
"aku melihat bunda Dini di rumah sakit papa, aku takut dia akan melukai mama," jawab bocah itu.
"tenang sayang, itu tak akan terjadi, percaya pada papa, sudah sekarang ke kamar mama, papa harus bertemu om Dimas sebentar," pamit bram.
sedang Farhan sudah kembali dari tugasnya dari Bram, dan kerja melakukan dengan begitu bersih.
Feli sedang bermain dengan Yusuf saat Farhan datang dan langsung mandi.
Feli mengendong bayi itu dan menyiapkan makanan dan minuman kopi pahit kesukaan dari Farhan.
"silahkan makan mas," kata Feli sopan.
"terima kasih," jawab Farhan dingin.
"mas, boleh aku izin keluar untuk menjengguk mbak bibi, dia sedang di rumah sakit karena dia mengalami masalah kesehatan," izin Feli.
"kita berangkat bersama, kebetulan aku juga ada urusan dengan Bram," jawab Farhan.
"baiklah mas," jawab Feli pasrah.
Bram bertemu dengan Dimas, mereka saling bercerita dan menjelaskan siapa Dini itu.
sedang di ruangan bibi, Edgar menyuapi mamanya itu, "bagaimana keadaan adik mu Ale,Edgar?"
__ADS_1
"dia baik ma, Oma begitu sabar menjaga Ale, meski saat malam dia sedikit rewel," jawab Edgar
"baiklah, dan kenapa kamu terlihat tak nyaman seperti ini?"
"aku melihat bunda Dini di rumah sakit ini, dan papa sedang bertanya pada orang yang bertanggung jawab padanya," jawab Edgar.
"owh benarkah, bantu mama ya sayang, mama ingin melihat bunda, bagaimana pun dia tetap saudara kita," jawab bibi.
mereka pun keluar, Bram dan Dimas kaget melihat bibi yang datang di dorong Edgar dengan kursi roda.
"ada apa ini, kenapa kalian datang, bukankah dokter menyuruhmu istirahat sayang,"
"maaf papa, aku hanya ingin melihat kondisi mbak Dini, bagaimana pun dia tetap saudaraku," jawab bibi.
Dimas pun mempersilahkan mereka masuk, Dini kebetulan juga sadar dari pingsannya.
Dini pun menangis melihat sosok wanita yang selama ini dia lukai, bahkan dia ingat bagaimana perlakuan buruknya pada bibi.
"sudah tak perlu kita lihat masa lalu mbak, kita kan saudara," jawab bibi.
siang itu Farhan dan Feli juga, terlihat Keduanya begitu serasi. meski wajah Farhan menunjukkan perasaaan dingin pada Feli.
hari berganti hari, akhirnya bibi di izinkan pulang, begitupun dengan dini.
__ADS_1
tak terduga bibi meminta Dini tinggal di rumah keluarga Bramantyo, karena Dini tak punya tempat.
terlebih setelah mereka tau jika dini mengalami hal buruk, tapi sayangnya wanita itu tak sepenuhnya jujur.
baby Ale begitu senang melihat bibi pulang, begitupun dengan papa Vin dan Bu Inggrid.
tapi mereka kaget saat melihat ada wanita lain yang datang, apalagi melihat reaksi dari Edgar yang seperti ketakutan.
"ayo nak, kita masuk, Bram gendong baby Ale, kasihan papa mu," perintah Bu Inggrid.
"iya ma, Edgar apa kamu tidak les privat lagi," tanya Bram.
"bukan tidak les pa, aku hanya meminta ibu guru untuk memindah jamnya ke sore hari," jawab Edgar.
"bocah pintar," kata Bram.
Dini merasa tak suka melihat kebahagiaan dari bibi, dia yang begitu terluka.
terlebih Sandi membuatnya menjadi wanita panggilan, dan berjuang untuk merenggut kembali Feby dari sisi Bram.
"Bik tum, tolong tunjukkan kamar tamu pada mbak Dini ya, untuk sementara biar dia tinggal di sini untuk keamanan," kata bibi.
"baik nyonya, mari non," ajak bik tum.
__ADS_1
sebenarnya Bu Inggrid merasa ada yang aneh dengan dini, dan dia harus mengawasi semuanya agar cucu dan menantunya itu tak kenapa-apa.