Berbagi Cinta : Sepupuku, Istri Siri Suamiku

Berbagi Cinta : Sepupuku, Istri Siri Suamiku
kabar bahagia


__ADS_3

Hubungan Sandi dan Dini sedikit dingin dan hambar, tapi berbeda dengan Sandi pada Feby.


Dini tau jika ucapan dari Satrio sangat melukai Sandi, tapi itu tak selamanya salahnya.


"Mas bisakah jangan mendiamkan ku seperti ini," kata Dini menghentikan Sandi.


"Tolong berikan aku sedikit waktu, bagaimana bisa aku mencerna segalanya saat ini," jawab Sandi dingin.


"Kenapa mas, apa karena dia mantan ku?" tanya Dini.


Sandi marah dam langsung melempar laptop miliknya hingga hancur berkeping-keping.


"Menurutmu bagaimana perasaan ku saat ini, dia bilang seperti itu sama saja menghinaku, karena kau nampak tak bahagia, dan begitu puas dengan dirinya dulu, bahkan kamu hamil dengannya, sedang denganku kamu belum hamil meski sudah hampir enam tahun," teriak Sandi marah.


Dini hanya bisa menangis mendengar segalanya, dia tak mengira Sandi bisa mengatakan semua itu.


"Tapi itu dulu kesalahan ...." lirih Dini.


"Aku tau itu, bahkan aku tau setelah kita menikah, Kenapa? kenapa tak bilang sebelum pernikahan!" kata Sandi mencengkeram lengan Dini.


"Maaf ... tapi aku kira ayahku sudah mengatakan segalanya sebelum kita menikah," jawab Dini.


"Cukup Dini, aku mohon tolong biarkan aku sendiri dulu, aku perlu menenangkan diri, lagi pula ini masih giliran Feby, jadi aku pergi" kata Sandi.


Dini pun tak bisa berkata-kata lagi, dia tau jika segalanya memang salah di pernikahan mereka.


Bahkan Sandi sekuat tenaga bertahan demi keluarganya meski sudah di bohongi.


Jadi dengan mengizinkan sandi menikahi Feby itu seperti penebusan dosa bagi Dini.


Feby pun bingung melihat kondisi Sandi, dia hanya bisa memeluk suaminya itu.


Hari berganti, saat giliran milik Dini, Sandi akan memilih tidur di sofa atau tidur membelakangi Dini.


Dan dia akan melakukan kewajibannya sebagai suami hanya sebatas itu saat Dini memintanya.


Hari berganti bulan, pagi ini Dini merasa tubuhnya begitu lelah dan kepalanya berputar.


Feby sudah berangkat dari pagi untuk ke rumah orang tuanya, karena kakek Cahyono ingin bertemu dengannya dan juga Yusuf.

__ADS_1


Dini pun memilih untuk tetap mengajar, tapi baru juga keluar dari kamar dia sudah jatuh pingsan.


Sandi yang melihat pun bergegas membawanya ke rumah sakit, bagaimana pun dia tak bisa melihat istri yang di cintainya terluka.


"Selamat tuan, istri anda sedang hamil lima Minggu," kata dokter.


"Apa dokter? dia hamil?" kaget Sandi.


"Iya tuan, tapi saya mohon tolong jaga istri anda, karena istri anda pernah keguguran jadi kandungannya lemah, jadi dia harus istirahat total dan tak bisa melakukan pekerjaan berat," kata dokter.


"Baik dokter, terima kasih atas berita bahagianya," kata Sandi yang tersenyum senang.


Bahkan dia langsung memberikan berita tentang kehamilan Dini pada semua orang.


"Mas ini dimana?" tanya Dini yang baru sadar.


"Ini di rumah sakit, dan sebentar lagi kita akan jadi orang tua, kamu hamil dek," kata Sandi begitu senang.


"Benarkah, Alhamdulillah," kata Dini memeluk Sandi.


"Kalau begitu ayo kita pulang, dan dokter hanya meminta mu istirahat total," jawab Sandi.


Sandi pun mengajak Dini pulang, bahkan pria itu melupakan semua kemarahannya.


Sedang kedua orang wanita ibu Sulastri dan Bu Fatma sedang memasak untuk Dini.


