
saat setelah makan malam, semua orang berkumpul bersama di ruang keluarga.
Edgar sedang bermain dengan baby Ale, dia membantu Ale untuk mewarnai gambar yang tadi dia print khusus untuk adiknya itu.
"Edgar, bukankah besok di sekolah mu ada kegiatan? apa papa dan mama harus datang? apa opa tak boleh datang?" tanya papa Vin.
"tentu boleh opa, opa dan Oma boleh datang, karena mama pasti mudah lelah karena kehamilan saat ini, sedang papa pasti juga sibuk kan?" jawab Edgar pengertian.
"kamu putra yang baik," kata Bram.
bibi melotot ke arah suaminya yang memilih tak melihatnya, "besok mama ikut dong, mama juga butuh liburan," kata bibi.
"baiklah, besok opa di temani dua bidadari, jadi besok Edgar harus semangat pertandingannya,"
"siap opa," jawab Edgar.
hari makin malam, akhirnya mereka masuk untuk beristirahat masing-masing.
sedang Bram masuk ke kamar putranya Edgar, yang ternyata masih membaca buku.
"papa menganggu nak?"
"tidak pa, masuk saja, aku juga belum mengantuk," jawab Edgar yang menghampiri Bram.
keduanya duduk di balkon sambil melihat langit malam, "apa Edgar marah jika papa tak datang? maafkan papa yang lupa dan tak bisa memindahkan rapat penting ini," kata Bram sedih.
"tak masalah papa, aku juga tak memaksakan itu, aku tau jika papa begitu sibuk, tapi mungkin mama akan marah, tapi tak apa-apa aku akan membantu papa membujuknya," jawab Edgar.
"ya tuhan, beruntung aku memilikimu Edgar, terima kasih sudah mau menerima ku jadi papa mu ya nak,"
__ADS_1
"papa bilang apa, aku yang harusnya berterima kasih karena sudah mau menerima ku, padahal ayah kandungku saja tak melakukan hal itu," jawab Edgar sedih.
"jangan membahasnya, sekarang kamu adalah putra pertama keluarga ini, itu yang akan di ketahui semua orang, Edgar putra papa dan mama oke,"
bibi yang akan masuk mengurungkan niatnya, dia pun merasa senang mendengar Bram yang begitu menyayangi Edgar.
keesokan harinya semua sudah siap, bahkan Edgar sudah berangkat dari pagi karena untuk bersiap.
bibi sudah menyiapkan semua makanan dan kue, bahkan baby Ale sudah di pakaikan baju olah raga dan ada nama Edgar.
begitupun semuanya yang akan pergi, "widih ... semuanya pakai, papa kapan membuatnya?" tanya Bram yang duduk di meja makan.
"tentu sudah seminggu yang lalu, terlebih ini adalah pertandingan khusus dari cucu pertama kami," jawab apa Vin.
"sudah pa, cepat sarapan, kaki ada rapat besar bukan, lagi pula kami harus segera berangkat," kata bibi.
"ya kamu benar, oh ya pertandingan basket Edgar kapan?" tanya Bram penasaran.
"bagus setidaknya aku bisa melihat pertandingan basket putra ku, kalau begitu aku pergi," kata Bram yang langsung mengambil roti miliknya dan langsung berangkat.
bibi tak mengira jika Bram akan memikirkan sejauh itu, toh. Edgar sudah bilang tak masalah jika Bram tak datang.
hari ini ada pertandingan persahabatan di sekolah Edgar, semua orang tua murid di minta datang karena ada beberapa pertandingan yang di lakukan.
keluarga Bramastyo datang untuk menyaksikan pertandingan, ternyata begitu ramai, dan baby Ale begitu senang melihat keramaian ini.
mereka menuju ke area pertandingan atletik yang di miliki sekolah, ternyata Edgar sedang bersiap untuk lari melawan semua adik kelas maupun kakak kelasnya.
keluarga itu begitu mencolok karena memakai seragam dengan warna terang.
__ADS_1
Bram memajukan semua rapat yang di lakukan, meski begitu rapat berjalan lancar.
Edgar mulai mengikuti lomba dan dia berhasil menang, dan Edgar melambaikan tangan kearah keluarganya.
Bram melihat jam tangan miliknya yang sudah menunjukkan pukul sebelas siang, berarti sekarang jadwal Edgar akan bertanding panahan.
"Jono, cari tempat parkir dan aku masuk ke dalam terlebih dahulu," kata Bram yang berlari masuk ke area sekolah.
dia bingung karena area sekolah yang cukup luas, tapi beruntung dia bertemu beberapa anggota OSIS dan membantunya ke arena tanding panahan.
terlihat Edgar belum mulai dan masih gemetar, dia tak bisa mengendalikan ketakutannya.
Bram pun menggenggam tangan putranya, "tutup matamu, ingat senyum mama mu, sebut namanya, dan percaya kamu bisa melakukannya," bisik Bram.
Edgar kembali teringat bagaimana dulu bibi di siksa oleh Sandi, tapi tiba-tiba dia ingat seseorang melindungi mereka.
dia adalah Bram yang kini memeluknya, "terima kasih papa," kata Edgar membuka matanya.
Edgar pun masuk ke dalam Langan, "ayo Edgar, kamu kebanggaan papa!!" teriak Bram dari samping lapangan.
"pa itu bukannya Bram ya, kenapa disini, bukankah dia sedang sibuk?"
kata Bu Inggrid menunjuk pria di samping lapangan.
"iya ma, itu Bram, mungkin dia sudah membereskan Semuanya," jawab papa Vin.
Edgar pun mulai membidik, dan menginggat semua pelajaran yang di berikan Bram, meski berbeda senjata, tapi setidaknya Keduanya memiliki kesamaan yaitu harus fokus pada satu tujuan.
dan anak panah itu melesat tepat mengenai titik tengah sasaran, bahkan tiga kali dan semuanya tepat.
__ADS_1
semua orang pun bertepuk tangan, Bram memberikan pelukan pada putranya itu.
bibi pun begitu bahagia melihatnya, dia tak mengira kebahagiaan besar menghampiri dirinya dan Edgar setelah semua kesengsaraan yang di alami dulu.