
Feby semakin hari semakin membuat Sandi menjauhinya, tapi meskipun begitu, sandi tetap kekeh tak ingin menceraikan istri keduanya itu.
Dia pun terus menyibukkan diri di toko, sedang Yusuf dan Tami juga ikut ke toko.
Sandi bahkan sudah hampir sebulan tak menyentuh Feby lagi, bahkan Feby tak masalah akan hal itu.
Kini Feby dan Tami menuju ke sebuah kantor pengacara keluarga untuk melakukan sesuatu.
Entahlah dia merasa jika akan terjadi sesuatu yang buruk, "wah ... tumben mbak Feby main kesini? ada apa ini?"
Pria dewasa itu duduk di depan Feby, "saya ingin meminta anda melakukan gugatan perceraian saat suami saya melakukan kekerasan pada saya, dan mbak Tami akan melaporkan itu pada anda," kata Feby yakin.
"Kenapa mbak Feby, seharusnya jika ada masalah, lebih baik di bicarakan baik-baik, jangan sampai bertengkar bahkan sampai bercerai," nasehat pria di depannya.
"Maaf pak, say sudah tak kuat hidup dalam belenggu pernikahan seperti ini, saya lelah dan saya mohon jangan mengatakan apapun pada keluarga saya terutama kakek," jawab Feby.
"Baiklah, saya akan melakukan sesuai permintaan anda," jawab pria itu.
Feby pun membahas beberapa kekayaan yang dimiliki agar nantinya diberikan pada Yusuf.
Dan tak mengizinkan siapa pun mengambilnya jika Yusuf masih di bawa delapan belas tahun.
Setelah dari kantor pengacara, Feby langsung pulang bersama Tami, tapi baru juga masuk dia melihat adegan kemesraan tak tau tempat.
Tapi Feby tak peduli tentang hal itu, dia bahkan langsung menuju ke dapur untuk membuat makanan.
"Feby apa sopan masuk tanpa salam," kata Sandi menarik lengan Feby.
"Sopankah anda melakukan adegan men-ji-jik-kan seperti tadi di ruang tamu, kamu tak memiliki kamar, kamu bis mengunakan kamar milikku jika perlu," jawab Feby.
Sebuah tamparan di berikan oleh Sandi, setelah menampar pipi Feby Sandi terdiam melihat tangannya.
"Kamu berani menamparku, kau Jahat mas, aku akan menggugat cerai, aku tak sanggup lagi!" teriak Feby mendorong Sandi.
__ADS_1
"Sayang, tolong jangan marah, tolong maafkan aku, aku tanpa sadar menampar mu, kamu berubah sayang, semua ucapanmu tidak seperti dulu," kata sandi memeluk Feby di depan kamar mereka.
Dini diam melihat adegan di depannya, "lepaskan mas, kamu nikmati saja waktumu dengan istrimu itu, aku memang tak pernah ada untukmu bukan!" teriak Feby.
Kebetulan Purnomo, Vita dan Satrio datang bertamu dan menyaksikan pertengkaran Sandi dan Feby.
"Aduh-aduh hentikan Sandi, kamu melukainya lagi," kata Purnomo melihat Feby menegang Pipinya.
"Kamu bahkan tak pernah melihatku sekarang, jadi lebih baik kita berpisah," kata Feby sebelum msuk kedalam kamar dan membanting pintu di depan semu orang.
"Apa semua ini Dini, kamu tak memberikan jatah untuk Feby dan menguasai suamimu?" tanya Vita tak habis pikir.
"Aku sedang hamil dan dia harusnya mengerti keadaan ku, bukankah itu mudah, terlebih aku selalu ingin bersama suamiku," jawab Dini.
"Kau egois Dini, bagaimana pun Feby juga istri Sandi, kamu bahkan membiarkan suamimu menampar istrinya, setidaknya kamu harus menengahi jika mereka bertengkar," kata Vita.
"Sudah hentikan pertengkaran ini, kita seharusnya berkunjung untuk bersenang-senang tapi kenapa malah berantem sih," kata Satrio menengahi.
"Sudah hentikan, kita berkumpul untuk membahas pekerjaan," jawab Sandi yang kini duduk bersama yang lain.
