Berbagi Cinta : Sepupuku, Istri Siri Suamiku

Berbagi Cinta : Sepupuku, Istri Siri Suamiku
keluarga busuk semua.


__ADS_3

dini terduduk syok, Satrio pun ingin melukai Feli tapi di lindungi oleh Gatot.


"kalau berani jangan menyakiti wanita bung, kamu itu pengecut jika melakukan itu," kata Gatot.


"ini adalah bukti yang di tinggalkan mbak Feby sebelum hilang, dia memergoki ibu mu yang sangat alim itu dengan seorang pria," kata Feli melempar bukti foto.


Dini memunguti foto itu, ia kaget melihat wanita yang begitu dia jadikan panutan malah melakukan hal seburuk itu.


Satrio mengajak dini pergi, sedang Feli pergi meninggalkan Gatot, karena pria yang di foto itu adalah dirinya.


itulah kenapa bisa pria yang lahir dari keluarga miskin memiliki barang-barang branded dan kuliah tanpa beasiswa.


Sandi begitu marah, jengkel, terpuruk dan juga kecewa pada hidupnya, dia tak mengira jika orang tuanya begitu membencinya.


bahkan sampai mati pun tak ingin dia melihat jasad keduanya, dan Yusuf juga sudah menghilang.


"aku benci hidupku!!!" teriak Sandi frustasi.


sedang di jalan, sini diam tanpa ingin berbicara dengan Satrio sedikitpun. belum lagi mereka yang terlalu syok dengan semua yang terjadi.


sesampainya di kota kelahirannya, dini langsung masuk ke rumah, tapi dia kaget melihat kondisi yang ayah yang seperti patung.


"ayah ... ayah tolong katakan sesuatu, kenapa papa cuma diam?" tanya Dini yang sedih melihat kondisi sang papa.


"kamu pulang Dini, dan ini kenapa kok bawa tas besar seperti ini? ada apa nak?" tanya Bu Fatma


"ibu sebenarnya apa yang terjadi ayah kenapa? kenapa kondisinya seperti ini," tanya dini.


"dia syok saat mendengar sahabatnya pak Ibrahim dan ibu Sulastri meninggal dunia, dan kami baru tau saat Soraya mengatakan semuanya, dan itu membuat ayah mu seperti ini," kata bu Fatma.


"ayah .... mertua ku meninggal dunia, dan aku tak tau, aku menantu apa, dan sekarang mas Sandi juga menceraikan ku," kata dini menangis memeluk sang ayah.


"kenapa bisa, bukankah kalian sebelum ini baik-baik saja," kaget Bu Fatma.


"ibu tentu tau, mas sandi menyalahkan segalanya padaku, dan lagi dia juga salah sangka dengan kami, hingga dia menjatuhkan talak padaku," kata jawab dini sesenggukan.


tapi tak di duga, saat Bu Fatma ingin memeluk putrinya itu, dini mendorong Bu Fatma.


"jangan menyentuhku, ibu juga tak sebaik yang terlihat, ibu sering menghianati ayah, ini buktinya, apa salju kami ibu, kenapa ibu melakukan ini," kata dini melempar foto yang tadi di ambilnya.


bu Fatma tak mengira jika akan melihat foto lama ini, ini adalah alasan yang sebenarnya.


"kenapa diam, mungkin ini karma yang aku tuai, dengan apa yang ibu tabur, aku benci ibu!" teriak Dini marah.

__ADS_1


Satrio pamit dan pergi dari rumah itu, dini sedih bukan main, hidupnya hancur berantakan.


sedang keluarganya juga bukan keluarga impian, dia tak mengira bukan Feby yang hancur.


tapi dirinya yang hancur, bahkan suami yang begitu dia cintai juga membuangnya.


ingin rasanya dia mengakhiri hidupnya sendiri yang begitu menyedihkan.


"aku tak tahan lagi!" teriak dini.


dini sedang terpuruk, tapi berbanding terbalik dengan dini adalah bibi. kehidupannya begitu bahagia saat ini.


Bram begitu memanjakan istrinya itu, bahkan tak hanya itu apapun keinginan bibi dan Edgar akan di kabulkan oleh Bram.


seperti sore ini, keempatnya keluar dari rumah untuk berjalan sore, atau hanya sekedar menyapa para warga.


tak terduga ada penjual keripik singkong yang lewat, bibi pun minta membeli itu pada Bram.


