
bibi terbangun karena Bram yang tak di sampingnya, "baba Ale hilang, Ale ..."
Bram pun menutup mulut bibi dengan tangannya, mata wanita itu berkaca-kaca karena tak melihat putranya.
"dia di bawa bik tum di belakang, kamu harus tidur ya, besok baru bisa ketemu Ale," kata Bram.
bibi pun menganggukkan kepala, "baba makan," kata Feby yang lagi-lagi menunjukkan pay*d*r* pada Bram.
"kenapa? sakit sayang?" tanya Bram yang di angguki oleh bibi.
Bram pun mengambil alat pompa ASI, kemudian memasangkan alat itu, kemudian menunggu sambil memeluk bibi.
"sakit ..." lirih bibi menarik rantai di lehernya.
Bram pun melepaskan ikatannya, bibi Bun terlihat nyaman, kemudian malah tertidur.
setelah selesai dia merapikan baju bibi, tak lupa dia mengikat tangan bibi saat dia akan pergi.
Bram takut jika wanita itu pergi darinya, sedang bibi terbangun saat Bram pergi.
Bram melihat asi bibi yang cukup banyak, diarak mengira jika bik tim membuat bibi begitu sehat untuk putranya.
dia mengambil sesuatu, kemudian membawanya naik ke atas,terlihat bibi sedang duduk menunggu Bram.
"kenapa belum tidur," tanya Bram yang duduk sambil memakan buah apel.
"tak bisa gerak,"
Bram pun melepaskan ikatannya, dan bibi langsung duduk di pangkuannya dan dengan santai dia melihat laptop Bram.
"itu gambar apa?" tunjuk bibi.
"itu laporan keuangannya," jawab Bram.
tiba-tiba sebuah bayangan terlintas di kepala bibi, bibi pun langsung memegangi kepalanya.
melihat itu, Bram menyuntikkan sebuah obat pada wanita itu, kemudian dia berangsur membaik.
Bram mencium leher bibi, dan tangannya pun mulai bergerilya, dan bibi pun terkulai lemas.
Bram pun mengendong bibi, dan menidurkannya di kasur dan mulai melakukan olah raga panas mereka.
Bram benar-benar tak bisa melepaskan wanita di bawahnya itu, dia bahkan sudah mulai me cintai wanita itu.
setelah itu Bram pun istirahat bersama bibi sambil berpelukan, "jangan sakit ..." lirih bibi falsm tidurnya.
__ADS_1
"maafkan aku, seharusnya aku tidak menyakitimu, tapi aku takut kamu pergi meninggalkan diriku, apalagi sekarang ada Ale di antara kita, maafkan aku yang egois,"gumam Bram.
keduanya pun tertidur, bibi mulai menginggat masa lalunya sedikit demi sedikit ingatannya kembali.
ternyata obat yang di berikan oleh Bram, mulai kehilangan keefektifan karena telalu lama jadi bibi mulai kebal.
pukul lima pagi sandi baru pulang ke rumah, dia langsung memeluk wanita perpakaian piyama dan berjilbab itu.
"sandi ini ibu," kata Bu Fatma.
"ah.. maaf Bu, sandi lupa ibu menginap, lagi pula itu piyama kesayangan dari Dini, jadi sandi salah peluk deh," jawab Sandi tersipu malu.
"ya udah gak papa, kamu mandi deh, ibu mau masak untuk kalian, dini masih tidur, katanya dia kelelahan," jawab Bu Fatma.
"memang semalem habis ngapain Bu?" tanya sandi penasaran.
"belajar masak rendang kesukaan kamu, sudah kamu juga cepat mandi dan setelah itu istirahat," kata Bu Fatma.
"baiklah Bu, Sandi permisi," pamit sandi.
Sandi pun memutuskan untuk tiduran di kamar karena pasti Bu Fatma tidur di kamar tamu.
dini terbangun saat merasakan ada gerakan kecil di ranjang, ternyata suaminya sudah pulang.
dia pun bergegas untuk menemui Bu Fatma yang ternyata sedang membuat jamu.
