
Feby sudah kembali ke kota kelahirannya setelah kelahiran Yusuf satu tahun.
Kehidupan Feby sedikit membaik karena bantuan dari kakeknya, Feby mendapatkan uang untuk memulai usahanya.
Dia mulai membuat sebuah toko baju di sebuah ruko milik kakeknya, dan juga menjualnya secara online bersama teman terbaiknya Eni.
Dia terus menginggat bagaimana Sandi yang sudah mengisi hatinya, bahkan mereka bisa memiliki Yusuf, tapi yang mungkin terjadi saat ini mungkin pria itu sudah melupakan dirinya.
Pagi ini Feby tak mengira putranya sedang demam tinggi, "sayang kamu kenapa nak."
Dia panik bukan main, pasalnya ini adalah kali pertama Yusuf sakit, bahkan Feby turun dengan buru-buru mengendong putranya.
"Feby mau kemana?" panggil kakek Cahyono.
"Maaf kakek, Yusuf demam dan aku ingin membawanya ke dokter," kata Feby menangis.
Soraya pun menghampiri Feby, dan dia pun menyentuh dahi Yusuf dan ternyata benar.
"Kenapa malah hanya menangis saja, cepat bawa anakmu ke rumah sakit," ajak Soraya dengan khawatir.
Meski suaminya masih belum bisa menerima Feby sepenuhnya setelah kejadian memalukan itu.
Tapi mereka tetap menyayangi Yusuf, bagiamana pun Yusuf adalah cucu pertama mereka.
Feby pun membawa mobil menuju rumah sakit ibu dan anak di Jombang.
Saat sampai Soraya segera masuk membawa Yusuf, sedang Feby memilih memarkirkan mobilnya.
Tak sengaja Sandi melihat Feby, tapi Feby tak melihatnya dengan jelas karena di pikirannya hanya ada bagaimana kondisi putranya.
Saat sampai ibu Soraya menampar Feby di depan umum, "kamu itu kalau tak bisa jadi ibu, jangan melahirkan anak," marah Soraya.
"Ada apa Bu?" tanya Feby sambil menahan tangisnya.
"Putramu terkena anemia dan tipes, bagaimana kamu jadi ibu Feby," kata Soraya marah.
"Apa Bu ..." kata Feby melemah.
Sandi dan Dini yang kebetulan ingin melakukan pemeriksaan kesuburan tak sengaja melihat keduanya.
Sandi terdiam mendengar perkataan Soraya yang memarahi Feby dengan begitu keras.
"Bu tolong tenangkan diri anda, sekarang yang terpenting kami butuh golongan darah AB+ dan kebetulan rumah sakit tak memiliki golongan darah itu Bu," kata suster.
__ADS_1
"Tapi golongan darah saya A- suster, dan Feby juga hanya golongan darah B- bagaimana ini," panik Soraya.
"Saya akan meminta ke PMI, tolong selamatkan putra saya," panik Feby.
"Biar saya mendonorkan darah saya suster," kata sandi mengangkat tangannya.
"Mas yakin, mas baru saja melakukan pemeriksaan loh," kata Dini menahan suaminya itu.
"Tidak apa-apa kasihan kalau anak itu tak tertolong," kata Sandi melihat Feby.
"Baiklah pak, mari ikut saya," kata suster mengajak Sandi untuk donor.
Feby hanya bisa menangis menunggu putranya, Soraya tau dari tatapan dan wajah pria tadi.
Soraya pun menarik Feby menjauh dari ruang UGD, "jawab ibu Feby, apa dia benar ayah dari putra mu?"
Feby hanya mengangguk lemah, Soraya pun tak habis pikir lagi harus bagaimana.
Ibnu datang setelah meyakinkan kakek Cahyono jika semua akan baik-baik saja, ia kaget melihat Soraya dan Feby di luar.
"Ada apa?" tanya Ibnu.
"Ayah kandung Yusuf ada di dalam bersama istrinya," jawab Soraya langsung.
"Ayo masuk, aku ingin melihat wajah pria busuk itu," maki Ibnu.
Sandi terdiam melihat Ibnu, pria itu pernah menghajarnya sampai hampir mati.
