
"sudah Edgar, mama mau mengambil buah dan cemilan untuk semua orang," kata bibi yang bangun dari duduknya.
"biar aku bantu ma," jawab Edgar dengan bergegas bangun.
"acu," kata baby Ale yang juga bangun dan berjalan ke arah bibi.
bibi pun mengangguk dan berjalan dengan sedikit kesulitan, tapi baru juga beberapa langkah.
bibi mengeluarkan air di antara kakinya, "loh, mama pipis?" tanya Edgar melihat air itu.
tapi bibi mengenggam erat tangan Edgar, "bukan pipis nak, sepertinya air ketuban mama pecah," jawab bibi menahan rasa sakit.
semua orang pun panik, Bram langsung mengendong istrinya, papa Vin meminta supir menyisakan mobil segera.
semua orang pun menuju rumah sakit, Bram pun terus memeluk bibi tak ingin terjadi sesuatu pada wanita yang begitu dia cintai itu.
sesampainya di rumah sakit, bibi langsung di bawa ke ruang operasi, dan dokter pun segera melakukan tindakan operasi.
apalagi bayi bibi yang laki-laki detak jantungnya mulai melemah, jdi dokter tak ada pilihan lain.
__ADS_1
mereka semua berdoa untuk keselamatan ibu dan anak Yangs sedang berjuang di dalam ruang operasi.
dokter anak pun segera memberikan pertolongan pada bayi laki-laki yang hampir meninggal itu, dan beruntung bayi itu akhirnya bisa menangis.
dan bayi perempuan juga lahir dengan sehat, dan keduanya langsung di taruh di inkubator untuk membuat mereka hangat.
"selamat tuan, nyonya dan kedua bayi terlahir dengan selamat, tapi nyonya masih dalam pengaruh bius," kata dokter.
"terima kasih dokter," jawab Bram menyalami dokter yang membantu operasi sesar bibi.
papa Vin dan Bu Inggrid begitu bahagia, tapi Bram melihat putranya Edgar, "kamu adalah putra pertama keluarga ini, kamu mau kan jadi pendukung papa dan menjadi pelindung untuk semua keluarga kita?"
Bram pun memeluknya dengan erat, pasalnya dia pun tak ingin kebahagiaan ini terusik.
sedang di rumah Feli, mereka baru menghadapi masalah besar, "apa ini mas?"
"ini kebohongan Feli, aku tak pernah menyentuh wanita manapun setelah istriku meninggal dunia, dan setelah menikah itu hanya dirimu," kata Farhan.
"tapi apa ini?" tanya Feli sambil menangis sesenggukan.
__ADS_1
pasalnya sebuah surat, foto dan juga bukti dari seseorang,dan mengatakan jika itu adalah cucu dari rumah itu.
"itu bukan Farhan nak, tapi mungkin Farlan, adik dari Farhan yang dulu pernah melakukan Kesalahan, dan sekarang wanita itu ingin dia bertanggung jawab atas dirinya," jawab Bu Iin sedih.
"tapi Bu, mas Farhan suamiku, dan aku tak pernah tau jika mas Farhan punya adik?" tanya bibi.
"karena dia sudah meninggal dua tahun lalu, dan itu demi menyelamatkan diriku," jawab Farhan.
"terus aku harus berbagi suami dengannya, mas aku melihat kehidupan kakak ku hancur karena hal itu, dan sekarang kamu ingin melakukannya padaku, kamu jahat mas," kata Feli.
"aku tak punya pilihan Feli, dia juga putra adikku, dan aku harus bertanggung jawab padanya," jawab Farhan
"tapi tak harus menikahi mantan kekasih adikmu itu,kita bisa memberikan uang setiap bulan dan jika perlu kita bisa mengadopsinya jadi putra kita mas, kenapa harus jalan itu!" marah Feli yang lepas kendali.
"aku mohon nak, umur wanita itu tak panjang lagi, dan anak itu tak ingin kesini untuk tinggal disini jika ibunya tak ikut bersama dengannya," tambah Bu Iin.
"kalian berdua jahat, aku tau jika aku bukan istri dan menantu yang sempurna,tapi aku punya hati kenapa kalian menyakiti aku separah ini," tangis Feli yang kemudian jatuh pingsan.
Farhan pun kaget dan buru-buru mengendong istrinya itu,dan segera membawanya ke rumah sakit.
__ADS_1
"jangan seperti ini, aku mohon Feli, kita bisa membicarakan ini dan tolong jangan tinggalkan aku, aku tak ingin kehilangan istri yang ku cintai lagi," kata Farhan memeluk istrinya itu.