
Feby sudah pergi bersama Tami dan putranya, Sandi tak bisa mengejar mereka.
Bahkan nomor ponsel Sandi di blokir oleh Feby, sedang Yusuf yang menangis ingin ikut Sandi pun tak di gubris oleh Feby.
Kali ini keinginannya sudah bulat keluar dari neraka yang dia ciptakan bersama Sandi, dia bisa bahagia tanpa Sandi.
Sandi pun mengambil kunci mobil untuk mengejar Feby, tapi Bu Sulastri tak memberikan kunci itu.
"Tidak Sandi, biarkan dia pergi, buat apa kamu mengejarnya, dia itu tak tau malu," kata Bu Sulastri.
"Hentikan Bu, dia itu Cinta ku, dia itu yang pertama memberikan kebahagiaan dan kebanggaan padaku, sedang menantu kesayangan mu, ah!!!! aku tak bisa kehilangan Feby."
Dini hanya bisa menangis mendengar semua ungkapan hati suaminya, apa dia sekotor itu.
"Cukup Sandi, memang apa yang dia berikan, hingga kamu bisa seperti ini, ingat keluarga Dini membantu kita saat susah," kata pak Ibrahim menginggatkan.
"Tapi aku sudah menebusnya, tapi kenapa kalian tak bisa menghargai pilihanku, hanya Feby yang bisa membuatku bahagia," kata Sandi.
Sebuah tamparan di berikan oleh pak Ibrahim untuk menyadarkan putranya itu.
"Orang tua Dini memang membantu ayah dan ibu, tapi hanya Feby yang mendukung ku, saat bengkel ku hampir bangkrut. dia memberikan modal dan kami membuka usaha bersama, sedang apa yang di berikan menantu kesayangan kalian, cukup Feby adalah wanita yang aku cintai dan aku tak bisa kehilangan dia," kesal Sandi.
"Sandi kamu mau kemana?" tanya Bu Sulastri melihat putranya membawa kunci motor gede.
"Aku pergi dari rumah dan jangan harap aku kembali ke rumah ini lagi, jika kalian mau hidup saja dengan menantu kalian, karena aku tak sanggup lagi, jika harus kalian atur terus menerus," kata Sandi geram dan pergi dari rumah.
"Mas tolong jangan tinggalkan aku mas, aku sedang hamil mas, aku mohon ...." kata Dini menahan tangan Sandi.
"Kalau begitu tolong minta kedua orang yang begitu mencintaimu ini untuk membawa putra ku Yusuf dan ibunya kembali, apa kamu bisa," kata Sandi.
__ADS_1
"Iya mas, aku akan membujuk ibu, tapi jangan tinggalkan aku," mohon Dini.
"Maaf aku tidak bisa, sebelum Feby kembali aku tak ingin berada di rumah ini," jawab Sandi yang benar-benar pergi dari rumah.
Mobil Feby sampai di perumahan elit itu, dan dia juga meminta satpam untuk tidak mengizinkan Sandi untuk masuk dan menemuinya.
Satpam pun mengerti, Feby akan memulai segalanya sekarang mulai dari awal lagi dan kali ini hanya dengan Yusuf.
Satrio tak mengira jika Feby benar-benar pindah dan hanya bersama putra serta pengasuhnya.
"Kenapa kau pindah, di usir oleh suamimu?" ejek Satrio.
"Aku yang pergi dari sana, dan jangan kepo dengan urusan orang lain," jawab Feby.
Satrio mengejar Feby dan menahannya di dinding, "bawa Yusuf masuk mbak," perintah Feby yang mencoba lari tapi Satrio menahannya.
"Sudahlah jangan main-main lagi, memang berapa harga yang di berikan Sandi padamu, aku bisa memberikan mu dua kali lipat, asal kau mau menemaniku dan meninggalkan mereka, agar bahagia berdua seperti awalnya," tawar Satrio.
"Kau!" kata Satrio mengangkat tangan ingin memukul Feby, tapi berhenti melihat mata indah itu berkaca-kaca.