"Cucu anda baik-baik saja tuan," jawab dokter.
"Kalau begitu tolong berikan perawatan terbaik, dan untuk kalian terima kasih atas pertolongannya," kata Ibnu langsung.
Dini pun mengajak Sandi pulang, tapi Sandi ingin memeluk putranya yang sudah di carinya selama ini.
Hari berganti, Sandi datang di belakang Dini, dia ingin dekat dan memohon lagi untuk bersama dengan Feby lagi.
Sandi sudah memiliki alasan yang kuat untuk bisa melakukan itu, awalnya Feby terus menolak bahkan mengusir pria itu.
Tapi Sandi tak patah semangat, bahkan pria itu berani datang ke rumah keluarga Ibnu.
Sandi terus memohon di depan rumah, bahkan dia tak gentar meski ibnu terus memaki dirinya.
"Feby temui pria itu, aku muak terus melihatnya," kata Ibnu kesal.
__ADS_1
Feby pun menghampiri pria itu, "sudah mas, pergi saja jangan seperti ini, anggap tak terjadi apa-apa di antara kita," kata Feby.
"Itu tak mungkin, apalagi sudah ada anak di antara kita," kata Sandi menahan Feby.
"Dia putraku, kamu tak akan menjadi ayahnya hanya dengan menitipkan sperm* mu, dan itu juga kesalahan ku yang terbuai oleh mu, jadi pergi dari sini ku mohon," usir Feby.
"Aku tidak bisa meninggalkan dirimu, aku mohon berikan aku kesempatan untuk membesarkan putraku," mohon Sandi berlutut di depan Feby.
"Pergi, kembali ke istrimu dan jangan menggangguku lagi," dorong Feby hingga membuat Sandi jatuh.
"Feby jangan lupa, hanya ku yang memiliki golongan darah yang cocok dengan putramu, jika terjadi apa-apa jangan mencariku untuk membantunya," kata sandi.
Setelah itu mereka sempat menjauh, tapi lagi-lagi Yusuf masuk rumah sakit dan membutuhkan donor darah.
Lagi-lagi hanya Sandi yang bisa menolong Yusuf, dan kali ini pria itu meminta syarat.
Dan begitulah Feby yang akhirnya menerima permintaan Sandi dan mu menikah siri.
"Memikirkan apa sih sayang," tanya Sandi yang mencium bibir Feby yang melamun.
"Tidak ada mas, jangan begitu ada Yusuf di sini," kata Feby yang menghapus air matanya.
"Jangan sedih sayang, mungkin sebentar lagi mungkin ibu bisa menerima ku dan Yusuf, aku yakin itu terlebih kalau kamu memiliki anak perempuan yang manis yang begitu di inginkan ibu," kata Sandi menggoda Feby.
"Hentikan mas, jangan begini ada Yusuf," kata Feby yang tak bisa menghentikan aksi sandi yang sudah mulai mencumbunya.
Bahkan tangan sandi sudah masuk kedalam kaos miliknya, Feby pun hanya bisa m*rem*s rambut Sandi.
"Ma ... titik ...." kata Yusuf yang hampir bangun karena minta minum.
Feby mendorong Sandi dan bergegas memeluk putranya, dan mengambil botol susu milik Yusuf.
Dan menepuk putranya lembut agar kembali tidur, sedang sandi malah mulai menganggu dirinya lagi.
"Hentikan mas, lebih baik bujuk mbak dini, mungkin dia merasa marah saat ini," mohon Feby.
"Tidak, hari ini jadwal milikmu, dia harus mengerti Feby," lirih sandi yang mulai menciumi tengkuk Feby.
"Mas ...."
Sandi benar-benar tak bisa di omongin sedikitpun, Feby gagal membujuk suaminya itu.
Dini pun mencoba menenangkan dirinya di kamar, dan berusaha untuk tidak menganggu suaminya dan istri keduanya.
__ADS_1
Meski hatinya masih hancur setelah mendengar ucapan Sandi yang menyudutkan dirinya tadi.
Bahkan Sandi tak mencoba untuk meminta maaf padanya, "apa sesakit ini aku harus menerimanya, setidaknya pikirkan perasaan ku mas ..." lirihnya.