Berbagi Cinta : Sepupuku, Istri Siri Suamiku

Berbagi Cinta : Sepupuku, Istri Siri Suamiku
saling cemburu


__ADS_3

Dini menyadari jika dirinya dan Sandi melakukan kesalahan, "mas maafkan aku, seharusnya semalam waktu mas bersama Feby."


Sandi pun ingat hal itu, dia pun merutuki kebodohannya, bahkan dia juga lupa karena terlalu terbawa suasana bersama Dini.


"Aku pergi menyusulnya," pamit Sandi buru-buru mengejar Feby yang marah.


Dini memegang dadanya yang terasa sesak, dia tak mengira jika Sandi akan begitu khawatir pada Feby.


Dia tak boleh sakit hati, ini adalah keputusannya sendiri, dia memutuskan untuk berangkat ke sekolah sendiri, tapi tak di duga mertuanya malah datang.


Dengan terpaksa Dini memilih untuk izin tak masuk, karena dia tak bisa meninggalkan mertuanya yang sedang berkunjung, Bu Sulastri pun melihat wajah sedih dari Dini.


"Loh ada apa nak?" tanyanya dengan lembut dan penuh kasih sayang.


"Tidak ada Bu, saya hanya sedang sedih karena kami melalukan kesalahan pada Feby," jawab Dini jujur.


"Untuk apa sedih, dia itu harusnya sadar diri, karena dia yang masuk kedalam rumah tangga kalian, dan merusak serta melukai dirimu," kata Bu Sulastri tak suka.


"Jangan seperti itu Bu, bagaimana pun Feby sekarang juga istri mas Sandi, jadi tolong perlakukan dia seperti halnya Dini ..." mohon Dini.


"Baiklah, sekarang mana suamimu itu, kenapa dia tak di rumah saat istrinya sedih, malah di tinggal sendirian seperti ini," tanya pak Ibrahim.


"Mas Sandi sedang mengejar Feby yang pergi dalam keadaan murah yah, dan mungkin sebentar lagi mereka akan pulang yah."


Bu Sulastri langsung ke dapur untuk menaruh makanan kesukaan Dini di kulkas, dia melihat sebuah kotak aneh.


"Dini nak, ini apa? ibu menemukan di dapur?" tanya Bu Sulastri membawa jamu yang diberikan oleh Feby.


"Itu jamu pemberian Feby Bu," jawab Dini.


Bu Sulastri tak suka karena dia membaca komposisi tapi tak mengerti, dia pun meremas bungkusan itu.


"Dia ingin membuat menantuku mandul, tunggu saja apa yang akan aku lakukan padanya," batin Bu Sulastri.


Sandi sampai di toko milik Feby, dirinya pun bergegas masuk kedalam toko.


Feby pun tak ingin melihat Sandi, tapi pria itu terlanjur menariknya kedalam pelukannya.


Semua karyawan Feby tau jika keduanya sedang marahan, pasalnya itu selalu terjadi saat keduanya sedang bertengkar.

__ADS_1


"Maafkan aku ...."


"Mas keterlaluan, aku menunggu mu semalaman, tapi ini yang kamu berikan, aku terluka mas melihat mu ..." kata Feby memukuli Sandi.


Sandi pun menerima semua perlakuan Feby, Sandi pun ikut menangis merasakan luka Feby juga.


Dia yang salah karena tak menginggat segalanya, "tolong bereskan semua pesanan, biar aku ajak dia pulang."


"Siap mas," jawab Eni selaku pengawas dan orang kepercayaan Feby.


Sandi pun mengajak Feby pulang, keduanya pun sampai dengan mobil masing-masing, Sandi akan menghabiskan satu hari ini full bersama Feby dan Yusuf.


Tapi baru juga masuk kedalam rumah, Bu Sulastri langsung memberikan tamparan keras di wajah Feby.


"Dasar wanita gatal, kenapa kamu ingin meracuni menantuku!" teriaknya.


"Ibu apa-apaan, Dini kamu mengadu apa pada ibu, hingga dia melukai Feby seperti ini!" teriak Sandi membela Feby yang tak mengerti apa-apa.


