Berbagi Cinta : Sepupuku, Istri Siri Suamiku

Berbagi Cinta : Sepupuku, Istri Siri Suamiku
bukan salah ku


__ADS_3

Dini terdiam, begitupun semua orang, Satrio juga tak mengira hal itu pernah terjadi.


"Itu bukan salahku, dia terjatuh sendiri bukan aku yang membunuhnya," kata Dini.


"Hentikan Feby, jangan katakan hal itu lagi, sekarang masuk kedalam kamar mu," usir Sandi.


"Terserah kamu mas, aku lelah," kata Feby pergi meninggalkan semuanya.


Satrio melihat Feby yang pergi dengan keadaan yang begitu buruk, sedang Dini memiliki Sandi untuk Sandaran.


Tami yang keluar sambil mengendong Yusuf terdiam, Satrio memberikan sesuatu pada Tami.


"Sekarang jika ada sesuatu terjadi padanya, tolong hubungi aku," kata Satrio lirih.


"Iya tuan," jawab Tami.


"Lebih baik sekarang kalian pergi dari rumahku, terutama kau Satrio," usir Sandi.


Satrio pun pergi bersama dengan Purnomo dan Vita, kini Sandi mengantar Dini untuk istirahat.


kemudian dia pun menghampiri Feby, wanita itu sedang menangis sambil meringkuk di ranjang.


Mbak Tami yang melihat Sandi masuk pun keluar dari kamar Feby, Mbak Tami langsung melihat kartu nama yang di berikan Satrio.


Sandi menghampiri Feby dan membelai rambut panjang istrinya itu, "pergi mas, aku tak ingin melihatmu," kata Feby.


Sandi malah ikut tidur memeluk Feby, "maafkan aku sayang, kamu tau benar jika aku tak bisa menahan amarahku, apalagi beberapa bulan kamu terus berubah bahkan kamu tak ingin aku sentuh," bisik sandi dengan suara sedih.


"Benarkah? kamu bohong mas, kamu terus bersama mbak Dini, meski orang tua mu tak disini, kamu pun mulai melupakan diriku, jadi lebih baik jika kita tak memiliki hubungan lagi," jawab Feby


Sandi pun pindah kedepan Feby, dan memeluknya erat, "jangan seperti ini sayang, aku mencintaimu, kamu tau benar jika ini adalah cucu yang di inginkan orang tuaku, itulah kenapa aku menjaganya dengan baik," jelas Sandi.


"Kalau begitu, pergi temani istrimu, jangan pedulikan aku," usir Feby.


Sandi tak menurut, dia memilih beristirahat bersama Feby, saat sore hari Dini bangun dan tak menemukan Sandi.


Saat dia turun ke lantai dasar, ada Feby yang sedang membuat nasi goreng.


Rambut Feby basah, bahkan airnya masih menetes. Dini pun merasa marah karena melihat itu.


"Kamu bilang minta cerai, kenapa masih melayani mas Sandi," kata Dini tak suka.


"Sebelum hakim memutuskan aku masih istri mas Sandi, terlebih mas Sandi juga belum menjatuhkan talak padaku," jawab Feby pada Dini.


Dini yang awalnya di atas angin kini jatuh begitu keras, pasalnya Feby tetap jadi prioritas dari Sandi.

__ADS_1


Feby pergi membawa teh untuk dirinya dan kopi untuk Sandi, sebenarnya Feby keramas karena dia ingin.


Bukan seperti apa yang di pikirkan oleh Dini, tapi Feby juga tak ingin menjelaskan itu pada Dini.


"sekarang nikmati saja pikiran liar mu itu, toh aku sudah tak ingin di sentuh lagi olehnya," batin Feby duduk sambil memulai bekerja.


"Kamu sudah bangun, kenapa tak membangunkan aku," tanya Sandi.


"Gak ah ... mas terlalu nyenyak, jadi aku biarkan saja, cepat mandi gih takutnya makin malam nanti bikin rematik," perintah Feby.


"Iya sayang, jangan cemberut gitu dong, bikin gemes deh kamu," bisik sandi mencium pipi Feby.


Feby mendorong Sandi menyuruhnya untuk mandi, sedang Dini memilih baju yang bisa menarik hati Sandi.


Saat selesai mandi, Sandi tetap di dalam kamar Feby, "kenapa masih disini, keluar gih."


"Kamu kok jahat banget sih, ngomong-ngomong kamu kenapa sering pakai baju kebesaran gini, padahal biasanya suka baju seksi dan pas badan?" tanya Sandi penasaran.


"Lagi malas, sudah sana pergi tadi mbak Dini mencari mas tuh, dan jangan buat dia menunggu, kasihan dia kan sedang hamil." kata Feby dengan penekanan dan mendorong Sandi keluar.


