
Bram sudah berangkat ke tempat usahanya, meninggalkan bibi bersama bik tum dan pembantu baru.
bibi sedang mengendong Ale dan bercanda dengan bayi itu, tak lama bik tum datang dengan susu di botol.
"apa itu, Ale makan lewat sini," kata Feby.
"ini juga makanan Ale, tapi semalam tuan menyimpannya di lemari es nyonya," jawab bik tum.
"iya begitu, Ale minum," kata bibi memberikan dot pada putranya.
"bik tum, ayo main ke atas, aku dan Ale mau main," kata bibi mengajak wanita paruh baya itu.
saat sampai di lantai atas, bibi menaruh bayinya di ranjang dan mengayunkan bayi itu dengan penuh kasih sayang.
"bik tum, aku bisa minta tolong untuk menghubungi pak Sugeng, seorang pengacara keluarga ku, dan minta dia mengambil akta cerai, karena baba akan membutuhkannya," kata bibi sambil duduk menimang putranya.
"nyonya sudah sembuh!" kaget bik tum.
"iya bik, semalam baba memberikan aku obat, tapi malah aku ingat Semuanya," jawab bibi.
"nyonya ingin pergi dari sini, meninggalkan tuan Ale dan tuan besar?" tanya bik tum sedih.
"tidak bik, aku hanya tak ingin punya hubungan yang tidak jelas seperti ini dengan baba," kata bibi sedih.
"apa kamu bilang," kata Bram yang tak sengaja pulang karena ingin mengambil berkas yang tertinggal.
"bik bawa Ale turun, jangan ada yang berani naik sebelum aku memanggil kalian," kata Bram dingin.
bik tum pun melakukan perintah Bram, Feby berdiri di depan Bram, pria itu langsung mencengkram dagu Feby.
"kamu ingin meninggalkan aku Feby?" tanya Bram dengan suara datar.
"tidak baba, aku hanya ingin kita punya ikatan, aku tak ingin kita terus berbuat dosa," jawab bibi.
"kenapa? bukankah kamu mencintai Sandi? dia ada disini? kamu ingin kembali padanya bukan?" kata Bram.
"tidak aku lebih baik di siksa di sini, bersama mu, setidaknya kamu begitu baik dan begitu memanjakan diriku, sedang di sana aku tekanan batin dan terus terpenjara karena dia terus melukaiku terus menerus, bukan hanya fisik bahkan jiwa ku juga," jawab bibi menangis.
Bram pun melepaskan wanita itu, Bram ingin pergi, "aku mohon jangan tinggalkan aku, aku mau kamu suntik gila, tapi tolong jangan tinggalkan aku," kata bibi berteriak histeris.
Bram tak memperdulikan wanita itu, dan terus berjalan pergi, Bram bahkan terlihat pergi dengan marah.
bibi mengejarnya tapi tak berhasil, dia bahkan di tahan oleh dua pembantu baru itu.
__ADS_1
"tolong Baba, jangan membuangku lagi, aku sakit terus merasa terbuang seperti dulu ...." tangis bibi di ruang tamu.
bahkan wanita itu tak mau makan maupun minum, sedang Ale di rawat dengan asi yang sudah ada stok di kulkas.
sedang Bram menuju ke Surabaya untuk menemui seorang pria, saat sanpai di kantor pria itu.
semua orang panik karena Bram yang bertato dan bermasker masuk kedalam ruangan Peni firma hukum itu dengan begitu kasar.
"aku minta akta cerai dari Febriana Ambarita, karena kami akan menikah, dan jika kau tak percaya aku akan mengundangmu," kata Bram mengacungkan pistolnya.
pak Sugeng terpaksa memberikan permintaan Bram, toh dia merasa Feby juga sudah meninggal dunia.
jadi akta cerai itu tak berguna, karena untuk warisan berada di pengacara Vans.
setelah dari tempat firma hukum itu, kini Bram menuju ke bandara, dia menjemput seorang pria.
pria itu langsung memeluk Bram, "kamu ingin langsung bertemu dengannya?" tanya Bram.
"iya baba,"jawab pria itu.
