
semua guru di buat terpesona melihat Bram yang sedang berjalan sambil merangkul Edgar, Keduanya nampak begitu tampan dengan porsinya.
"nanti kamu tanding basket jam berapa nak, wah papa tak sabar mau melihat putraku ini," kata Bram begitu bangga.
"nanti pa, setelah istirahat sekitar jam dua atau setengah tiga," jawab Edgar.
"baiklah, sekarang kamu mandi, dan kita kumpul di taman ya, kita makan bareng, bareng tim basket kalian yuk," kata bibi yang datang menemui keduanya.
"baiklah mama, aku mandi dulu ya," pamit Edgar.
benar saja semua tim basket Edgar sudah berkumpul bersama keluarga Edgar.
saat Bram datang, semua siswa kaget melihatnya, "selamat siang guru," kata semua murid.
"sudah tak perlu begitu formal, santai saja, dan apa kita mengadakan piknik sekarang?" tanya Bram.
"tentu, mama sengaja mengundang mereka agar saat bertanding mereka lebih sangat papa," kata bibi tersenyum.
"itu benar, ayo makan dan dimana cucu kesayangan ku!" kata papa bin kesal.
"aku disini opa, maaf sedikit telat, karena aku kebetulan bertemu dengan tim cheerleaders.
"ciye ciye ... Edgar, sini Fee, kebetulan keluarga Edgar yang datang membawa makan siang untuk kita," kata Teddy.
"apa aku menganggu dan tim ku," tanya gadis yang terlihat cantik itu.
"tentu tidak sayang, tapi kalau boleh tau nama mu siapa? dan kenapa mau Deket sama putra ku yang pemalu ini," goda bibi.
"pemalu!" kaget semua orang.
"eh... memang kenapa?" bingung bibi.
__ADS_1
"dia itu bikin malu Tante, ya Tuhan dia itu tukang omel saat di sekolah, dan satu-satunya cowok idaman perempuan satu sekolah," kata Teddy.
"benarkah?" tanya Bu Inggrid.
"mama..." lirih Edgar malu.
"Feby, ajak semua tim mu makan nak," kata Bram pada gadis di samping Edgar.
"hei ... aku tak suka dengan nama itu," bisik bibi.
"bukan kamu sayang, itu gadis di samping putramu, namanya Febriana Chang."
"owh... Fee, ikutlah bergabung bersama yang lain, kalian juga para gadis," kata Edgar.
"terima kasih ketua kelas dan keluarga," kata semua orang.
bibi pun merasa senang bisa berkumpul dengan anak-anak yang begitu menyenangkan.
setelah itu mereka semua pun menuju ke tempat pertandingan, Bram duduk bersama pelatih basket sekolah.
"dia begitu tampan saat ini," gumam bibi.
"ya bagaimana pun dia putra kami, meski dulu kami sempat hampir kehilangan dia karena wanita setan itu," kata Bu Inggrid.
"tapi tidak apa-apa ma, sekarang dia putra mama dan juga suami yang sangat bertanggung jawab," kata Bibi.
"iya kamu benar nak, sekarang dia adalah putra dan ayah serta suami yang sempurna," kata Bu Inggrid.
mereka pun tertawa bersama, pertandingan pun di mulai terlihat Edgar begitu bagus saat bermain.
Bram berteriak saat melihat ada yang tak benar dalam tim putranya itu, bahkan pelatih saja tak mengira jika para murid didiknya begitu hebat saat ini.
__ADS_1
bahkan mereka tak terlihat seperti siswa SMP yang sedang bertanding, tapi malah seperti pertandingan profesional.
"Edgar, mainkan kesukaan mu nak!" kata Bram
"tentu papa," jawab Edgar tersenyum menyeringai.
Edgar begitu liar, bahkan dia terlihat begitu tak terhentikan sekarang, bahkan beberapa kali dia mencetak three-point field goal.
akhirnya pertandingan basket mereka pun berakhir, dan semua orang senang dengan kemenangan ini.
"baiklah semuanya kita rayakan," kata Bram.
"kita pergi ke restoran cepat saji yuk," ajak bibi.
mereka pun menuju ke restoran yang memang tak jauh dari sekolah, dan mereka begitu senang karena di traktir oleh keluarga Edgar.
setelah selesai, mereka pun memutuskan untuk pulang, dan sesampainya di rumah mereka pun langsung duduk santai karena seharian ini telah di lalui dengan banyak hal.
tak di duga Edgar pun duduk di lantai dan mulai memijat kaki bibi dengan lembut.
"ah itu baik dan sangat membuat nyaman Edgar, tapi kami juga pasti lelah, hentikan nak," kata bibi.
"tidak masalah mama, aku tak merasa lelah sedikitpun, terlebih kaki mama sudah mulai bengkak ya?"
"benarkah bibi, tapi kenapa nak?" tanya Bu Inggrid.
"iya ma, kata dokter itu normal karena usia kandungan yang memasuki tiga bulan terakhir,dan lagi itu juga tak berbahaya, jadi Edgar hentikan nak," kata bibi.
"baik ma, kalau begitu fi rendam air hangat saja ya, bibik tum, minta air hangat untuk kaki mama ya,"
"baik den," jawab bik tum.
__ADS_1