
malam ini tanpa di sadari semua orang, Feli kedatangan tamu yang tak di undang.
pria itu langsung mendekap tubuh Feli dari belakang, dia menyempatkan diri untuk menemui dan mengucapkan salam perpisahan.
Feli kaget melihat sandi yang memeluknya, "apa kamu merindukan ku, aku merindukanmu, tapi sayang kita ak bisa bersama," bisik pria itu.
"kenapa kamu di sini, cepat pergi atau kamu bisa terluka," panik Feli.
"Kenapa kamu takut aku terluka, tenang saja suamimu itu lemah, lihat saja kamar pengantin ini saja bahkan masih begitu rapi," kata sandi mencium rambut Feli
tak di duga Farhan masuk untuk mengganti bajunya, tapi dia malah melihat pria lain di kamar Feli.
dengan tenang Farhan menutup pintu kamar dan menguncinya, "ternyata ucapan ayah mu itu benar ya," seru Farhan dengan santai.
"mas Farhan, aku bisa jelaskan mas," kata Feli panik.
meski dia tak menyukai Farhan, setidaknya dia tak ingin membuat masalah untuk keluarganya.
terlebih Feli belum tau bagaimana tabiat Farhan yang sebenarnya.
"aku adalah pria yang di cintainya, kamu siapa memangnya," ejek Sandi dengan begitu sombong.
"apa itu benar Feli?" tanya Farhan dengan santai.
"tidak, aku mendekatinya hanya untuk balas dendam atas semua perlakuannya pada kak Feby, Karena dia itu pria buruk," jawab Feli mendorong Sandi.
"berarti hubungan intim kita itu tidak berarti, wah hebat ... bahkan kamu terus berteriak puas saat bersamaku," ejek Sandi.
mendengar itu, Feli menampar wajah Sandi, Farhan pun masih memperhatikan kedua orang itu.
"kau berani menyentuhku, dan lihat saja bagaimana aku mengajarimu," kata Sandi yang ingin menjambak Feli.
tapi tangan sandi di tahan oleh Farhan, "jangan kira aku akan tetap diam meski kau melukai istriku," kata pria itu datar.
"kau pria lemah, minggir," sarkas Sandi.
Farhan pun marah dan langsung membanting tubuh Sandi ke lantai, dia mengambil pisau buah dan menancapkannya di mata kiri sandi.
"aarrgghh...." teriak Sandi yang kesakitan saat pisau itu di cabut oleh Farhan.
"ini baru peringatan, jika kamu berani datang dan melukai istriku, maka nyawamu yang akan ku cabut dari tubuhmu," kata Farhan melepaskan Sandi.
__ADS_1
pria itu pun pergi meninggalkan kamar Feli dengan darah yang masih deras mengucur dari luka itu.
Feli terdiam beku, dia tak tau jika suaminya begitu dingin bahkan sadis.
"kau lihat, ini baru ancaman, apa kau juga ingin merasakannya, seperti pria yang kau cintai itu, aku tak berkeberatan jadi duda lagi," kata Farhan membersihkan tangannya.
"ti .. tidak ..."
suara Feli tercekat, tubuhnya bergetar ketakutan, dia tak mengira akan melihat kejadian berdarah di Malam pengantinnya.
"kau ingat, aku menikahimu demi putriku, dan jika kamu berulah, aku jamin wajah cantikmu itu yang akan cacat seumur hidup," bisik Farhan sebelum masuk ke kamar mandi.
tubuh Feli limbung, dia pun masih bisa melihat bekas darah di lantai, dengan tangis dia buru-buru membersihkan semuanya.
dia tak bisa mundur, karena dia sudah sah menjadi istri monster berdarah dingin yang di sebut Farhan.
Sandi pun mencari rumah sakit sambil menutup luka di matanya, dia tak ingin buta.
terlebih dia belum sempat balas dendam pada Feby dan keluarganya.
Sandi pun mendapatkan pertolongan pertama di rumah sakit umum daerah itu, bahkan dokter pun tak bisa menyelamatkan mata Sandi.
bahkan dia tak bisa tersenyum saat berada di pelaminan, Farhan pun membisikkan sesuatu pada Feli hingga gadis itu tersenyum secara paksa.
sedang Bram yang datang pun langsung mengucapkan selamat pada Farhan.
keduanya memang kenal satu Sama lain, terlebih mereka juga pernah berada dalam satu sel penjara bersama.
bibi melihat Farhan yang begitu otoriter dan tegas, dan dia berdoa semoga Feli bisa berubah setelah ini.