"tapi lebih baik kita makan dan bermain dulu," ajak Bram.
sedang di rumah Sandi, pria itu baru bangun pukul dua belas siang, tapi kepalanya cukup pusing.
"mas, ini ada susu jahe merah untuk mas, biar segar lagi, karena nanti malam mas bukannya tugas lagi," kata Dini.
"iya nih dek, tapi aku mimpi buruk deh," kata sandi memegangi lehernya.
"mimpi apa mas," tanya Dini.
"aku kehilangan semuanya, bahkan putraku Yusuf tak mengenalku lagi," kata Sandi lirih.
"mas ..." kata Dini memeluk Sandi.
sandi hanya merasa jika rumah mereka begitu sepi, karena tidak ada suara tangisan maupun senyuman anak yang menyambutnya.
tapi jika Sandi harus mengambil anak di panti asuhan, dia belum siap, karena dia memiliki Yusuf yang sekarang jauh di sana.
"maafkan aku mas ..." kata Sandi.
"tidak ada yang perlu minta maaf, aku hanya terbawa mimpi saja," jawab Sandi memeluk Dini.
sedang di Surabaya, Bram begitu memanjakan pria yang di jemputnya, bahkan banyak orang yang tak mengira jika sosok seperti Bram bisa sangat baik dan begitu family man.
__ADS_1
bahkan mereka tak boleh memilih orang dari sampulnya saja, buktinya Bram tetap bisa menjadi pria yang penyayang meski memiliki wajah sangar dan penuh tato.
bahkan mereka juga membeli kue, tak lupa baju satu Keluarga dan juga mainan untuk Ale.
"nyonya, ayo mandi dulu, tuan pasti pulang setelah nyonya mandi," kata bik tum.
"Ale sudah minum asi bik? atau sudah mulai Makanan Pendamping ASI?" tanya bibi.
"belum nyonya," jawab bik tum.
"mulai besok tolong di biasakan, itu akan membantunya mendapatkan gizi dari makanan," jawab bibi yang beranjak dari kursi.
dia pun mandi dan bersiap, dia pun turun dengan celana jeans dan juga kaos, tak lupa rambut pendek tergerai indah.
hingga pukul tujuh malam Bram belum pulang, bibi juga tak mau makan sedikit pun.
"nyonya, ayo makan dulu, anda dari siang belum makan," kata bik tum.
"aku menunggu baba, dia pulang aku mau makan, jika tidak dia akan marah bik," jawab bibi.
sekarang sudah pukul delapan malam, bibi mulai tiduran dan tak mau bergerak, bahkan dia hanya mengendong Ale saat bayi itu menangis.
pukul delapan malam, para warga mulai melakukan ronda, suasana terasa dingin karena gerimis.
mobil Bram pun lewat, Yusuf menyembunyikan wajahnya saat melihat Sandi ada di sana.
"permisi bapak-bapak ini ada kue, mohon di terima ya, dan ini untuk beli bakso biar menghangatkan diri," kata Bram memberikan kue dan uang.
"wah terima kasih ya pak Bram, tapi ngomong-ngomong dari mana ini, kok semalam ini baru pulang?" tanya pak RT.
"ini menjemput putra saya dari rumah neneknya, sekarang istri saya sudah membaik jadi putra saya ingin berkumpul lagi," kata Bram pada semua orang.
mobil Bram sangat gelap, sebab itu sandi tak bisa melihat siapa yang berada di dalam mobil.
tapi dia tak mengira jika Bram yang begitu terkenal dengan dingin dan kasar, malah bisa begitu baik pada warga desa ini.
"pak, sekali-kali ikut ronda yuk," kata pak hansip.
"kapan-kapan ya pak, soalnya pekerjaan saya sedang penuh jadi tak bisa di tinggal, apalagi sekarang putra saya juga baru datang setelah sekian lama," jawab Bram sopan.
"baiklah pak, terimakasih atas segalanya, dan semoga putranya betah di desa ya pak,"kata pak RT.
"iya pak, sama-sama, kalau begitu saya pamit ya, permisi ...", kata Bram melajukan mobilnya menuju ke rumah.
__ADS_1