
seorang pria membawa makanan dan kebutuhan bayi ke rumahnya, pria yang terlihat begitu bengis dengan tatto di seluruh tubuhnya.
Bahkan ada sebuah bekas luka besar di wajahnya, semakin membuat siapa pun ngeri melihatnya.
bahkan tadi saat dia minimarket, semua orang di minimarket terkejut saat pria itu membayar di kasir, pasalnya pria itu membeli Pampers hingga dua pack yang paling besar.
setelah sampai di rumah, dia menaruh belanjaannya di sebuah kamar, dan dari kamar itu terdengar suara tangisan bayi mungil.
pria itu tak mengira akan memiliki bayi, tapi apa mau di kata, pria itu pun mengambil bayi itu dari kamar dan menimangnya.
bagaimana pun dirinya yang kejam dan berdarah dingin, dia tetap seorang ayah.
Feli pulang dengan semua barang Feby tanpa tertinggal sedikitpun, bahkan untuk parfum dan makeup.
sedang Dini tak mengira jika Feli bisa melakukan semua itu, karena dia mengira jika keluarga itu tak akan mencari lagi.
tapi nyatanya semua tetap tentang uang, Sandi memilih duduk di kamar itu sendirian.
sedang Dini merenungkan segalanya di dapur, Sandi pun datang dan duduk di depan Dini.
"mas butuh sesuatu?" tanya Dini.
"tolong buatkan kopi panas ya dek," kata Sandi.
Dini pun membuatkan minuman pesanan suaminya, sedang Sandi merasa hidupnya kosong.
karena makin hari, rumah mereka makin sepi, terlebih Yusuf yang biasanya menghiasinya harinya dulu.
kini sudah pergi menjauh karena ulahnya sendiri, sedang Dini juga belum hamil meski sudah satu tahun lebih.
"dek, apa kata dokter?" tanya Sandi.
"katanya kandungan ku baik-baik saja mas, tapi entahlah kenapa bekun bisa hamil lagi," jawab Dini dengan menahan tangisnya.
karena dia menyembunyikan hal besar dari Sandi. karena Dini yakin jika dia mengatakan yang sejujurnya pasti Sandi akan menikah lagi.
Dini tak ingin ada wanita lain di hidup keduanya, dia ingin tenang menjalani bersama Sandi.
__ADS_1
setelah meletakkan kopi panas itu, Dini memeluk tubuh Sandi, dan ingin menggoda suaminya itu.
"tidak dek, aku sedang tak ingin melakukannya, tolong mengerti ya," kata Sandi.
"baiklah mas, kalau begitu aku keluar dulu untuk membeli barang belanja bulanan ya," pamit Dini.
"hati-hati ya, jangan sampai terluka, maaf tak bisa mengantarmu, karena aku merasa begitu lelah," kata Sandi dengan lembut.
dini pun mencium kening Sandi dan pergi, sedang sandi memilih ke kamar Feby untuk beristirahat.
tapi saat di kamar itu, dia malah teringat bagaimana Feli yang menggoda dirinya saat di bengkel.
Feli lebih berani dari Feby, gadis itu juga lebih terbuka tentang hubungan dengan pria.
"cukup Sandi, jangan melukai hati Dini lagi, kamu sudah terlalu jahat, hanya dia yang bertahan dengan mu sekarang, bahkan Feby saja hilang entah kemana," gumam Sandi.
sedang di supermarket, Dini tengah memilih barang belanjaan, saat melewati bagian bayi.
dini sedikit merasa sedih bahkan meneteskan air mata, pasalnya dia belum bisa merasakan menjadi seorang ibu saat ini.
ada seorang ibu muda yang terlihat masih begitu beliau sedang berjalan sambil mengendong bayi.
"iya mbak, wah anaknya lucu sekali, umurnya berapa?" tanya Dini yang gemas.
"baru tujuh bulan mbak, dan lagi lucu-lucunya, sampai suami tiap hari terus di ambil fotonya," jawab gadis itu.