"sudah, kamu membuatku cemburu dengan menatap pengantin pria dengan begitu dalam," kata bram.
"kamu lucu deh papa, bagaimana bisa aku menyukai pria lain saat di sampingku ada pria tampan, kekar dan juga kaya seperti mu," jawab bibi dengan senyum teduh miliknya.
"bukan tidak mungkin, karena aku yang sudah berumur dan kamu yang masih muda dan cantik," jawab ram.
"sudah hentikan kalian berdua, kamu semua ada di sini ingin menyaksikan pernikahan, bukan keromantisan kalian terus," protes Bu Inggrid.
acara pun berakhir pukul dua belas siang, bibi masih mencoba untuk menimang baby Ale dengan lembut.
sedang Bram berbincang dengan Fathan, Feli buru-buru menarik bibi masuk kedalam kamar wanita itu.
__ADS_1
"wah ... kamarku tetap sama, apa ayah yang sengaja," kata bibi keheranan.
"sudah tak usah basa basi lagi, tolong aku mbak, minta suamimu untuk menyuruh temannya itu menceraikan aku," kata Feli memohon sambil menangis.
"kamu gila Feli, kamu baru saja menikah, bagaimana bisa kamu mau bercerai, dan pasti mas Bram juga tak mau," jawab bibi.
"tapi aku tak mau tinggal dengan monster, dia sangat mengerikan," tangis Feli.
"memang apa yang sudah dia lakukan?" tanya bibi.
Feli pun menceritakan semua yang terjadi, dan bagaimana ulah dari Farhan suaminya.
bukan kasihan yang di dapatkan Feli, tapi malah sebuah tamparan keras dari bibi.
setelah itu, bibi menenangkan putranya yang menangis karena terusik, bibi tak mengira jika adiknya sampai melakukan itu.
"kenapa mbak menamparku?" tanya Feli yang makin terisak.
"ya aku seharusnya membunuhmu, aku dengan susah payah lari dan meninggalkan pria buruk itu, dan kamu malah ingin berada di pelukannya, kau gila, terlebih lagi kalian sudah berhubungan intim, asal kau tau dia juga tak sebaik yang kau kira Feli, aku tau saat sudah jadi istrinya," kata bibi.
"tapi kamu pasti puas di ranjang dengannya bukan," kata Feli tak terima.
"kau kira itu menyenangkan, tidak dan yang ada aku tersiksa karena dia beberapa kali melakukan kekerasan saat berhubungan, bahkan dia akan lebih gila saat melihat pasangannya menangis dan memohon," jawab bibi.
"kau hanya mengarangnya bukan, karena kamu sudah memiliki Bram yang lebih segalanya bukan, bahkan dia bisa memberikan apapun yang kamu butuhkan," kata Feli.
"kehidupan ku juga tak semudah itu, dan seharusnya beruntung kau tak di bunuh Farhan saat melihat dirimu dan pria brengsek itu," kata bibi yang meninggalkan kamar lamanya.
bibi pun menghampiri suaminya dan mengajaknya kembali ke Surabaya, karena dia tak ingin berurusan lagi dengan masa lalunya.
Bram mengiyakan ajakan istrinya, dan akhirnya mereka berpisah untuk pulang ke Surabaya.
meski awalnya pak Ibnu melarang, tapi dia tak bisa berbuat apapun toh putrinya itu sudah memiliki kehidupan sendiri.
sedang Feli tak bisa mundur, dan Fathan tau apa yang di bicarakan oleh dua wanita tadi.
"asal kau tau, saat ini jangan harap kau bisa melepaskan diri dariku," kata Farhan.
Feli pun hanya bisa mengangguk, dia juga tak bisa berbuat apa-apa, dan bibi juga sudah tak mau membantunya.
Sandi merasa marah, pasalnya kini dia cacat karena ulah suami dari Feli, dan dia akan membawa semua yang terjadi padanya.
__ADS_1