Bram pun memborong dan membagikan pada orang kampung, tapi tak terduga beberapa begitu senang.


tapi tak terduga mereka malah melanjutkan berita panas yang sedang terjadi di desa itu.


"maaf ya pak, ada apa ini, sepertinya ada berita seru sekali sampai kalian begitu senang membicarakan hal itu?" tanya Bram.


bibi sampai kaget, dan bayi Ale sampai takut dan menangis, bibi pun tak mau mengurus hal itu.


jadi dia tak ambil pusing, dia memilih untuk menenangkan bayi kecilnya yang kaget.


"aduh maaf ya pak, bayinya sampai kaget gitu," kata Bu RT tak enak.


"tidak apa-apa Bu, sini biar sama papa," kata Bram yang tak sengaja melihat sesuatu.


"papa kamu lihat apa, tolong matanya, jangan membuatku malu di depan semua orang," kata bibi mencubit perut Bram.


"Ale, nanti giliran sama papa ya, kamu terlalu menguasainya," bisik Bram.


seperti mengerti baby Ale menutup mulut Bram dan tersenyum, "lihat bayinya sudah setuju, nanti makam mama milikku," bisik Bram.


bibi tertawa mendengar ucapan suaminya yang sedikit gila itu.


Edgar di gendong Bram saat ingin pulang, sedang bibi membawa empat kantong keripik singkong untuk orang rumah.


sesampainya di rumah, bibi meminta bik tum untuk menyimpan cemilan itu, tak lama bibi memilih mandi.

__ADS_1


Bram sudah meminta bik tum menjaga kedua anaknya, sedang Bram mengikuti bibi masuk ke kamar mandi.


"papa kenapa ikut masuk, nanti akan lama mandinya!" kaget bibi saat Bram langsung me.gang sesuatu.


tanpa berlama-lama, Keduanya sudah saling mendesah dan berpelukan, dan bibi akhirnya di gendong oleh Bram.


bahkan kerja tak menyelesaikan kegiatan mereka cukup lama, "papa sudah jam makan malam .. kita lanjutkan nanti ya," kata bibi memohon.


Bram pun mengakhiri sesi olahraga mereka, tapi bibi tak bangun, "ayo katanya mau makan," kata Bram masih terengah-engah.


"uh ... aku berasa gak bisa jalan pa, lemas, kamu saja ya yang keluar ya," mohon bibi.


"baiklah sayang, kamu tidur saja ya, dan maaf membuatmu kelelahan, hahaha," tawa Bram.


"dasar pria menyebalkan, tapi aku mencintaimu," kata bibi.


"aku juga sayang, aku mencintaimu," kata Bram yang kembali ke kamar.


tapi bibi mendorong pria itu, keluar dari kamar, sedang dia menuju ke kamar mandi untuk mandi.


tapi dia kaget melihat semua bekas merah di tubuhnya, "ya Tuhan .. pria ini begitu ganas," gumam bibi tersenyum geli.


Bram langsung memangku putaran Ale, dan menyuapi Edgar yang sedang belajar.


"papa ... mama mana? kenapa belum turun," tanya Edgar.


"mana kelelahan jaga Ale yang sudah mulai berat, jadi kakak sama papa saja ya," kata Bram memberikan penjelasan.


"baik papa, tapi aku ingin minum susu saja," kata Edgar.


"mau minum susu apa? biar papa buatkan," kata Bram.


"susu almond papa, itu kesukaan ku," kata Edgar setelah tinggal di rumah ini.


"oke bos, tapi jaga adik mu sebentar ya, biar papa yang buatkan susu untuk kalian berdua," kata Bram semangat.


Edgar pun tertawa menyaksikan sikap Bram yang begitu penyayang pada dirinya yang hanya anak sambung.


bahkan Bram tak membeda-bedakan dia dan Ale, bahkan dia tak menyangka akan mendapatkan kasih sayang berlimpah dari Bram.


"susu sudah siap," kara Bram menaruh dua gelas susu dan juga satu botol dot susu.


Ale tertawa di pangkuan Edgar, sedang Edgar memeluk Bram, "terima kasih papa, aku menyayangimu," kata Edgar terisak.

__ADS_1


"tidak nak, jangan menangis karena papa tak mau melihatnya lagi, cukup hanya setim yang terukir di bibir pria tampan mu," kata Bram memeluk putranya itu.


__ADS_2