Berbagi Cinta : Sepupuku, Istri Siri Suamiku

Berbagi Cinta : Sepupuku, Istri Siri Suamiku
jangan mimpi.


__ADS_3

Hari ini Dini dan Feby pulang dari rumah sakit, Feby pulang bersama mertuanya.


Sandi tak mengizinkan jika Feby pulang ke rumah orang tuanya, jadi terpaksa pak Ibrahim mengantar Feby.


Dini sedang beristirahat di ruang tamu, saat Feby dan rombongan baru datang.


Bu Sulastri mengandeng tangan Yusuf, dan bocah itu nampak begitu bahagia besar neneknya.


"Ibu datang," sapa Dini.


"Iya nak, kebetulan ibu tadi habis bermain dengan Yusuf, karena bocah ini terus minta bermain, benar tidak cucu eyang yang tampan," kata Bu Sulastri gemas pada cucunya itu.


"Aduh dia juga cucu kakek loh," kata pak Ibrahim tak mau kalah.


Dini merasa marah melihat itu, tapi dia hanya bisa menahannya saat ini.


Feby berjalan di bantu Tami, karena tubuhnya masih sangat lemah, sedang Sandi mengendong Dini naik ke lantai untuk beristirahat.


Feby memilih beristirahat di ruang keluarga sambil mengawasi putranya dan keluarganya bermain.


Sandi turun dengan wajah yang berubah, wajah marah itu Feby mengenalinya.


Karena sebelum keguguran beberapa hari lalu, akan itu yang terlihat oleh Feby.


"Ibu, ayah, dan Tami, tolong ajak Yusuf bermain ke mall terdekat, aku kemarin sudah berjanji, dan tolong penuhi janjiku ini ya ...."


"Baiklah, ayo Tami, kita juga membeli makanan untuk semua orang," ajak Bu Sulastri.


"Tapi nona, biarkan aku di sini ya, aku akan menemani nona," kata Tami.


"Tidak apa-apa mbak, ada mas Sandi disini, dan lagi aku tak butuh apapun, jadi kamu bantu ibu saja menjaga Yusuf," kata Feby meyakinkan Tami.


Tami pun terpaksa mengikuti keinginan Feby, Bu Sulastri dan yang lain pun pergi.


Feby melihat Sandi, kemudian Sandi naik ke lantai atas dan mengajak Dini kembali turun.


Terlihat Dini memeluk erat tubuh Sandi yang turun dari lantai dua itu.


Mungkin dulu Feby akan sedih dan sakit hati melihat itu, tapi sekarang hatinya tak merasakan apapun.

__ADS_1


Bahkan dia hanya merasa jijik, karena Sandi terus mengekang kebebasan dan dirinya.


Dan itu yang perlahan-lahan mengikis rasa cintanya pada Sandi, dan itu sudah hilang sejak lama.


Dini pun duduk di sebrang Feby, sedang Feby menyalakan ponselnya untuk merekam suara yang akan mereka bicarakan.


"Ada apa ini? kenapa mbak Dini turun, bukankah harusnya anda istirahat mbak?" tanya Feby dengan sopan.


"Hentikan kebohongan mu Feby, jangan bicara omong kosong terus, kaku jangan terus sok polis dan tak tau apa-apa," sarkas Sandi.


"Mas, jika ingin bertanya, kamu bisa bicara baik-baik dengan ku, tak perlu berteriak seperti ini," jawab Feby santai.


"Feby, jangan seperti ini, bilang saja jika anak yang kau kandung itu bukan milik mas Sandi, itu milik pria lain," kata Dini.


"Kamu ini bicara apa sih mbak, jangan ngomong berbelit-belit lah, pria lain apa?" tanya Feby masih mencoba bertahan.


"Ini buktinya, kau bersama Satrio tertawa bersama, apa ini normal, kamu itu wanita bersuami!" maki Sandi.


"Apa kalian sudah bertanya dengan mas Satrio, dia mengakui atau tidak?" tanya Feby.


"Dia mengakui semuanya Feby, bagaimana dia dan kamu menghabiskan malam bersama," kata Sandi.


"Kau mengakuinya, kau jahat Feby, aku mencintaimu, tapi kamu!" bentak Sandi.