Terlihat Dini sedang memasak, Sandi menghampiri Dini dan menahan tangan Dini.


"Hentikan, biarkan aku yang melanjutkan," kata Sandi.


"Kenapa mas, kamu tidak kelelahan setelah itu, ini sudah selesai kamu duduk saja," jawab Dini.


Dini terlihat sibuk bolak-balik dan tak bisa diam, "Dek berhentilah, sini duduk bersama ku, jangan terlalu lah, ingat pesan dokter."


Dini tak peduli, wanita itu terus bergerak sembarangan, bahkan dia mencuci piring yang sudah di cuci.


Dia terus teringat bagaimana Feby yang tersenyum dengan rambut basah, pikiran Dini pun begitu liar memikirkan antara Sandi dan Feby.


Hingga tak sengaja karena kelalaiannya sendiri, dia jatuh karena terkena air yang menciprat saat dia mencuci piring.


"Mas...!" panggil Dini sudah terjatuh dengan perut duluan yang menghantam lantai.


"Dini!" teriak Sandi panik bukan main.


Pasalnya dari sela kaki Dini keluar darah begitu banyak, Feby dan Tami pun keluar dan kaget melihat kejadian itu.


"Feby tolong siapkan mobil, kita harus membawa Dini ke rumah sakit!" teriak Sandi.


"Iya mas," jawab Feby yang tak tega melihat Dini kesakitan.


Saat sampai di rumah sakit, Dini di mendapatkan perawatan, seorang dokter menghampiri Sandi.

__ADS_1


"maaf pak, ada kabar buruk, janin Anda tak bisa di selamatkan, dan kita harus melakukan kuret untuk kebaikan ibu," kata dokter.


Sandi terduduk lemah, Feby tak kaget dan tak mengira jika Dini keguguran, "lakukan dokter, selamatkan menantu kami," kata pak Ibrahim yang datang setelah Tami menghubungi mereka.


Feby memilih mundur, karena dia tak ingin di hina lagi, dia hanya melihat semuanya dari jauh.


Setelah prosedur kuret di lakukan, dan semua orang berkumpul di ruang rawat.


Dini pun sadar dan melihat semua orang sedih, "anak ku..." katanya langsung memegang perutnya yang rata.


"Mas mana anakku? kenapa dia tak menendang lagi, mana anak ku mas!" teriak Dini yang syok.


Bu Fatma menenangkan putrinya yang kehilangan buah hati yang begitu di rindukannya.


"Sabar Dini, Allah lebih menyayanginya, dia sudah tenang di alam sana," kata Bu Fatma.


"Tidak Bu, ini semua salah, ini semua salah Feby, dia yang membuatku keguguran, di yang membuat ku marah," kata Dini menangis.


"Apa maksudmu dek, kamu jatuh di dapur, sedang Feby terus berad di kamarnya?" bingung Sandi.


"Karena dia mengatakan kalian sudah berbaikan bahkan kalian telah melakukan hal itu dengan begitu panas, dan dia terus memojokkan ku hingga membuatku marah," adu Dini.


"Feby .... wanita itu sudah keterlaluan," marah Sandi.


Entah kenapa perasaan ibu Sulastri tak percaya sepenuhnya dengan ucapan Dini.


itu seperti apa bukan Dini yang dia kenal, Dini tak pernah menyalahkan orang lain untuk kesalahan yang di perbuatnya.


Sandi pun bergegas pulang untuk bertanya pada Feby, dia marah karena ank di kandungan Dini mati.


Bu Sulastri pun ikut Sandi pulang, dia tak ingin putranya itu hilang kendali dan membunuh Feby.


Sesampainya di rumah, Feby sedang membersihkan darah Dini sambil menangis.


Sandi dengan kasar menariknya dengan keras, "kau puas telah membunuh anakku!" teriak Sandi.


"Tenang Sandi, ada putramu Yusuf di sini, mbak tolong Yusuf di ajak masuk ya," kat Bu Sulastri


"Jawab Feby," sebuah tamparan keras di berikan Sandi.


"Sandi, tolong tenangkan dirimu, dia itu juga istrimu, dia itu juga seorang ibu," bela Bu Sulastri.


"Kenapa ibu membelanya, dia itu sudah membunuh cucu yang ibu idamkan bukan," marah Sandi.


"Nak, kalian bisa memiliki lagi, tapi tolong jangan seperti ini, kalian sudah punya Yusuf," mohon Bu Sulastri.

__ADS_1


"Kenapa mas, kenapa aku lagi yang kau salahkan, aku bahkan tak keluar dari kamar!" jawab Feby dengan berteriak.


Sandi mencekiknya, Bu Sulastri berusaha melepaskan tangan Sandi tapi tak bisa, bahkan Sandi melepaskan ibunya hingga jatuh terduduk.


__ADS_2