Berbagi Cinta : Sepupuku, Istri Siri Suamiku

Berbagi Cinta : Sepupuku, Istri Siri Suamiku
nama baby's


__ADS_3

sesampainya di rumah sakit Feli langsung di bawa ke UGD, dan Bu Iin khawatir terlebih Feli beberapa hari ini sedang sangat sensitif.


"Farhan, ibu mohon tolong pikirkan lagi tentang keputusan mu, ibu sedih kalau lihat Feli beberapa hari ini terus sedih,bahkan dia sering menangis memeluk Yunus," kata Bu Iin


"benarkah itu Bu, ah.... aku suami buruk," kata Farhan frustasi.


"maaf keluarga pasien?" kata dokter yang keluar dari ruang UGD.


"saya suaminya dokter," kata Farhan bergegas menghampiri sang dokter.


"pak, mulai sekarang tolong jaga mood istri anda ya, dia sedang hamil delapan Minggu, dan sepertinya dia tertekan dan stress," kata dokter yang ingin sekali mencekik sahabatnya itu.


"maaf aku sedang dalam masalah," jawab Farhan.


"hei kamu punya kakak ipar seorang Bram,gunakan, dan aku mau beri tahu jika nyonya Bram sudah melahirkan, dia ada di ruang VVIP," kata dokter itu.


"benarkah, ah aku akan kesana tapi aku harus melihat istriku dulu," kata Farhan.


"baiklah, dia harus menginap di rumah sakit tiga hari, setidaknya sampai kondisinya membaik," jawab dokter itu sebelum pergi.


"baiklah, terima kasih bro," jawab Farhan.


Bu Iin pun di antar pulang oleh supir Farhan, dan Fathan yang akan menjaga istrinya.

__ADS_1


Farhan mengenggam tangan Feli, dia pun sempat ketakutan saat melihat kondisi Feli.


pasalnya dia teringat dengan sosok almarhumah istrinya, terlebih dirinya juga tak pernah menjaga mantan istrinya sungguh-sungguh.


"maafkan aku sayang, aku tak bermaksud membuat mu seperti ini, bangunlah sayang, aku mohon ... demi aku dan Yunus," kata Farhan memohon dengan sungguh-sungguh.


"pergi ..." usir Feli saat melihat suaminya.


"maafkan aku, aku bodoh yang berpikir ingin melukaimu dengan cerita yang melukai keluarga mu, aku janji itu tak akan terjadi," kata Farhan.


"baiklah berjanjilah atas namaku,jika kamu berbohong maka aku akan membunuh diriku di depan matamu langsung," ancam Feli.


"baik aku mengerti, dan ada berita bahagia untuk kita," kata Farhan dengan senyum yang mengembang.


"kakak ipar sudah melahirkan di rumah sakit ini, dan kita juga akan menjadi orang tua,"


"apa jadi orang tua, maksudnya mas, kita kan memang sudah jadi orang tua," jawab Feli polos.


"bukan seperti itu mami, kita akan memiliki anak sendiri, karena kami sedang hamil delapan Minggu," jawab Farhan.


mendengar hal itu, feli begitu senang dan langsung memeluk Farhan, dan keduanya berjanji tak akan saling melukai.


sedang di ruang rawat bibi, Edgar dan Bram sedang memilih beberapa nama untuk dua bayi itu.

__ADS_1


"Eren dan Arin, bagaimana pa, seperti Edgar dan Ale," kata bibi.


"terus nama panjangnya?" tanya Bram


"Erenst Vanco Bramastyo, dan Arinda Vanco Bramastyo," kata Edgar yang datang membawa kopi dan teh hangat.


"sempurna, terima kasih putra papa," kata Bram begitu senang.


Bram pun menyukai usul putranya itu, "tak sangka punya putra pintar seperti ini begitu menyenangkan,"


"hei dia juga putraku, jangan kamu akui sendiri saja," kesal Bibi.


"iya iya, Edgar anak papa dan mama," jawab Edgar duduk di samping Bram.


Bram pun menerima sebuah pesan dari Farhan yang mengucapkan selamat tentang kelahiran bayi mereka.


Bram heran bagaimana dia tau, ternyata kebetulan ada dokter yang tadi menangani Feli datang untuk memeriksa kondisi bibi.


"halo kakak ipar, halo bro, kamu tau gak ada berita bahagia, selamat kalian akan memiliki keponakan, istri Farhan sedang di sini karena dia sedikit lemah karena trimester pertama," terang Gatot.


"oh ternyata kamu, aku kita siapa yang memberi kabar tentang ini, kok dia bisa tau, dasar dokter lemes," kesal Bram.


"papa ..." kata bibi melihat suaminya itu.

__ADS_1


"maaf ma ..." jawab Bram.


__ADS_2