"Mas yakin mencintaiku, bukankah aku hanya orang yang kau tahan disini, cinta mu hanya untuk mbak Dini," jawab Feby.


Sandi diam, dia tak bisa menjawab Feby, sedang Feby tertawa menertawakan hidupnya.


Dia tak mengira keputusannya menikah dengan Sandi demi Yusuf, malah melukai dirinya sendiri.


"Kalau mbak Dini yakin jika mas Satrio ayah anak ku, tentu seharusnya dia mencintaiku saat dia menyentuhku, seperti dia menyentuh mbak Dini dulu bukan, bagaimana caranya mengecup bibir dan leher pasti, ah... dia mungkin sangat perkasa bukan, apa mbak Dini menginggatnya," kata Feby pada Dini.


Dini terdiam tanpa bisa menjawab wanita itu, "Feby!!!" teriak Sandi menampar pipi Feby keras.


"Bunuh aku, biarkan aku mati dan bebas dari iblis seperti kalian berdua, aku muak dengan semuanya, cintamu palsu, sopan santun mu palsu, serta kehormatan dan agama yang di banggakan oleh kalian, semuanya palsu!"


"Feby!!!" sebuah tamparan kembali melukai pipi halus milik wanita itu.


"Kau jahat Feby, kau mengorek luka lamaku, aku tau jika aku kotor saat menikah, itulah kenapa aku menyetujui mas Sandi menikahimu, agar dia juga bahagia, tapi kenapa kamu seperti ini Feby, kamu menghianati suamimu Feby," kata Dini menangis.

__ADS_1


"Itu Seperti apa yang kau taburi itu yang kau tuai, seperti mas Sandi menghianati mu, aku menghianatinya, bukankah sana saja," jawab Feby.


"Aku sudah meminta pengacara ku, mendaftarkan perceraian kita di pengadilan agama Jombang, dan lebih baik aku menjanda seumur hidup, dari pada aku memiliki cinta seperti dirimu, kamu pernah menyelingkuhi mbak Dini, dan aku yakin akan ada Feby, Feby lain di hidupmu, dan untukmu mbak kau wanita bodoh!" teriak Feby.


"Jangan harap akan semudah itu," kata Sandi menjambak rambut Feby dan membawanya ke kamar mandi.


Sandi langsung menenggelamkan kepala Feby ke bak kamar mandi, Feby pun mencoba melawan tapi tubuhnya masih lemas.


akhirnya Feby pingsan di kamar mandi, sedang Sandi mencari semua bukti yang di simpan Feby dan menghancurkannya.


Sandi tak akan semudah itu melepaskan Feby, karena dia tak bisa kehilangan wanita itu.


"Selamanya, kau harus tetap bersama ku, dan kamu harus menjadi istriku, Jika tidak bisa maka jadilah budak ku," gumam Sandi.


Sandi pun memilih untuk meninggalkan kota itu, karena jika terus di kota ini.


Maka dia dan kedua istrinya akan berada dalam masalah, apalagi sekarang orang tuanya mulai memihak pada Feby.


Tubuh Feby memucat, dia terlalu lemah, apalagi dia juga baru saja sembuh dari pemulihan setelah keguguran.


Sandi sudah kehilangan otak dan hatinya, dia bahkan tak bisa berpikiran jernih.


Tami dan keluarga Sandi datang bersama Yusuf, Dini dan Sandi sedang beristirahat di kamar atas.


"Nona!" panggil Tami.


Dia pun mencari sosok wanita itu dimana pun tapi tak menemukannya.


Hingga akhirnya Tami masuk ke kamar Feby dan melihat pintu kamar mandi terbuka.


Tami pun bergegas melihatnya dan betapa terkejutnya dia melihat tubuh Feby sudah pucat seperti mayat.


"Tolong.." teriak Tami melihat Feby.


Pak Ibrahim berlari ke kamar dan melihat Tami sudah memeluk tubuh lemas Feby yang sudah memucat.


"tolong pak, nona seperti tak bernafas," tangis Tami


Pak Ibrahim pun mengendong Feby dan membawanya ke rumah sakit, Bu Sulastri menangis melihat Feby yang sudah begitu lemas bahkan sudah seperti mayat.

__ADS_1


__ADS_2