
Dini kaget di seret masuk kedalam mobil Jeep, sedang Joni yang pergi bersamanya hanya diam mengawasi.
"hei kau yang ingin kami tertangkap polisi, sekarang kita akan membawa mu pergi, karena kau berani melaporkan kami polisi,bahkan berani mencoba lari," marah preman yang meringkus Dini.
"lepaskan aku, aku tak ingin kembali ke tempat busuk itu," marah Dini.
sebuah tamparan di terima wanita itu dengan sangat keras, "menurut mu kau bisa lari, asal kau ingat kamu sudah di jual jadi tak semudah itu kamu lepas dari kami," kata preman-preman itu.
"aku mohon hubungi adik sepupuku, dia akan menebus diriku, aku tak ingin kembali ke tempat itu," teriak Dini.
"hei sadar, kau itu cuma benalu di rumahnya, asal kau tau ini juga perintah dari tuan Bram yang tak suka kamu berada di rumah itu, terlebih kau bisa membahayakan istrinya, jadi selamat mendekam di tempat yang kau anggap kotor itu, ha-ha-ha."
dini pun terdiam, dia tak mengira jika Bram begitu kejam, bahkan tak tergoda dengan dirinya.
apa pria itu sudah tau niatan darinya yang ingin menghancurkan rumah tangga bibi.
dia merasa jika Bram itu pria bodoh, kenapa menyukai bibi yang kalah cantik dengan dirinya.
sekarang dia sudah di bawa pergi menuju ke tempat batu, yaitu di luar kota apalagi setelah apa yang dilakukan dini memaksa mereka pergi dari kota itu.
sedang di rumah Feli, wanita itu sudah siap karena Farhan ingin mengajaknya pergi.
begitupun dengan bayi Yunus yang sudah tampan dengan baju senada, tak lama Farhan menghampiri keduanya.
"kenapa belum masuk mobil?" tanya Farhan dingin.
__ADS_1
bagaimana bisa masuk, aku sedang bingung mau bawa apa, terlebih mas tidak bilang mau bertamu ke rumah siapa?" tanya Feli lirih.
"bawa apa saja, dia pasti senang, sudah masuk ke mobil," ketus Farhan.
mobil mereka pun membelah jalanan kota Surabaya, dan mobil itu berhenti di sebuah rumah mewah.
saat mobil berhenti, telihat Bram dan bibi keluar menyambut keduanya, dan Feli tak menyangka jika rumah dari kakaknya bisa sebesar ini.
karena baginya rumah Farhan saja sudah besar, tapi ini lebih besar lagi, "selamat datang Feli, kak Farhan," sapa bibi dengan hangat.
"iya kak, aku kangen mbak ..." kata Feli malah sesenggukan.
"hey... kenapa menangis nanti putra mu ikut menangis, sudah ayo masuk," ajak bibi.
tapi yang tidak di ketahui Feli, sebenarnya bibi sudah tau semuanya, terlebih Bram yang menceritakan tentang segalanya pada bibi.
"kak Farhan, apa adikku membuat mu susah? terlebih Feli adalah putri kesayangan di rumah kami," kata bibi melihat Farhan.
"tidak kakak ipar, dia ibu yang baik dan menantu kesayangan ibuku," jawab Farhan.
"tapi dia bukan istri kesayangan mu, rumah tangga itu tak hanya menjadi ibu sambung yang baik atau menantu, tapi juga harus jadi istri yang baik juga bukan," kata bibi tersenyum.
"itu benar, berhenti melukai istrimu Farhan, aku tau semuanya, terlebih bagaimana perangai mu, jangan marah begitu, aku tau sikap mu itu, Feli bahkan tak mengatakan apapun pada bibi," kata Bram.
"jangan marah begitu dong kak Farhan," kata bibi.
__ADS_1
"halo Tante," sapa Edgar yang datang dengan baby Ale.
"halo keponakan Tante yang tampan, ah Ale juga sudah besar," kata Feli mencubit pipi keduanya.
"sudah Farhan, ikut aku msuk ke ruang kerja, dan biarkan kedua Wanita ini berbincang, dan sayang tolong minta bik tum mengirimkan makanan pada kami ya," kata Bram mencium pipi bibi di depan semua orang.
"iya sayang, sudah pergi sana," kata bibi mengusir suaminya.
"kak Farhan, kamu tak ingin melakukannya juga," kata bibi pada adik iparnya itu.
Farhan pun mengikuti perintah bibi, Feli pun di buat deg-degan oleh perintah bibi.
"mbak..."
"kenapa? kalian ini suami istri dek," jawab bibi.
saat Farhan ingin mencium pipi Feli, tak sengaja Bu Inggrid datang, "eh ada Feli dan suaminya," kata Bu Inggrid yang membuat Feli menoleh.
dan Keduanya malah berciuman bibir di depan semua orang, keduanya begitu malu setelah itu.
Farhan begitu terpaku merasakan bibir lembut istrinya yang sudah hampir satu bulan ini di anggurkan olehnya.
sedang Feli memegangi dadanya yang berdegup kencang merasakan bibir Farhan.
sedang Farhan merasakan gejolak aneh di dirinya, dan dia berusaha mungkin meredam hal itu.
__ADS_1