
"papa ayo berenang dengan ku," ajak Edgar.
"tunggu sayang, ya Tuhan apa yang kamu lakukan mama," bingung Bram melihat tingkah bibi.
"aku tak ingin kamu menunjukkan tubuhmu, disini ada orang lain," kata bibi melotot kearah Bram.
"kenapa, dulu saat bik tum sendiri kamu tak keberatan, tapi sekarang?"
"tidak boleh, sekarang ada dua pembantu baru," bisik bibi.
karena gemas Bram langsung menarik bibi keperluannya, dan kemudian menjatuhkan diri bersama masuk kedalam air.
Edgar tertawa melihat tingkah keduanya, "ya ... aku gak pakai dalaman," bisik bibi yang langsung memeluk Bram.
"apa, bagaimana bisa kamu tak pakai bra, ya Tuhan kamu ini," kata Bram tak habis pikir.
"pikir aja sendiri, bagaimana itu satu lemari hanya ada beberapa dalaman, terus aku harus pakai saat kotor gitu, kamu yang logis dong pa," protes bibi.
"baiklah, kita belanja mau? mumpung masih siang," kata Bram.
"aku mau, kebetulan mau beli keperluan melukis, boleh pa?" tanya Edgar yang bergabung memeluk Bram.
"tentu boleh, uang papa memang untuk memanjakan kalian semua, sekarang ayo kita berhenti berenang, jika tidak kita tak akan jadi belanja ini," kesal Bram.
"jangan turunkan aku, dadaku akan terlihat," bisik bibi yang malah memeluk bram erat.
bik tum tertawa melihat Feby yang di gendong punggung oleh Bram, bahkan Edgar tertawa melihat itu.
bik tum membantu Edgar ganti baju, sedang Feby berganti baju bersama Bram.
Bram mengambil bra yang ada di lemari, "kenapa tak pakai ini?" tanya Bram sambil merentangkan benda itu.
"itu tak nyaman, dan akan merembes saat Ale jadwal menyusu," protes bibi.
"baiklah, kita belanja," kata Bram yang memilihkan kemeja untuk bibi.
ketiganya ternyata mengunakan kemeja dengan warna yang mirip, bahkan bibi terlihat cantik saat memakai model baju begitu.
mereka pun berangkat ke daerah Kediri kota untuk menuju ke mall, sesampainya di sebuah toko baju.
bibi langsung memilih beberapa pakaian dalam yang nyaman, tak lupa dia juga memilih pakaian tidur juga.
setelah itu dia juga memilih pakaian yang nyaman untuk sehari-hari, apalagi di memiliki bayi.
sedang Bram melihat sebuah baju yang di pajang di patung, dia pun meminta seorang penjaga toko untuk mengambil model lain dan memberikannya pada bibi.
setelah selesai kini giliran membelikan perlengkapan sekolah untuk Edgar.
kedua pria itu yang berbelanja, sedang bibi memilih untuk istirahat di ruangan sambil menyusui bayi Ale.
tak lama bayi itu tertidur karena kenyang.
"semuanya sudah, papa kamu belum beli apapun?" tanya bibi.
"aku tak butuh apa-apa, kira makan dulu, sambil beristirahat," kata Bram.
__ADS_1
"baiklah," jawab Edgar semangat.
"ganteng, kamu mu makan apa?" tanya Bram pada putranya yang sudah besar.
"aku mau makan yang itu papa, aku pernah lihat iklannya di TV," jawab bocah itu.
bibi mengacak rambut putranya, ternyata bocah itu selama ini tinggal di desa.
Bram benar-benar memanjakan Edgar dan bibi, bahkan baru kali ini bibi melihat bagaimana seorang pria memanjakan putra orang lain seperti putranya sendiri.
Edgar telihat begitu senang saat bisa memakan Makanan impiannya, bahkan bocah itu minta untuk di bungkus.
Bram pun membelikan ayam crispy saja yang di bawa pulang, setelah itu mereka pun menuju rumah setelah belanjaan lengkap.
"papa tolong berhenti di toko buah ya, karena sepertinya kamu dan Edgar kurang makan buah," kata bibi.
"baiklah, tapi ku memang tak suka buah ma, jadi tolong jangan beli buah dengan bentuk yang aneh-aneh ya," kata Bram ngeri.
"aku juga ma," kata Edgar.
"tak boleh, kalian harus makan buah mulai sekarang, dan kamu juga bocah kecil, yang baru bangun ini," kata bibi melihat Ale.
bibi turun sendiri, dan memilih beberapa buah, dua membeli semangka, apel, pir, kiwi dan jeruk.
tak terduga Bram langsung turun dan menutup kepala bibi dengan jaket, "ada apa pa?" kaget bibi yang di peluk Bram.
"aku rindu kamu saja, dan jangan menoleh, ada Dini disini," bisik Bram.
"semuanya jadi berapa mas?" tanya Bram.
Bram memberikan uang dua ratus ribu, dan kemudian kemudian Bram membawa buah itu ke mobil bersama bibi.
setelah itu mereka pun langsung pergi, "mama gak ketahuan wanita itu?" tanya Edgar.
"tidak nak," jawab bibi yang bernafas lega.