"Kenapa berhenti tampar saja, biar semakin lengkap luka ku, tadi aku di hina di sana, dan di sini kamu juga ingin menambahkan juga, maka silakan aku kuat menghadapi ini semua," kata Feby menangis di depan Satrio.
Hati Satrio tersentuh, tangisan Feby melemahkan semangat balas dendamnya,
Bahkan dia juga bisa melihat luka yang di alami Feby di mata wanita itu, "apa salah putraku, jika aku bisa mengugurkannya dulu, aku pasti sudah membunuhnya, tapi aku tak bisa. saat menginggat dia itu hadiah dari Tuhan untukku. aku tidak pernah menginginkan jadi yang kedua, bukan aku yang mengemis padanya, bukan aku ...."
Satrio pun ikut duduk di depan wanita itu, wanita yang tampak tegar dan ceria itu pun akhirnya rapuh juga.
Satrio pun ingat bagaimana dia memberikan obat pada Dini di sekolah, karena wanita itu sempat hamil dulu, dan dia membunuh Sarah dagingnya karena belum siap menikah dan menanggung beban.
__ADS_1
Satrio tau perasaan hancur yang di rasakan Feby, "maafkan aku, aku tak pernah tau cerita kalian, karena itu aku mengira kamu yang masuk dan menghancurkan keluarga Dini."
"Memang, aku yang khilaf hingga bisa tidur dengan mas Sandi, tapi kami melakukannya dengan cinta, tapi saat aku hamil aku pergi dan menjauh dari semuanya, tapi apa urusannya dengan mu, lebih baik jangan mendekatiku," kata Feby yang bangun dan meninggalkan Satrio.
Satrio pun pergi dari rumah Feby, sedang Sandi mengawasi rumah keluarga Feby tapi wanita itu tak pulang kesana.
Sandi pun menelpon beberapa sahabat Feby, bahkan dia juga datang ke toko milik Feby dan wanita itu juga tak ada di sana.
"Kamu dimana sayang, aku merindukanmu," lirih Sandi.
Pria itu terus mencari Feby, bahkan dia juga tak bisa menelpon Feby karena nomor ponselnya di blacklist.
Akhirnya Sandi memilih menemui Purnomo agar bisa membantunya, dia adalah sahabat sekaligus guru dari Feby.
"Tumben nih kemari? bertengkar dengan Feby?" goda Purnomo.
"Iya, dan kali ini dia pergi dari rumah, tolong tanya di mana keberadaannya Sekarang," mohon Sandi.
"Sudahlah Sandi, kenapa kamu masih saja mencarinya, toh dia sudah pergi darimu ini," kata Vita.
"Tidak Vita, aku tak bisa kehilangan dia, dia segalanya bagiku," jawab Sandi.
"Sandi ingatlah, Dini sedang hamil, bagaimana bisa kamu seperti ini, lagi pula kandungannya juga lemah, jangan egois Sandi," tegur Vita.
"Ha-ha-ha, aku egois, kandungannya lemah karena pernah keguguran, dan ini kehamilannya bersama ku untuk pertama kali, bagaimana perasaan mu saat istrimu pernah hamil dengan pria lain, dan kemudian keguguran. dan kamu baru tau setelah satu bulan menikah, bagaimana dengan perasan ku Vita, aku di bohongi, aku di tipu Vita, dan setelah itu aku tak bisa berbuat apa-apa karena hanya dengan alasan balas Budi," jawab Sandi yang membuat Purnomo dan Vita terdiam.
Mereka tak mengira Sandi akhirnya mengatakan rahasia keluarganya, "ini tak benar Sandi, kamu mengumbar aib istrimu," bela Vita.
"Terus kalian dengan mudah terus menghina diriku, menjadikan aku sebagai orang jahat, apa aku tak bisa bahagia, katakan," kata Sandi yang menangis sesenggukan menginggat segalanya.
__ADS_1
"Aku mencintai Dini Vita, sangat mencintainya, tapi dengan kedatangan mantan kekasihnya, luka ku terbuka dan semakin dalam, tapi tak ada yang mau mengerti posisiku bukan, aku memang pria brengsek, aku akui itu," tambah Sandi.