"iya ya, ya sudah semoga tetap sehat ya, ibu dan baby-nya, saya pamit dulu," kata dini pergi mendorong troli belanjaan.
sedang gadis itu hanya mengangguk, dan memilih popok untuk Putranya yang sedang tersenyum kearahnya.
sedang tak di kira, ternyata Feli dan Soraya juga sedang berbelanja di supermarket yang sama.
bahkan mereka sedang membeli keperluan sangat besar, entah apa yang akan mereka lakukan.
tak sengaja troli belanjaan mereka saling bertubrukan, dan Feli menatap wanita di depannya itu dengan tajam.
"aduh sial sekali aku ya, udah ketemu wanita buta dan mandul ini, kasihan ya Bu," kata Feli dengan nda mengejek.
__ADS_1
"tutup mulutmu, atau aku bisa melakukan apapun untuk menyakiti dirimu," kata Dini mengancam Feli.
"hak takut kok, kamu mau membuat kak Satrio membelamu, tapi sayang pria itu sudah pergi jauh, dan sekarang tak ada yang kan membelamu, dan tinggal tunggu hati kau di depak oleh suamimu itu, apalagi jika dalam beberapa bulan kamu tak bisa hamil, pasti di buang dong," kata Feli makin di atas angin.
Dini pun merasa sesak dan memilih pergi, setelah membayar di kasir, dia tak langsung pulang.
dia memutuskan untuk datang ke rumah orang tuanya dan ingin sendiri dulu.
Bu Fatma kaget melihat putrinya yang datang dengan keadaan yang cukup buruk.
bahkan Dini tak mengatakan apapun dan langsung pergi naik ke kamarnya begitu saja.
Bu Fatma pun bergegas mengejar Dini, dia pun mengetuk pintu kamar Dini dengan pelan.
"nak, ada apa? kenapa kamu menangis, tolong bilang pada ibu, dan ibu akan melakukan apapun untuk mu," kata Bu Fatma.
"tidak Bu,Dini kecewa, Dini marah, Dini merasa tak Sempurna, apalagi setelah kepergian Feby dan putranya, serta kedua mertua yang meninggalkan kami, aku belum bisa hamil Bu, aku takut Bu ... aku takut ...."
Bu Fatma pun membuka kamar dan langsung memeluk putrinya itu, dia sudah melakukan yang terbaik.
apalagi setelah dia melakukan usaha terakhirnya, dan sekarang dia tak bisa melakukan apapun lagi.
"berdo'a bak, dan jika perlu kalian adopsi anak saja, siapa tau setelah itu kamu bisa hamil," kata Bu Fatma membesarkan hati putrinya.
"sepertinya berat Bu, apalagi jika mas Sandi tak bisa menerima anak itu, itu bisa menjadi masalah di masa depan," kata Dini.
"terus harus bagaimana nak, ibu juga bingung, dan sebisa mungkin jangan sampai suami mu tergoda oleh wanita lain lagi, soalnya ibu tak bisa membantumu lagi,"kata Bu Fatmah.
wanita itu merasa buruk, terutama jika keluar rumah, akan melihat semua selebaran yang di pajang untuk mencari Feby.
padahal wanita itu sudah satu tahun pergi dan hilang, tapi keluarganya tetap memasang wajah Feby dan terus mencari wanita itu.
bahkan sekarang Bu Soraya dan Feli datang ke sebuah panti asuhan dan memberikan bantuan untuk semua anak yatim.
mereka hanya ingin meminta satu doa, yaitu ingin segera bisa menemukan Feby.
tapi bersamaan dengan itu, malah rezeki keluarga Feby juga terus membaik, bahkan kakek Cahyono menambahkan untuk hadiah yang berhasil menemukan Feby.
__ADS_1
tapi itu tetap tak membuahkan hasil sedikitpun, tapi mereka tak akan patah semangat.
selama mereka tak melihat jenazah Feby di temukan, maka mereka akan tetap menganggap Feby masih hidup.