"Pelan-pelan nak, kamu harus istirahat sesuai perintah dokter, karena kamu sedang hamil anak pertama kalian dan cucu kami," kata pak Ibrahim sangat senang.


Feby juga baru datang sambil membawa makanan yang di bawakan oleh ibu sambungnya.


Dan juga seorang pengasuh untuk menjaga Yusuf, karena dia juga harus istirahat Karena kondisinya.


"Assalamualaikum ..." salam Feby.


"Waalaikum salam ..." jawab Sandi dan Dini.


"Pak bawa menantu kita istirahat, jangan sampai mata jahat melukai calon cucu kita, dan kamu jangan mendekati Dini, karena kamu bisa melukai menantuku," kata Bu Sulastri ketus.


Feby hanya bisa diam, "maaf nona, ini Aden kecil kamarnya mana?" tanya pengsuh Yusuf.

__ADS_1


"Di sana mbak, tolong langsung tidurkan saja ya, karena saya juga ingin istirahat," jawab Feby.


"Eh tunggu ... dasar wanita pemalas, kmu ingin membuat miskin suamimu, dengan memperkerjakan seorang pengasuh, dasar benalu," hina Bu Sulastri.


"Tenang saja ibu mertua, aku bisa mengaji pengasuh itu dengan hasil toko milik ku, jadi ibu tak perlu takut putra ibu jadi miskin karena itu, lagi pula kakekku tak segan membayar seorang pengasuh demi cicitnya," jawab Feby yang kesal.


Feby selalu memiliki emosi yang naik turun saat seperti ini, Sandi pun mengikuti Feby yang sudah tak sopan pada ibunya.


"Sayang tolong bicara yang sopan pada ibu," kata Sandi.


"Aku harus bagaimana mas, ibu mas terus mengatakan aku seperti orang yang bisa mencelakai mbak Dini saja, aku tau dia sedang hamil tapi tak perlu menyakiti hatiku lagi, aku juga bis lelah," kata Feby yang akhirnya menangis sesenggukan.


Sandi pun memeluknya, "maafkan aku sayang ... aku janji aku akan membujuk ibu agar tak terlalu kasar padamu."


"Semoga mas tidak hanya bohong, karena kakek sudah ingin membawa ku pergi, jika perlakukan kelurg ms tak berubah padaku," jawab Dini.


"Iya Sayang ... iya," kata Sandi mencium kening istrinya dengan gemas.


Sandi pun keluar dari kamar Feby untuk membujuk ibunya, sedang Feby hanya bisa mengusap perutnya.


"Sabar Feby ... ini Pilihan mu sendiri ..." gumamnya.


"Nona apa anda membutuhkan sesuatu?" tanya pengasuh Yusuf.


"Tolong susu milik saya mbak, dan tak perlu keluar ke dapur karena di kamar Yusuf ada galon dan dispenser," kata Feby duduk.


"Baik nona, jika anda menginginkan sesuatu bilang saja, biar saya belikan untuk anda," jawab pengasuh Yusuf itu.


Dia merasa kasihan dengan Feby, karena dia tau benar bagaimana Feby yang selama ini sangat terluka atas ucapan orang tua dari suaminya.


"Bu, tolonglah jangan seperti itu pada Feby, dia itu juga ibu dari putraku, jangan pilih kasih seperti ini," kata Sandi di dapur.


" lTerserah ibu dong, memang apa pentingnya dengan itu, ini ibu hak ibu dong," jawab Bu Sulastri.


"Kalau begitu silahkan sayangi menantu ibu, dan ku akan menyayangi istriku dan ibu dari putraku, itu juga terserah padaku," kata Sandi.


"Kamu jangan seperti itu nak, Dini pasti sangat butuh dukungan mu," kata Bu Fatma.


"Ibu tak perlu khawatir ada mertuanya yang menyayangi Dini, bahkan dulu Feby tak ada aku di sisinya bisa melahirkan dan membesarkan putra kami dengan sehat," kata Sandi datar.

__ADS_1


Bu Sulastri tak mengira jika anaknya bisa berubah seperti ini, "sandi kamu berubah," kata Bu Sulastri.


"Jika bukan karena kalian semua membohongiku, ini tak mungkin terjadi," kata Sandi yang langsung pergi.


__ADS_2