"untuk tadi Edgar melihat wanita itu datang, bahkan aku juga kaget melihat wanita itu bro disana juga," kata bram.
"beruntung lah pa," kata bibi.
mereka pun sampai rumah sore hari, dan para pembantu sudah membawa belanjaan.
sedang bayi Ale sudah bersama bik tim, Bram masih belum berkata jujur pada bibi.
"tunggu sebentar, ada yang ingin aku katakan padamu, ayo ikut aku ke belakang ya," ajak Bram.
bibi pun menurut saja, dia bahkan melompat ke punggung Bram dan di gendong sampai taman belakang.
keduanya duduk di ayunan di bawah pohon, "kamu tau pa, dari atas sana aku selalu melihat mu yang diam sambil bermain sendiri," gumam bibi
"sekarang kita bermain berdua, sebenarnya ada yang ingin aku katakan pada mu, dan setelah dengar semuanya, aku hormati keputusan mu," kata Bram.
"apa itu pa," kata bibi sambil menyandarkan kepalanya di badan Bram.
"dulu aku ingin membunuh mu karena perintah seseorang, tapi ternyata kamu hanya pingsan, dan saat aku merasa kasihan padamu, aku memberimu obat yang membuat mu gila, tapi apa yang terjadi sekarang, aku malah jatuh cinta padamu," kata Bram.
__ADS_1
"sudah lupakan, Feby sudah mati saat kamu membunuhnya, dan sekarang hanya ada bibi istri mu ini yang gila karena cinta padamu," kata bibi mengenggam tangan Bram.
"kamu yakin, aku sudah tua loh," kata Bram.
"aku tak peduli usia mu, aku mencintaimu, dan aku heran pa, bagaimana kamu tau aku memiliki putra, dan bagaimana Edgar mau ikut dengan mu?" kata bibi penasaran
bram pun menceritakan semuanya, "kamu ingat saat aku pergi sepuluh hari itu, aku menemui anak buah ku yang berhasil menemukan putra mu, yang tinggal menyedihkan di desa terpencil," kata Bram.
Bram memang benar-benar menyelamatkan Feby, dia terus mencari putra wanita itu yang pergi bersama orang tua sandi.
beruntung anak buah Bram berhasil menemukan bocah itu di sebuah rumah kayu di pinggiran perkebunan sawit.
saat Bram menemui bocah itu, bocah itu sedang membantu membersihkan perkebunan sawit bersama pak Ibrahim.
"selamat siang, apa ini benar pak Ibrahim asal kota Jombang," kata Bram menyapa seorang bapak tua.
"iya tuan, saya sendiri ada apa?" tanya pria itu.
"boleh saya bertemu dengan cucu anda," tanya Bram melihat seorang bocah di balik tubuh pak Ibrahim.
"Yusuf ayo beri salam nak," kata pak Ibrahim.
Yusuf pun keluar dan menyalami tangan Bram dengan takut, Bram pun tak mengira wajah bocah begitu mirip dengan bibi.
"mau ikut om sayang, aku akan mempertemukan mu dengan mama," kata Bram.
"maaf tuan,apa maksud anda, menantu saya sudah meninggal, bagaimana dia bersama anda," kata pak Ibrahim.
"tidak pak, dia hanya sedang sakit, dan saya mengenalnya karena saya yang merawatnya, jadi apa kamu mau?" tanya Bram
"mau om," jawab bocah itu memeluk Bram.
itulah pertama kalinya Bram merasakan sebuah pelukan yang begitu hangat dan menenangkan, dan dia bersumpah untuk membahagiakan bocah itu.
Bram yang tau kondisi istri dari pak Ibrahim pun menawarkan untuk tinggal di panti jompo.
setidaknya itu adalah hadiah kecil untuk orang yang dulu merawat bocah yang begitu berharga itu.
orang-orang Bram mengatur semuanya, dan Bram harus pulang karena dia terlalu lama meninggalkan bibi dan bik tum.
bibi menangis mendengar cerita itu, Bram pun mencium kening bibi dan memeluknya.
"seharusnya aku menemukannya secepatnya, agar dia tak tersiksa seperti itu," kata Bram.
"tidak pa, aku yang seharusnya berterima kasih, aku bahkan seharusnya berterima kasih pada orang yang mengirim mu untuk membunuh ku, hingga sekarang aku menjadi wanita yang di penuhi cinta seperti ini," gumam bibi.
"dia begitu membencimu, dia adalah Fatma, ibu dari Dini, dia bukan orang yang sebaik kau pikirkan, dan jika aku telat sedikit, mungkin putra mu juga akan mati, jadi itulah kenapa kita perlu identitas baru," kata Bram.
"terima kasih sudah melindungi kami," kata bibi mencium bibir Bram.
"i love you bibi," kata Bram dengan begitu tulus.
tanpa keduanya sadari, Edgar diam menghambat kebersamaan keduanya yang begitu romantis dengan latar langit jingga sore hari.
bahkan dengan sedikit sentuhan lukisan itu begitu sempurna, bahkan bik tum pun tak mengira bocah sekecil itu bisa melukis denhan begitu indah.
__ADS_1