
Dini pun mengajak Feby dan Yusuf untuk tinggal di rumah bersama, bahkan Dini terlihat begitu bahagia.
Sidang isbat juga sudah memutuskan pernikahan Feby dan Sandi itu sah secara hukum dan agama.
Feby pun langsung mengurus akta untuk putranya, karena Yusuf sebentar lagi harus maduk ke playgrup.
"Tunggu Feby, kita harus membicarakan ini terlebih dahulu," panggil Dini.
"Iya mbak, ada apa?"
"Kita harus meminta mas Sandi membagi waktunya untuk kita, ini harus jelas, apa kamu keberatan?" tanya Dini.
"Tentu tidak mbak, aku akan mengikuti semua perintah mbak," jawab Feby yang sedang memesan sesuatu.
Sandi baru saja masuk sambil mengendong Yusuf, "wah lihat Yusuf, ada bunda Dini dan mama Feby, kalian sedang membicarakan apa?"
"Mas harus menentukan dan memperjelas pembagian waktu untuk kami," kata Dini.
"Itu pasti-"
"Empat hari untuk mbak Dini, dan tiga hari untukku," saut Feby memotong ucapan Sandi.
"Itu tak adil Feby," protes Dini.
"Adil kok mbak, karena mbak istri pertama, jika mas keberatan maka aku hanya minta dua hari," jawab Feby tegas.
"Baiklah aku setuju, Dini empat hari dan kamu tiga hari," jawab Sandi mengiyakan.
Dini pun merasa jika Sandi begitu memanjakan Feby, bahkan langsung mengiyakan permintaan Feby.
Sedang Sandi akan tersiksa akan hal itu, karena dia ingin bersama Feby lebih lama.
Tapi dia tak bisa memaksakan kehendaknya pada Feby, karena Sandi pernah kehilangan gadis itu.
"Baiklah, malam ini giliran kak Dini dan empat hari kedepan, baru setelah itu giliran ku, mas gak boleh protes, ayo Yusuf kita mandi dulu," kata Feby mengambil putranya itu.
Dini dan Sandi saling pandang, Dini tau jika suaminya pasti ingin bersama Feby saat ini.
Tapi Sandi memeluk Dini dari belakang, "terima kasih sudah menerima mereka, maaf jika aku melukaimu, aku akan adil jika tidak bisa maka tegurlah," kata Sandi.
"Iya mas, aku percaya padamu," jawab Dini.
Mereka pun masuk kedalam kamar di lantai dua, sedang Feby di lantai satu dan kamarnya bisa terhubung dengan kamar putranya Yusuf.
Feby memeluk Yusuf sambil terisak lirih, dia tau jika yang dia lakukan salah tapi dia tak bisa berbohong tentang cintanya.
__ADS_1
Tapi dia juga terluka saat melihat mata wanita yang dia sakiti, makanya Feby ingin melakukan sesuatu untuk Dini dan Sandi.
"Paket!" teriak kurir yang sudah di tunggu Feby.
"Sebentar," jawab Feby dari dalam sambil menggendong putranya.
"Tolong tanda tangan disini mbak," kata kurir itu.
Setelah menandatangani tanda terima, Feby pun menurunkan Yusuf.
Dia pun ingin segera memastikan barang yang di belinya semua benar dan tak ada cacat.
Dia pun tersenyum karena barang itu benar dan sangat memuaskan, Sandi datang dan heran melihat apa yang di beli Feby.
"Kamu suka sekali beli begituan?" kata Sandi duduk sambil memangku Yusuf.
"Apa sih! karena itu ulahmu mas, kamu terus merobeknya, jadi aku harus memiliki banyak bukan," kesal Feby pada Sandi.
Dini yang dengar pun memilih tidak peduli, tapi Feby membawa semua yang dia beli ke arah Dini.
"Mas! pinjem mbak Dini dulu ya, jaga Yusuf," kata Feby mengajak Dini ke kamar wanita itu.
"Lihat Yusuf, mama mu sudah menculik bunda mu yang polos," kata Sandi pada putranya yang hanya tertawa menanggapi perkataan Sandi.
"Ada apa Feby?" bingung Dini.
