
Bram sedang menunggu seseorang, pria itu bahkan tak mengira akan menginjakkan kakinya di kota yang satu tahun lalu dia tinggalkan.
dia sedang duduk menunggu seseorang yang memanggilnya, seorang wanita datang dan duduk di depannya.
meski sudah tak muda, tapi Bram begitu mencintainya, "bagaimana kabarmu Han?" tanya wanita itu dengan senyum teduh.
"kau bisa lihat, aku baik-baik saja, dan mau apa kamu memanggilku lagi ke kota ini? aku sudah tak memiliki janji apapun padamu, bahkan aku sudah menyingkirkan wanita itu atas permintaan mu," kata Bram dingin.
"kenapa Sekarang kamu berubah Han, apa benar jika kamu sudah menikah, dan sekarang merawat istrimu yang gila itu," ejeknya.
"tutup mulutmu atau aku bisa membunuhmu saat ini," ancam Bram.
"tenang Han, masak kamu tega membunuh wanita yang kau cintai," kata wanita itu tertawa.
"cukup jangan berbelit-belit, sebenarnya apa mau mu hingga memanggilku?" tanya Bram tak sabar.
"aku ingin kamu menyingkirkan satu lagi gadis yang ingin merusak rumah tangga Dini dan suaminya," kata Bu Fatma.
ya wanita yang memerintahkan Bram adalah Bu Fatma, wanita itu mengunakan janji Bram yang pernah di berikan saat sebelum mereka berpisah.
Bram yang terlalu mencintai Bu Fatmah yang lebih tua jauh darinya, dengan sangat buta meski dia di perlakukan buruk oleh wanita itu.
saat Bram di penjara dan berjuang untuk mendapatkan restu untuk menikah dengan Bu Fatma.
bahkan Bram di penjara karena menyingkirkan musuh dari keluarga Bu Fatma.
wanita itu malah menikah dengan duda kaya tak beranak pak Harto, dan yang makin menyakiti Bram adalah Bu Fatma yang hamil duluan dengan pria itu.
"aku sudah tak mencintaimu, jadi jangan mengangguku lagi, hari ini aku bertemu dengan mu untuk mengakhiri segalanya," jawab Bram.
"tapi Dini itu putrimu," kata Bu Fatma.
"bagaimana bisa, aku di penjara tiga bulan, dan kemudian kamu menikah dan hamil dua bulan, memang aku dan kamu melakukannya di penjara, bahkan saat di sel pun kamu tak datang menjengguk ku sekalipun," kata Bram.
"aku mohon bantu aku Bram," kata wanita itu.
"tidak jangan berani menemui ku lagi, cukup terakhir kali kita bertemu, dan jangan pernah mengusikku," kata Bram.
"kamu meninggalkan aku demi perempuan gila yang kau pelihara!" teriak Bu Fatma.
"setidaknya dia muda dan penurut, bukan serigala berbulu domba seperti mu, dan lagi dulu aku terlalu naif bisa di gunakan oleh wanita tua seperti mu," kata Bram sebelum pergi
Bu Fatma sudah menjadi lirikan oleh pengunjung lain, dia pun bergegas pergi dari restoran itu.
__ADS_1
"kita ke rumah Dini pak," perintah Bu Fatma.
dia tak mengira jika Bram sudah lepas dari kendalinya, padahal dia hanya mempunyai Bram untuk melakukan pekerjaan kotor seperti itu.
karena dulu Bram memang di gunakan oleh keluarga Bu Fatma sebagai eksekutor.
tapi pria itu sudah lepas dan tak bisa di tarik lagi, sekarang hanya bisa mengajari Dini untuk menjaga Sandi.
sebelum pulang dari kota itu, Bram membeli beberapa cemilan coklat, dia ingat bibi di rumah.
Bram memang tak tega membunuh wanita itu, dia membawanya pun wanita itu masih bernafas dan hidup.
wanita itu menjadi stres karena Bram terus menyiksanya dan menidurinya sesuka hati.
tapi akhir-akhir ini setelah kelahiran putranya Ale, Bram baru menyadari sangat mencintai wanita itu.
bahkan dia takut kehilangannya, itulah kenapa Bram memakaikan rantai pada wanita itu.