"Aku tak mengadu apapun mas, ibu tolong tenang ..." kata Dini menahan ibu mertuanya yang tiba-tiba marah melihat Feby.


"Apa maksud ibu?" tanya Feby menangis sambil menahan sakit di Pipinya.


"Berhenti ibu, jangan keterlaluan dia itu istriku, dia itu ibu dari cucu mu!" bentak Sandi.


Yusuf menangis keras melihat pertengkaran yang terjadi, Sandi pun memeluk putranya itu.


"Itu hanya jamu untuk penyubur kandungan bu, aku hanya ingin menghadiahkan itu demi kebahagiaan mbak Dini dan mas Sandi ...."


Bu Sulastri tak terima, dia ingin menampar Feby sekali lagi, tapi Sandi menghentikan ibunya.


"Jangan berani menyentuh istriku ibu, jangan membuatku marah," kata Sandi sambil menggenggam tangan ibunya erat.


"Mas itu ibumu," kata Dini menginggatkan.


"Seharusnya kamu tak diam seperti ini Dini, kamu bukan menjelaskan hanya diam seperti orang bodoh saja, kamu berpendidikan tinggi Dini, jika memang tak suka maka tak usah meminumnya, dan jangan mengadu domba ibu dan Feby seperti ini," kata Sandi yang melukai hati Dini dengan ucapannya.


"Hentikan Sandi, dia itu istrimu!" kata pak Ibrahim tak terima mendengar perkataan Putranya itu.


"Dan Feby adalah istri serta ibu anakku," jawab Sandi yang langsung menarik Feby kedalam kamar.

__ADS_1


Dia tak tahan lagi mendengar hinaan dan caci maki dari orang tuanya, entah apa hasutan yang Dini katakan.


Dini tak mengira jika suaminya begitu membela Feby, Bu Sulastri pun memeluk Dini menenangkan menantunya itu.


"Sayang kamu mandi dulu ya," kata Sandi yang di angguki oleh Feby.


Feby tak mengira jika niat baiknya di salah artikan oleh mertuanya, bahkan mereka langsung menghardiknya tanpa mendengar penjelasan.


Feby hanya cemburu dan sakit hati, kedua mertuanya hanya melihat Dini, dan semua yang Feby lakukan adalah salah.


"Ibu, ayah lebih baik pulang, Dini butuh waktu sendiri dulu," lirih Dini.


"Tapi nak-" kata Bu Sulastri tak tega meninggalkan Dini.


Tapi pak Ibrahim meyakinkan istrinya, mereka pun pulang, Dini hanya bisa melihat pintu kamar itu.


Dini memutuskan untuk naik ke kamar miliknya, sedang Sandi sedang memeluk dan menenangkan Feby.


"Maafkan aku ya dek, seharusnya aku bisa melindungi mu, ibu memang terlalu buta pada kasih sayangnya pada Dini," kata Sandi.


Feby hanya mengangguk, mereka pun kini bermain bersama Yusuf di dalam kamar.


Dini tak mengira kunjungan mertuanya malah memperburuk hubungan dirinya dan Sandi yang mulai membaik.


Feby melihat dua pria tercintanya tidur pulas karena kelelahan, Feby pun ingat bagaimana dulu dia berjuang melahirkan putranya sendiri.


Feby sempat di bawa ke kota ibunya di Minahasa, ayahnya yang tak ingin melihat Feby yang menghancurkan nama keluarga mereka.


Tapi kehidupan Feby tak semulus yang di bayangkan, dia bahkan harus terus menderita.


Beruntung keluarga ibunya begitu menyayanginya, bahkan saat Feby harus melahirkan anak seorang diri.


Feby merasa itu sangat berat, bahkan dia terus memanggil nama Sandi. bahkan saat mengadzani Putranya dia kebingungan.


Karena semua keluarga ibunya seorang Nasrani, tapi beruntung seorang pria mau membantunya.


Feby pun meneteskan air matanya saat mengingat itu semua, bagiamana dia berjuang agar di terima oleh keluarganya.


Beruntung Feby memiliki kakek yang begitu menyayangi dirinya, dan berkat sang kakek Feby pun di terima kembali saat usia Yusuf satu tahun.

__ADS_1


__ADS_2