
bibi sedang berada di kamar bersama Bram, bibi sedang duduk menggoda sang suami.
"hei baby ... kamu tak merindukan ku?" tanya bibi mengusap bibir Bram.
"sayang ingat kamu baru keluar dari rumah sakit, aku tak ingin kita melakukannya dulu," kata Bram tak ingin menyakiti bibi.
"padahal aku sedang ingin, baiklah bagaimana jika aku mencari seseorang, ah... mungkin di mall aku bisa menemukan hal itu," kata bibi yang ingin beranjak.
Bram menahan wanita itu, "jangan membuatku marah sayang, aku sudah menahannya selama tiga hari, jika bisa aku bisa membuat mu tak bisa jalan, kau tau," kata Bram langsung memanggut bibir bibi dengan begitu nafsu.
"Bram, tolong ajak main Ale sebentar, mama mau membantu papa," panggil Bu Inggrid.
"sana ..." usir bibi.
"awas nanti malam, aku akan memangsa mu," kata Bram bangun dari kursinya.
"aku tunggu sayang, dan terus pelihara sikap liar mu!" kata bibi tertawa.
Bram turun ke bawah, dan tak sengaja berpapasan dengan Dini yang keluar dari kamar.
Bram pun cuek tak ambil pusing, tapi Dini merasa begitu kaget dan detak jantungnya begitu berdebar.
pasalnya dari dekat Bram begitu tampan dan aroma tubuhnya begitu maskulin.
Bram langsung mengambil baby Ale dan menggendongnya mengikuti Bu Inggrid.
sedang bibi turun dari lantai dua dan menuju dapur, "bik tum sedang buat apa? bukankah di kulkas ada suun matang bukan, huh," kata bibi sedikit lelah.
"sudah nyonya istirahat saja, buat saya yang membuat cemilan buat yang lain," kata bik tum.
__ADS_1
"tidak masalah, aku juga bisa kok, lagi pul bisa makin stress aku di kamar, terlebih jika stres tak bik untuk dedek bayinya kan," jawab bibi tertawa.
"kamu hamil lagi Feby," tanya Dini.
"jangan panggil Feby mbak, itu masa lalu, namaku sekarang Febiola vanco Bramastyo. dan tolong ingat itu," kata bibi sambil memotong suun dengan pisau daging dengan keras.
bik tum kaget melihat itu, baru kali ini dia melihat sosok lain di diri bibi, terlebih wanita itu begitu tegas.
"lebih baik mbak istirahat, bukankah masih lemah, ayah kemungkinan besok baru datang menjemput anda, jika di perlukan aku bisa meminta tolong seseorang untuk mengantarmu jika tak nyaman disini," kata bibi tersenyum.
"ah iya, aku akan istirahat saja," jawab Dini pergi ke kamarnya.
dia harus punya sesuatu untuk membuat Dini merasakan hal yang dulu dirasakan, toh dia juga tak kalah dari bibi.
"kau begitu sombong bukan, maka kita lihat apa bisa suamimu bertahan dari godaan ku," batin dini sebelum masuk kedalam kamar sambil tersenyum menyeringai.
"tentu nyonya, saya mengerti," jawab bik tum mengerti apa yang di maksud oleh bibi.
akhirnya gorengan pun siap, ternyata semua sedang bermain di taman bersama papa Vin.
sedang Dini mengawasi dari kamarnya, dia pun membayangkan bagaimana jika Bram sedang bersama dirinya pasti akan begitu menyenangkan.
"sayang kenapa kamu membawa wanita itu kesini, bukankah wanita itu wanita tak baik, aku dapat laporan dari Tomo," kata papa Vin.
"iya pa, aku sudah tau dari mas Bram, tapi bagaimana pun dia sepupuku, dan besok ayah akan menjemputnya,dan jika malam ini dia berulah, aku juga sudah siap kok," jawab bibi.
"aku suka nih menantu tegas dan tak lembek gini, kamu harus tegas dan hempaskan Wanita yang memiliki niat buruk itu," kata Bu Inggrid.
"pasti mama, aku kan menantu mama," jawab bibi berpelukan dengan mertuanya.
__ADS_1
"lihat Bram, ingat jaga dirimu, karena sepertinya istrimu juga bukan wanita biasa," kata papa Vin.
Dini ingin naik keatas tapi di tahan oleh bik tum, "ada apa nona, anda tidak di izinkan naik karena lantai atas hanya boleh di naiki oleh orang-orang kepercayaan nyonya," kata bik tum.
"ah begitu rupanya, aku hanya ingin bertanya pada Feby, apa bisa mengantarkan aku ke suatu tempat karena aku ingin membeli sesuatu," kata bik tum.
"anda bisa di antar oleh satpam disini, mereka semua bisa mengendarai mobil dan motor, jadi tak perlu merepotkan nyonya, terlebih beliau sedang bersama tuan," kata bik tum penuh penekanan.
"baiklah aku mengerti, aku pergi dulu ya," kata Dini yang gagal.
dia pun pergi bersama satpam bernama Joni, satpam itu adalah anak dari bik tum yang sudah lama ikut Bram.
pria itu selalu mengawasi dini, tapi wanita itu tak tau ada kejutan spesial yang sudah di siapkan oleh bibi untuknya.
saat sedang di apotik dan keluar dari sana, tiga orang preman kembali menyergapnya.
dan langsung membawanya pergi, Joni hanya tersenyum dan menelpon ke rumah.
"tolong ibu bilang pada nyonya, mangsa sudah di bawa, dan tugas selesai," kata Joni yang langsung mematikan telponnya.
bibi pun tersenyum mendengar itu, "ternyata kau juga sudah bisa bermain sayang," kata Bram mencium ini bibi di bawah.
"aku bukan Feby yang bisa di injak dan menurut pada siapapun, sekarang aku nyonya Bramastyo, dan akibat dari ajaran mu setahun lalu, aku sekarang bukan wanita lemah pada orang yang berniat buruk pada suamiku," kata bibi tersenyum manis.
mereka melihat Edgar yang sedang berlatih ketahanan fisik dengan orang kepercayaan Bram.
"dia akan menjadi pewaris yang sempurna, terlebih dia memiliki hati yang teguh," kata Bram tersenyum melihat Edgar.
sedang baby Ale terlihat begitu menyukai gambar, dan Bram sudah menyiapkan sesuatu saat putranya itu besar dan akan jadi orang yang ahli dalam arsitektur dan bisa membantu Edgar yang kuat secara fisik.
__ADS_1