Berbagi Cinta : Sepupuku, Istri Siri Suamiku

Berbagi Cinta : Sepupuku, Istri Siri Suamiku
berubah menjadi baik.


__ADS_3

sudah lebih dari dua hari Dini dan Sandi tak saling bicara, keduanya tengelam dalam pikiran masing-masing.


Dini pun memberanikan diri untuk mengatakan sesuatu kebenaran, dia kini menghampiri sandi yang sedang duduk di kamar.


"kemarilah dek," panggil Sandi pada istrinya itu.


sandi pun meminta Dini untuk tidur di sampingnya, dan dini dengan senang hati.


"mas, aku ingin jujur pada mas tentang sesuatu, setelah itu aku pasrah deban semua keputusan mas setelah ini," kata dini.


"ada apa dek?" tanya Sandi penasaran.


Dini mulai terisak lirih, Sandi pun memeluknya, dia tau selama ini sikapnya begitu kejam pada Dini.


"mas ... maafkan aku, sebenarnya aku tak bisa hamil lagi, dokter mengatakan jika rahimku terluka saat jatuh dan keguguran waktu itu, dan jika bisa pun, peluangnya sangat kecil,"


"tidak apa-apa dek, seharusnya ini semua salahku, aku sadar jika selama ini begitu buruk padamu dan Feby, mungkin ini semua hukuman untukku," jawab Sandi.


"aku mengizinkan mas menikah lagi, agar mas memiliki penerus keluargamu," kata Dini menguatkan dirinya.


Sandi memeluk istrinya dengan erat, "tidak dek, keluargaku sudah punya Yusuf, dan sekarang aku ingin menjalani hidupku bersamamu," kata sandi.


Dini merasa senang mendengar jawaban Sandi, dia tak mengira jika suaminya berubah dengan sangat cepat.


sedang Sandi mulai sadar, untuk mencintai Dini saja sampai akhir hayatnya.


karena wanita itu yang bertahan dengan semua kelakuannya, sedang selain Dini mereka pergi dari hidupnya.


keduanya pun merancang hidup baru dengan menjual rumah yang penuh dengan kenangan buruk itu.


mereka ingin memulai hidup baru di kota baru, orang tua Dini juga mengizinkan keputusan anak dan menantunya itu.


kini keduanya pindah ke kota Kediri untuk memulai semua kisah dari awal, dan menutup lembaran kisah lama dan kelam mereka.


keluarga Feby tak mengira jika kedua orang itu pergi, tapi bukan Feli jika tidak bisa menemukan keduanya.


di kota baru itu, Andini bekerja sebagai guru les untuk siswa sekolah, sedang Sandi membeli beberapa kebun sayur di sana.


keduanya memulai semua dengan sangat baik, bahkan warga desa juga mengenal mereka sebagai pasangan paling romantis.


setiap pagi Sandi dan Dini akan berjalan berdua menikmati suasana desa yang asri.


bahkan Sandi tak segan menunggu dini yang sedang berbelanja, sedang ibu-ibu akan merasa iri dengan keromantisan keduanya.

__ADS_1


bahkan saat sampai di rumah, Sandi akan manja pada istrinya itu, Sandi bahkan terus menggoda Dini yang sedang memasak.


"hentikan mas, kami nanti kesiangan loh," kata dini yang terus mendapat ciuman di tengkuk dan bahunya.


"kenapa sih, aku kan ingin manja dengan mu, toh pagi ini ada mang Udin yang mengawasi semuanya," jawab Sandi.


"tapi semalem kmu udah udah kali loh, masak masih kurang sih," jawab Dini tak bisa lepas dari pelukan suaminya.


"kurang sayang, aku masih menginginkannya, karena kamu begitu seksi dengan baju lingerie warna merah muda semalam," bisik sandi.


keduanya sudah berciuman dengan begitu berhasrat, sandi mematikan kompor dan melakukannya di dapur.


Dini bergoyang untuk memuaskan suaminya itu, keduanya memilih posisi duduk agar lebih nikmat.


