
bibi sudah sampai di ruangan suaminya, dan memilih duduk sambil mengatur nafasnya yang sedikit ngos-ngosan.
Bram dan semua pun baru datang dengan lift yang lain, "sayang ada apa sebenarnya, dokter mengatakan apa?" tanya Bram khawatir.
"sepertinya aku tak bisa melanjutkan kehamilan ku kali ini," lirih bibi.
"hah, kenapa sayang, bukankah kandungan mu baik dan sehat," kata Bram kaget
"iya, tapi dokter khawatir akan terjadi masalah kedepannya karena bayi kita kembar, dan lagi jarak kehamilan kali ini terlalu dekat, hingga membuat kehamilan ini menghawatirkan," jawab bibi menunjukkan rekaman pembicaraan dirinya dan dokter.
"berarti Minggu depan kamu harus lahiran sesar," lirih Bram.
"kenapa Bram,kamu tak ingin menyelamatkan istri mu," kata Farhan.
"apa yang kau katakan, kamu gila tentu aku ingin kebaikan untuk istriku, aku hanya tak menyangka jika aku akan menjadi papa lagi di usia ku, dan rumah ku akan sangat ramai," kata Bram begitu bahagia.
"itu pasti, dan selamat untuk itu," jawab Farhan.
sedang Feli merasa iri dengan kebahagiaan dari bibi, karena wanita itu bisa menjadi seorang ibu.
sedang dirinya masih belum bisa hamil, padahal mereka berdua sudah melakukan pemeriksaan dan dokter mengatakan jika semua baik-baik saja.
sedang di sekolah, Edgar menjadi siswa incaran dari para siswi, terlebih bocah itu memiliki wajah tampan dan postur tubuh yang baik.
bahkan sikap lembut Edgar menjadi nilai tersendiri di mata teman-teman dan juga adik kelasnya.
"Edgar, kemarilah ayo kita tanding basket," panggil salah satu teman sekelasnya.
__ADS_1
"tentu," jawab Edgar sekilas.
para remaja pria itu pun mulai bermain dengan baik, bahkan mereka nampak begitu hebat.
Edgar adalah kapten tim basket di sekolah menengah pertama,dia memang menjadi unggul karena perhatian yang di berikan oleh Bram.
sorenya, Edgar pulang naik ojek karena dia terbiasa pulang sendiri, dan saat sampai di rumah hanya melihat opa dan Oma nya.
"selamat sore Oma, opa," sapa Edgar.
"halo cucu tampan opa, kamu baru pulang dari ekskul basket nak," tanya papa Vin.
"iya opa, tapi tumben rumah sepi, mana Ale dan yang lain," tanya Edgar.
"mereka sedang berada di kantor papa mu, terlebih tadi mama mu sempat memeriksakan kandungannya, dan bagaimana perasaan mu akan punya adik lagi?" tanya papa Vin.
"tapi apa kamu tak keberatan, bukankah kasih sayang orang tuamu mungkin akan tercurah pada adik-adik mu?"
"tidak Oma, aku yakin mereka akan berbuat adil, lagi pula jika kasih sayang mereka lebih banyak ke pada adik-adik ku, itu bukan hal yang salah, karena mereka masih sangat kecil dan butuh kasih sayang yang lebih," jawab Edgar tersenyum.
Bu Inggrid langsung memeluk cucu pertamanya itu, "kamu cucu paling hebat, Oma akan mencurahkan semua kasih sayang Oma untuk mu, dan ingat kamu tak boleh salah jalan seperti papa mu itu, dia menjadi liar dulu," kata Bu Inggrid.
"tidak akan sayang, karena aku yang akan memantau cucu kebanggaan ku ini," kata papa Vin.
Edgar pun tak menyangka jika akan memiliki kakek nenek yang begitu menyayanginya, meski tak memiliki ikatan darah.
keduanya tak membedakan Edgar dan Ale, atau bahkan kadang dia di utamakan di banding baby Ale.
__ADS_1
tak lama dua mobil itu masuk kedalam halaman, dan baby Ale langsung berlari kecil menghampiri Edgar.
"bam..." kata baby Ale.
"bang, bukan bang Ale," kata Edgar gemas sambil mencium pipi adiknya itu.
"bam!" kata Bram yang langsung ikut memeluk Edgar dan baby Ale.
"papa kenapa malah ikut-ikutan baby Ale memanggilku bam," kata Edgar tertawa.
"habis panggilan Ale lucu saja, terlebih dengan wajah tampan mu ini, ha-ha-ha," jawab Bram tertawa sambil mengacak rambut putranya itu.
"sudah-sudah ayo masuk, dan Edgar bagaimana hari mu nak, apa ekskulnya berjalan lancar?" tanya bibi yang tau jika putranya itu begitu menyukai basket.
"tentu mama, aku memiliki pelatih yang begitu hebat, dan juga guru kekuatan fisik yang sempurna," jawab Edgar bangga.
bibi pun mengusap pipi Edgar, dan Bram langsung mengajak dua putranya itu masuk.
bibi pun tak mengira jika Edgar akan tumbuh baik bersama dengan keluarga baru ini.
"sudah sayang, jangan sedih, Oma takut baby girl di perutmu akan menangis juga," kata Bu Inggrid.
"bukan ma, baby boy, papa mau baby boy lagi," jawab papa Vin tak mau kalah
"tenang mama, papa, di perutku ada baby boy maupun baby girl,jadi tak perlu bertengkar," jawab bibi tersenyum.
"apa! jadi keturunan ku ada yang bisa memiliki anak kembar, akhirnya di keluarga Vanco setelah dua generasi batu ada lagi yang kembar," kata papa Vin dengan bahagia.
__ADS_1