiklah mas," jawab Dini tersenyum. setidaknya Sandi tetap mau mengantar dirinya.
Feby bangun dan tak menemukan semua orang, dia pun menemukan pesan yang tertempel di kulkas.
Dia pun membuka kulkas dan mulai memasak ayam yang kebetulan sudah tersedia.
Dia mengunakan air frayer untuk memasak ayam itu, dan mencari saus tomat.
__ADS_1
Dia memilih sarapan sendiri, tapi saat mencium aroma susu malah sedikit mual.