"mau kue apa pak?" tanya penjaga toko sedikit ketakutan melihat Bram.
"tolong kue coklat, tidak tidak, kalau perempuan sukanya kue apa ya?" tanya Bram binggung.
"banyak oak, red Velvet, tiramisu dan stroberi, memang untuk siapa?" jawab penjaga toko.
pasalnya dia tak mengira jika pria bertato di depannya itu begitu perhatian pada wanita.
"istri saya, tapi dua selama ini tak pernah terlalu suka manis," jawab Bram yang tanpa sadar terus memperhatikan Bibi.
"tiramisu dan stroberi, atau bluberi jika suka," jawab penjaga toko
"tolong yang dua di depan tadi, apa tiramisu dan stroberi," kata Bram
"baik pak, tunggu ya," kata penjaga toko itu.
Bram pun melihat beberapa koleksi toko itu, ada sebuah jepit rambut, tapi dia tak suka jika Bibi mengikat rambut.
"ini pak pesanannya, semuanya jadi enam puluh ribu," kata penjaga toko memberikan dua kotak kue.
Bram pun memberikan uang seratus ribu, "kembaliannya ambil ya," kata Bram yang langsung pergi.
sebelum naik mobil, Bram menelpon bik tum.
"iya tuan?" jawab bik tum dari sebrang telpon.
__ADS_1
"dia sedang apa bik, tadi aku meninggalkannya begitu saja," kata Bram khawatir.
"nyonya sedang menjaga Ale tuan, dia sedang bermain dan saya mengawasi keduanya," jawab bik tum.
"apa perlu sesuatu bik, mumpung saya masih di luar," jawab Bram.
"sebentar ya tuan," jawab bik tum menghampiri Bibi.
"nyonya mau titip sesuatu pada tuan?" tanya bik tum dengan berbisik.
"mau dia pulang, ini sakit ..." tiba-tiba bibi menangis.
"bik tolong loud speaker ya," kata Bram.
bik tum pun mengikuti perintah Bram, "Bibi, leher mu sakit?" tanya Bram.
Bibi mengangguk, "jawab iya Nyonya?" bisik bik tum.
"iya iya," kata bibi mengikuti bik tum.
"jika tak ingin di ikat lagi, jangan pernah kabur, dan aku segera pulang, jadi kamu tak boleh kabur dan harus menuruti baba ya," kata Bram.
"iya iya," kata bibi sambil mengangguk seperti anak kecil.
"aku menyayangimu dan Ale," kata Bram sebelum menutup telpon.
bik tum kaget mendengar ungkapan cinta itu, sedang mengangguk sambil menjawab iya.
bik tum pun kembali memperhatikan Bibi, dia ingat bagaimana wanita itu di bawa pulang dengan pakaian rumah sakit.
bahkan Bram langsung membuat wanita itu sadar dan kemudian memberikannya sebuah obat.
dan setelah itu gadis itu seakan menjadi gila, bahkan melupakan siapa dirinya.
sebulan setelah itu Bram terus tidur dengan gadis itu hingga hamil, dan sejak itu Bibi di anggap sebagai nyonya rumah.
bik tum begitu menyayangi Bibi hingga tak tega untuk melapor pada polisi karena wanita itu yang akan di siksa oleh Bram.
belum lagi dia juga tak ingin seluruh keluarganya mati di tangan Bram yang tak pernah memaafkan siapapun.
setelah sholat magrib, mobil Bram baru masuk ke rumah, Bibi langsung begitu senang.
bik tum langsung menutup pintu gerbang dan menguncinya, karena Bram tak suka ada tamu tak di undang.
__ADS_1
Bram langsung menuju ke lantai dua dan memasuki kamar milik Bibi, "kamu sedang apa?" tanya Bram yang langsung duduk di kasur lantai.
"ssttss... Ale ya diem tutup mata, jangan marah ya," kata Bibi sambil membekap mulut Bram.