Sandi bahkan tak tau kenapa sekarang dia tak bisa melepaskan diri sedikit pun dari pesona Dini.


sedang Bu Fatma setiap Minggu selalu rutin mengirimkan jamu untuk Dini, agar Sandi tak bisa melirik wanita lain.


keduanya pun bahkan mengulangi di kamar mandi, baru setelah itu Sandi meneruskan memasak untuk dirinya dan Dini.


sedang Dini datang dengan mengunakan daster tanpa lengan dan mengerjai rambut basahnya.


"kamu melanjutkannya mas," kata Dini merangkul Sandi.


"tentu, kamu pasti kelelahan kan," kata Sandi mencium pipi istrinya itu.


Sandi dan Dini bahkan tak pernah memikirkan dan bertanya kira-kira wanita itu dimana dan bagaimana keadaannya.


Sandi pun berjalan menuju kebun miliknya, tapi saat di jalan dia melihat ada kerumunan orang yang sedang melihat sesuatu.


Sandi pun tak peduli, dia lanjut berjalan tanpa ingin tau urusan orang lain.


"tidak mau!" teriak wanita itu saat tangan pria itu menarik rambutnya.


Sandi menoleh, "aku seperti mendengar teriakan Feby," batinnya.


"permisi Bu, ada apa?" tanya sandi saat melihat para warga bubar setelah wanita itu di bawa pergi.


"itu loh pak Sandi, ada orang gila, sayang banget loh padahal, masih muda, cantik tapi stres, dia itu istri pak Bram," kata ibu-ibu itu.


"pak Bram?" sandi bingung karena belum sempat mengenal semua orang.


"ituloh pak, rumah yang paling besar dan bagus, dia itu orangnya memang tertutup, dan paling kaya dan dermawan di sini," kata ibu itu.

__ADS_1


"wah sepertinya saya kurang kumpul nih, kok gak tau ya," jawab sandi tersenyum.


"pokoknya pria yang punya banyak tato di tubuhnya, pasti nanti ketemu," jawab ibu itu.


"siap Bu, kalau begitu mari," pamit Sandi.


sedang pria bernama Bram itu menarik rambut wanita itu dan mendorongnya hingga jatuh tersungkur.


"maafkan bibi," mohon wanita itu saat lehernya kembali di rantai.


"ini sebabnya kau ingin lari kan, sekarang kamu tak boleh kemana-mana," kata Bram dingin.


"maafkan bibi, jangan ikat, sakit," mohon bibi.


"tidak ini sudah tiga kali kamu berusaha kabur, kami tau jika kamu pergi aku yang akan susah kamu mengerti," kata Bram melepaskan ikat pinggangnya.


"jangan pukul bibi, bibi minta maaf," tangis wanita itu.


"seharusnya kamu pikirkan dulu sebelum kabur, terlebih Ale disini, atau aku akan membunuhmu dan putra mu itu,"


"tidak, jangan pukul, pukul bibi, jangan Ale," kata wanita itu membuka bajunya.


meski dia stres tapi wanita itu tetap mengerti mengurus bayi dan dirinya.


Bram pun tak jadi memukul wanita itu, dia pun malah mencumbu bibi dengan begitu ganas.


bahkan dia meninggalkan bekas gigitan di sekujur tubuh wanita itu.


dan bibi tak bisa menolak atau dia akan di pukul lagi oleh Bram, wanita itu hanya bisa mengikuti keinginan Bram.


Bram begitu menikmati kegiatannya, karena tubuh wanita yang sedang di goyangnya itu begitu memukau.


pembantu Bram tak berani menolong wanita itu yang di tinggalkan begitu saja setelah Bram puas.


bibi bangun dan menimang putranya yang menangis, bahkan dia tak peduli dengan keadaannya.


"Ale ganteng, jangan marah ya, sssttsss... nanti baba marah lagi, bibi tak mau Ale di pukul," kata wanita itu pada bayi empat bulan itu.


"nyonya, mungkin tuan Ale lapar," kata bik tum.


"Ale lapar, sebentar," kata wanita itu bergegas ke kamar mandi, dia mandi dan membersihkan dirinya.


bik tum memberikan pakaian yang bersih, "sekarang Ale sudah boleh makan ya," kata wanita itu pada bik tum.

__ADS_1


bik tum mengangguk dan membantu nyonya rumah itu menyusui bayi laki-laki itu, "Ale sakit," katanya meringis.


"sabar ya nyonya," kata bik tum melihat luka di sekujur tubuh wanita itu.


__ADS_2