"Apa ini?" kaget Dini melihat baju tipis dan begitu terbuka.
"Ini baju malam mbak, biar mas Sandi makin cinta, terus ini namanya jamu cinta, agar suami juga makin sayang, harus minum ya, janji," kata Feby memohon.
"Baiklah, aku akan mengikuti permintaan mu," jawab Dini pasrah.
"Terima kasih mbak," jawab Feby memeluk wanita itu.
Malam pun datang, Dini sudah meminum jamu yang di minta Feby, setelah itu memakai baju yang di berikan wanita itu juga.
Bahkan Dini juga berhias, sedang Feby memilih tidur bersama putranya dan berdoa agar tak mendengar suara-suara aneh.
Benar saja, Sandi begitu terpukau oleh Dini yang begitu cantik dengan baju tidur itu.
Keduanya pun melakukannya dengan begitu panas, bahkan Dini baru kali ini tau jika suaminya begitu buas.
Hari berganti dan tak terasa sudah empat hari terlewati bersama, Dini begitu menikmati waktu bersama Sandi, karena Feby memilih bekerja di luar.
Tapi Dini merasa sedikit terluka saat Sandi bermain dengan Yusuf, bahkan Sandi begitu bahagia bersama bocah itu.
__ADS_1
Seandainya itu putra kandungnya, mungkin dia akan sangat bahagia melihatnya.
Feby baru saja datang dari mengurus toko miliknya, "lihat mama pulang Yusuf," kata Sandi.
"Mama ...." panggil Yusuf.
"Iya sayang mama, maaf ya kamu harus sama ayah, karena tiba-tiba Eni min libur saja," kesal Feby.
"Sudahlah, kamu mandi dulu, biar Yusuf bersama ku," perintah Sandi.
"Oke ayah," jawab Feby mencium Yusuf, Sandi yang juga mu menarik Feby dan mencium pipi Feby.
"Mesum," kata Feby mencubit pipi Sandi.
Dini pun mengalihkan pandangan dari adegan romantis itu, bahkan dia tetap merasa sakit melihatnya.
Malam harinya, Feby memakai pakaian tidur yang sedikit terbuka, sedang Sandi masih bersama dengan Dini menonton tv.
Feby sudah menunggu Sandi di kamar setelah menidurkan putranya, Feby terus melihat jam dengan gelisah.
Sampai pukul sebelas malam Sandi tak menemuinya, Feby makin gelisah dia pun memilih mengambil minuman untuk menenangkan dirinya.
Tapi betapa terkejutnya Feby yang melihat Dini sedang bercumbu dengan Sandi di depan TV.
Dia pun mengurungkan niatnya, "apa aku sudah terlupakan, sadar Feby kamu tak berhak untuk sakit hati, inilah yang pantas kamu terima," batin Feby mengutuk hidupnya sendiri.
Sandi lupa jika hari ini giliran Feby, Dini juga melupakan itu, karena dia sedang terbawa suasana bersama Sandi beberapa hari ini.
Feby mengunci pintu kamar putranya dan juga kamarnya, dia pun menangis lirih di dalam kamar sendirian.
Malam ini terlewati, Sandi pun menikmati malam indah bersama Dini, bahkan sampai pagi pun mereka masih bermesraan tanpa rasa bersalah.
Feby keluar sambil mengendong Yusuf bahkan matanya masih bengkak karena menangis semalaman.
"Putra ayah," kata Sandi mengambil Yusuf yang malah memeluk Feby tak ingin lepas.
Feby pun tak mau melihat Sandi, dia pun mengendong Yusuf saat membuatkan susu.
"Ayo sarapan Feby," ajak Dini yang begitu bahagia.
"Tidak perlu mbak, aku sedang buru-buru karena ada pesanan besar, aku pergi dulu, dan aku akan membawa Yusuf," jawab Feby tanpa menoleh kearah keduanya.
"Tunggu Feby, apa ini sikap seorang istri!" panggil Sandi sedikit berteriak.
"Mas jangan seperti itu ..." kata Dini.
__ADS_1
"Jangan bertanya padaku, tanya saja pada dirimu mas," jawab Feby yang langsung pergi tanpa menghiraukan Sandi, dia langsung pergi dengan mobil miliknya.