"udah jam setengah enam nduk, lagi pula di rumah tak ada tanaman empon-empon ya, jadi susah kalau mau bikin jamu," bisik Bu Fatma.
"memang mau tanaman apa saja, biar nanti aku menanamnya Bu, biar aku bisa belajar dari ahlinya," kata dini.
setelah jamu matang, keduanya pun mulai berjalan menuju ke tempat tukang sayur.
keduanya pun menyapa para tetangga, dan tak lama ada sebuah pengantar paket.
ternyata berhenti di rumah mewah paling ujung, sedang Bu Fatma tak konsen karena dia khawatir pada Dini.
apalagi Feli sudah mulai berbuat sesuatu, gadis itu akan KKN di desa itu selama empat bulan.
dan Bu Fatma tak bisa menyingkirkan orang tanpa bantuan dari Bram, dan itu adalah waktu Feli untuk mengoyahkan Sandi.
"ayo Bu, kita pulang," ajak Dini.
"eh iya, dini ibu ingin kamu terus ingat pesan ibu loh ya, jangan lupa jaga suamimu, jika tidak kamu akan terganti seperti yang dulu," pesan Bu Fatma.
"baik Bu, aku mengerti, aku akan melakukan apapun, jika perlu aku lakukan apa yang ibu pesankan jika itu perlu di lakukan," jawab Dini
__ADS_1
pukul sembilan pagi, Bu Fatma pamit pulang, sedang sandi masih tidur karena lelah.
sedang bibi keluar dari rumah besar dan menemui dia satpam di depan, "nyonya," kaget keduanya
"tolong belikan ikan di tukang sayur, ini uangnya, dan nanti kasih ke bik tum ya," kata bibi kembali masuk kedalam rumah.
keduanya saling pandang, pasalnya mereka ingat jika bibi itu sakit jiwa, tapi kali ini sepertinya orang sehat.
"baba!"teriaknya saat bertemu Bram.
"kamu habis ngapain, aku tak suka kamu pergi keluar rumah, apalagi berbicara dengan orang asing," kata Bram menarik lengan bibi.
"aku tadi mau beli ikan, aku ambil uang di laci, suruh satpam, kayak bik tum," jawab bibi dengan gaya anak kecil.
"kamu kok gak lari?" tanya Bram.
"gak nanti Ale nangis, aku mau mandi Ale mau makan," kata wanita itu naik ke lantai atas.
Bram lun mengikuti wanita itu, kemudian bibi baru selesai mandi, dan langsung menyusui bayi Ale.
Bram pun juga mandi, setelah itu bik tum datang dengan sarapan mereka.
"baba suapi ..."
"kamu manja," kata Bram menyuapi bibi.
bibi begitu senang sambil bertepuk tangan dengan senang, "lain kali, jika ingin makam ikan bilang, kita bisa beli di super market, jadi kamu tak perlu takut dengan durinya," tambah Bram.
"iya ... iya ..." jawab bibi.
bayi Ale sudah di gendong bik tim, sekarang Bram juga ingin menambah pelayan di rumah.
dan datang dua orang wanita yang sudah matang, keduanya kaget melihat bibi yang berada di samping Bram.
"baba, ini bagaimana, kok gak bisa seperti baba," tanya bibi.
"terus putar ya sayang, baba mau bicara dengan mereka dulu," kata Bram menepuk kepala bibi dengan hangat.
"kalian tentu sudah tau peraturan rumah ini, tak boleh ada yang membocorkan apapun yang terjadi di dalam sini keluar, atau kalian dan keluarga kalian mati semuanya, mengerti?" kata bram mengancam.
"kami mengerti tuan," jawab keduanya.
"dia adalah istriku bibi, namanya Febriana Ambarita, biasa di panggil bibi, jadi perlakukan dia seperti ratu, kalian tak boleh membuatnya terluka sedikit saja, dan ingat jangan membiarkan dia lari dari rumah," kata Bram.
"baik tuan, kami mengerti," jawab semuanya.
__ADS_1
bibi pun langsung duduk di pangkuan Bram seperti seorang anak kecil. dan itu yang membuat bik tum kuwalahan, jadilah Bram mencarikan teman.