
bibi sedang bersiap, hari ini dia harus ke rumah sakit untuk mengecek kandungannya.
ya tak terasa sudah tujuh bulan berlalu, hidup rumah tangganya juga tak pernah terkena badai.
tapi hari ini bibi terpaksa periksa sendiri karena Bram yang sibuk, sudah dua bulan ini.
pria itu begitu sibuk, bahkan beberapa kali Bram pulang mabuk karena ulah rekan bisnisnya.
sebenarnya bibi merasa khawatir tentang hal itu, tapi papa Vin meyakinkan bibi jika semua akan baik-baik saja.
"Ale mau ikut mama, atau di rumah dengan Oma?" kata bibi pada putranya yang hampir berusia dua tahun itu.
baby Ale langsung memeluk kaki bibi, "ya sudah den Ale dengan bik tum saja ya, kasihan kalau mama yang gendong,"
"terima kasih ya bik, lebih baik kita sekarang berangkat, takut nanti kesiangan," kata bibi
"baik nyonya," jawab bik tum.
perjalanan menuju rumah sakit cukup di tempuh dua puluh menit, bahkan mereka tak perlu antri karena sudah daftar online dahulu.
bibi langsung masuk ke ruangan dokter, bibi pun kaget saat dokter mengatakan tentang berita besar.
tapi sayang bersamaan dengan itu, ada berita buruk yang harus bibi terima, dan dia harus segera mendiskusikan ini dengan Bram.
bagaimana pun dia adalah suaminya, dan dia tak bisa melakukan apapun tanpa suaminya itu.
sedang di perusahaan Bram dan Farhan sedang duduk bersama, kedua pria itu sedang pusing.
pasalnya sekarang di depan mereka ada seorang gadis yang berani datang dan melempar sebuah surat keterangan dokter ke wajah Bram.
__ADS_1
"gugurkan bayi itu, meski aku tak yakin itu bayiku, kau bisa membuat keluargaku hancur," kata Bram dingin.
"apa, enteng betul ucapan mu, aku bisa saja membunuh bayi ini, tapi aku ingin kamu bertanggung jawab, jika tidak aku akan membuat istri tercintamu yang sedang hamil itu celaka," ancam wanita itu.
"ha-ha-ha, kau rupanya yakin benar bisa keluar dari ruangan ini, asal kau tau semut seperti mu tak harus aku yang menyingkirkan," kata bram dingin.
"buat apa kamu mengotori tangan mu bram,aku sudah menyebar siapa hadis ini, lihatlah bahkan calon tunangan mu saja sudah tau,dan kamu mau menjebak kami, kau gila ternyata," kata Farhan menunjukkan semua bukti itu.
"pak seret wanita ini yang berani mengusik ketenangan keluarga kakak ku, dan pastikan dia tau siapa yang di usiknya," kata Feli yang datang bersama anak buah milik Farhan
"sudah selesai imunisasi, anak papa sudah makin besar ya," kata Farhan memangku putranya Yunus.
"dia wanita yang kalian ceritakan, wah ... aku juga baru tau jika gadis itu ternyata wanita liar, bahkan dia berpura-pura polos untuk menipu sebuah keluarga konglomerat di kota ini juga," kata Feli.
"aku tau itu, tapi tak akan semudah itu, karena aku tak pernah menyentuh wanita lain selain istriku, dan gara-gara gadis gila ini, aku jadi tak bisa menemani bibi ke dokter," marah Bram.
"semoga mbak baik-baik saja, karena aku merasa khawatir saat melihat perutnya yang begitu besar, padahal masih tujuh bulan," gumam Feli.
Ara di seret keluar dari perusahaan, dan kebetulan di lobi dia berpapasan dengan bibi, baby Ale dan juga bik tum.
bibi sudah di sambut oleh resepsionis dan akan di antar ke ruangan milik Bram.
Ara pun berontak dan menjatuhkan tiga pria yang menahannya, dan langsung menjambak rambut bibi.
"AAA!!! sakit!!" teriak bibi yang merasakan jambakan itu.
"kau harus mati, dan asal kau tau jika suamimu itu pria bajingan," kata Ara mendorong bibi.
Bibi pun langsung marah, "bik tum jaga putraku," kata bibi dingin.
__ADS_1
Ara ingin menyerang bibi lagi, tapi bibi mengambil tanah di pot tanaman di samping lift.
bibi melemparkan tanah itu kearah mata Ara, dan setelah Ara berteriak kesakitan.
bibi langsung berbalik dan menendang lutut Ara dengan keras hingga gadis itu kesakitan.
bibi pun menjambak rambut Ara dengan kuat, "kau bisa menghina ku, tapi tidak dengan suami dan anak-anak ku, terlebih kau hanya wanita liar, dan asal kau tau jika aku tak sebodoh itu untuk tak tau apa pun," bisik bibi dengan suara penuh penekanan.
"aku bukan wanita yang akan menangis saat ada wanita seperti mu berulah untuk merebut milikku," kata bibi dengan suara lantang.
tanpa basa-basi bibi langsung mendorong Ara hingga terhantup pot tanaman.
Bram dan semua turun karena kaget mendengar jika bibi datang dan di sakiti oleh Ara.
tapi saat mereka sampai di lobi, bibi sedang menenangkan dirinya, sedang Ara sudah di bawa pergi.
"sayang kamu disini," tanya Bram
"kenapa? aku tak boleh kesini? kamu mau berbohong sejauh mana? kamu kira aku bodoh dan buta," jawab bibi marah.
Feli terdiam, dia tak mengira jika bibi bisa seberani ini pada Bram yang terkenal begitu kejam dan dingin.
"maafkan aku sayang," kata Bram mendekat kearah bibi.
"gak mau, gendong tuh baby Ale, kasihan bik tum, dan minta seseorang membelikan aku eskrim," kata bibi yang langsung naik lift.
Farhan dan Feli melongo di buatnya, Bram kini jadi pria takut istri, bahkan pria itu tak bisa berkata tidak pada istrinya.
"sabar tuan, nyonya sedang bad mood, terlebih dokter mengatakan jika ada sesuatu yang menghawatirkan," jawab bik tum.
__ADS_1
mendengar itu Bram panik dan langsung menyuruh seseorang membelikan eskrim permintaan bibi.
sedangkan dia buru-buru naik ke ruangan miliknya untuk bertanya, sebenarnya apa yang terjadi.