Tapi saat mereka mulai membahas tentang usaha yang akan di perluas, dan akan mengunakan ruko yang sudah di izinkan.
Tiba-tiba karyawan yang menghendel semua laporan tentang usaha milik Sandi di bidang kuliner menelpon.
Saat Sandi mengangkat dan mendapatkan laporan dia terkejut bukan main, pasalnya Feby mencoret namanya dari usaha bersama itu.
Sandi pun semakin marah, Satrio melihat perubahan emosi itu. Feby keluar dari kamarnya dan tersenyum mengejek Sandi.
"Mulai sekarang, aku tak ingin memiliki ikatan dalam usaha dengan mu mas, kamu harus mandiri menghidupi keluarga mu, dan ini tagihan untuk kebutuhan Yusuf selama sebulan," kata Feby memberikan sebuah list pada Sandi.
"Apa maksudmu ini Feby, kamu melakukan ini, kamu benar-benar ingin berpisah atau ingin menghancurkan ku," kata Sandi marah.
"Tanya pada dirimu, bukankah kamu terus memanjakan istri pertama ku bukan, sekarang kamu juga harus adil membagi pendapatan mu bersama Yusuf, karena aku tak ingin menanggungnya lagi," jawab Feby.
__ADS_1
Dini pun ikut terpancing amarahnya, dia datang dan langsung menjambak Feby.
Satrio tak terima melihat perlakuan dari Dini dan Sandi pada Feby, wanita itu sudah terlalu terluka selama ini.
"Hentikan ini, kalian pasangan yang menjijikkan, terutama kau Dini, aku tak mengira kamu bisa melukai wanita lain, padahal kau sendiri yang meminta dan mengizinkan suamimu menikahinya," kata Satrio melindungi Feby.
"Siapa kau berani ikut campur masalah keluargaku," marah Sandi.
"Aku memang bukan siapa-siapa, tapi kau keterlaluan, aku sudah tau segalanya, Feby tak pernah mengambil uang mu selama menikah, tapi kamu tak keberatan bahkan tak protes suami apa kamu, dan kamu Dini, sudah di hina berkali-kali kamu tetap ingin bersama pria seperti ini," kata Satrio.
"Tolong bawa aku pergi, aku lelah ..." tangis Feby di balik tubuh Satrio.
"Jangan jadi ****** kau Feby, ingat aku masih suamimu!" teriak Sandi.
"Sandi jaga bicaramu, kau yang mengemis sekarang kau yang menghinanya," bela Purnomo pada Feby.
"Jangan ikut campur," kata Sandi menunjuk Purnomo
"Kau gila, aku mengenal siapa Feby, kau yang mengancamnya hingga terpaksa menikah dengan mu, dan asal kau ingat, kau bahkan pernah mengumbar aib istrimu Dini, sekarang kalian sok suci, sekali kau bejat, akan selamanya bejat," maju Purnomo.
"Hentikan, kenapa kalian memojokkan kami, apa salahku yang ingin bermanja dengan suamiku, apa salahnya," kata Dini sedih.
"Kau tak salah Dini, tapi kau hanya tak memiliki sikap yang berani mengambil keputusan, seandainya kamu meninggalkan Sandi, aku bisa menerima mu, karena kau pernah hamil dengan ku," kata Satrio di depan semua orang.
Feby mundur setelah mendengar perkataan Satrio, ternyata Dini yang di anggapnya baik ternyata juga pernah punya masalalu yang buruk.
"Kenapa semua membelanya, itu kesalahan remaja, dia bahkan merebut kasih sayang kakekku juga," tunjuk Dini pada Feby.
"Karena kamu membunuh ibuku, dan aku menyaksikan itu bersama kakek dengan mata kami, itulah kenapa kakek mengusir dan tak menganggap keluargamu lagi!" teriak Feby karena sudah muak.
Kini semua diam, mereka baru tau jika Dini pembunuh, dan itu adalah ibu kandung Feby.
"Kamu keterlaluan, kamu seharusnya tak melakukan itu, bahkan saat kamu bisa menyelamatkan ibuku, tapi kamu tak mau meraihnya, agar ibuku tak jatuh dari lantai tiga rumah yang belum jadi itu, kamu membuatku kehilangan ibuku, bahkan kamu tak pernah merasa bersalah sedikitpun ...."
__ADS_1