
Feby pun hampir kehilangan nyawa, Sandi seperti tidak memperdulikan jika dia itu juga istrinya.
"Sandi kau gila!" teriak Satrio yang datang setelah Tami menelpon dirinya.
Sandi yang kaget pun melepaskan tangannya, Feby terbatuk dan memegangi lehernya yang membekas tangan Sandi.
"Jika kamu tak menginginkan aku, tolong ceraikan aku!" teriak Feby.
"Aku tak akan menceraikan mu, ingat itu," bentak Sandi.
"Tapi kenapa mas? kamu bahkan sudah sering memukulku, aku salut mas, aku sudah diam saat kamu tak memberikan hak ku dan Yusuf, tapi sekarang kenapa lagi, aku tak mengerti apapun," tanya Feby dengan suara bergetar.
"Karena kamu membuat Dini keguguran, dengan ucapanmu, kamu juga tau hanya dengan anak itu, setidaknya orang tuaku tidak menghinamu dan Yusuf dek," lirih Sandi.
Satrio terdiam, dia pun buru-buru pergi demi melihat Dini, sedangkan Sandi masih menangis tersedu-sedu.
"Aku bahkan tak mengatakan apapun pada mbak Dini, dia sendiri yang memiliki pemikiran kotor itu, hanya karena melihatku keramas, dia berpikir jika mas baru saja menghabiskan waktu dengan ku, tapi jika itu terjadi apa salahku, karena aku juga berhak atas dirimu," kata Feby terus terang.
"Apa maksudmu nak?" tanya Bu Sulastri.
"Selama ini, mbak Dini terus menguasai mas Sandi, sesuai permintaan ibu dan ayah, bahkan dia tak memiliki waktu untuk ku dan Yusuf," tangis Feby.
"Sandi. apa itu benar? jika kamu tak bisa adil, tolong nak lepaskan Feby, dia juga berhak bahagia jangan Kuring dia seperti ini," kata Bu Sulastri yang akhirnya luluh juga.
"Tidak ibu, aku tak ingin itu, aku mencintai dirinya, aku tak bisa melepaskannya," jawab Sandi.
"Jangan egois Sandi, kamu terlalu sering melukai Feby, terlebih kamu tidak bisa bersikap adil dari awal," bujuk Bu Sulastri.
"Tidak akan!" kata Sandi membentak.
Tiba-tiba Feby merasakan perutnya sangat sakit, dan darah keluar dari sela kakinya.
"Mas Sandi, ibu ...." panggil Feby lirih menahan sakit.
Keduanya menoleh dan kaget melihat darah di bawah tubuh Feby, "kamu kenapa Feby!" panik Bu Sulastri.
"Ibu aku mohon selamatkan anak ku Bu, aku juga sedang hamil ..."kata Feby sebelum akhirnya pingsan dalam dekapan ibu Sulastri.
__ADS_1
"Sandi kenapa malah bengong!" teriak Bu Sulastri.
Sandi tersadar dan segera mengendong Feby, Tami keluar sambil membawa Yusuf.
Mereka pun bergegas menuju ke rumah sakit, saat sampai Feby di bawa ke ruang UGD.
"Maaf, suami pasien nyonya Feby?" panggil seorang suster.
"Saya suster," jawab Sandi.
Suster itu awalnya kaget, pasalnya tadi siang Sandi datang sebagai suami pasien lain.
"Maaf pak, anda harus menandatangani surat persetujuan ini, karena istri anda mengalami keguguran dan kami tak bisa menyelamatkan janin di kandungan istri anda," kata suster menerangkan.
Tubuh Sandi lemas dan terpuruk, dalam satu hari, dia kehilangan dua calon anaknya.
"Sandi ..."
Bu Sulastri memeluk Sandi dengan erat, "aku suami yang buruk Bu, aku bisa kehilangan dua calon anakku, dan bahkan Feby menyembunyikan kehamilannya dariku ..."
"Kamu tau semua ini mbak?" tanya Bu Sulastri.
"Tentu Bu, aku ikut karena permintaan tuan besar untuk menjaga cucu dan cicitnya, setelah beliau tau jika nona hamil muda, dan harus mengurus tuan Yusuf," jawab Tami.
"Kau bodoh dan brengsek Sandi,"
"Asal anda tau Bu, nona sudah membela suami dan istri pertamanya itu, karena yang sebenarnya adalah tuan besar tak suka perlakuan kalian selama ini, seandainya nona tak melarangnya, mungkin sekarang anda semua masuk penjara," tambah Tami.
"Apa ..."
"Dan sebentar lagi tuan besar datang, dan siapkan diri anda yang harus ikhlas bercerai dengan nona," tambah Tami yang masuk ke dalam ruang administrasi untuk menyetujui kuret di lakukan.
"Tidak boleh, aku tak akan mau menceraikan Feby, meski aku harus di penjara seumur hidupku," kata Sandi.
Bu Sulastri akhirnya sadar, jika Feby memang benar-benar wanita baik, hanya satu kesalahannya.
Tapi mereka dengan buta terus menyalahkan wanita itu, bahkan mereka terus menyakiti Feby dengan kata-katanya.
__ADS_1
Bu Sulastri dan Sandi kini menjaga Feby, Tami belum sampai memberitahu keluarga besar Feby.
Dan saat Tami bertanya pada Feby, wanita itu melarangnya, karena ini adalah urusan rumah tangganya.
Bu Sulastri kini berubah sangat baik pada Feby dan Yusuf, terlebih saat dia menyadari jika Dini berubah.
"Assalamualaikum nak, bagaimana keadaan mu?" tanya Bu Sulastri yang baru datang bersama pak Ibrahim.
"Waalaikum salam Bu, Alhamdulillah baik, ibu kenapa repot-repot, apalagi di rumah ibu juga menjaga Yusuf," kata Feby.
"Kamu ini ngomong apa sih, kamu juga putri ibu, dan Yusuf itu tak pernah lelah ibu mengurusnya, jadi kalau keluar rumah sakit kita tinggal di rumah ibu ya, ibu tak mau jauh dari Yusuf, terutama ayah mu itu," tunjuk Bu Sulastri pada suaminya yang masih nampak dingin pada Feby.
"Tapi ..."
"Tidak perlu tahu, ibumu sudah memintanya, lagi pula Sandi yang harus menyelesaikan ini dengan Dini, dan kamu menjadi tanggung jawab kami," kata pak Ibrahim.
"Baiklah jika itu keputusan ibu dan ayah, Feby ikut saja," jawab Feby yang langsung mendapatkan pelukan hangat dari Bu Sulastri.
Feby bahkan menangis saat pak Ibrahim membelai kepalanya, baru kali ini Feby di peluk dan di terima seperti ini oleh mertuanya.
Sedang di kamar rawat Dini, dia heran karena kedua mertuanya tak berkunjung, dia sadar jika mertuanya mungkin kecewa padanya.
"Mas ..." panggil Dini saat melihat pintu terbuka.
"Ternyata hanya kamu," kata dini dingin.
"Kamu kecewa hanya aku yang datang, ngomong-ngomong mana suamimu yang bertanggung jawab itu, sudah mati?" tanya Satrio menertawakan Dini yang tengah sendirian.
"Bukan urusan mu, memang mau apa kemari?" keris Dini.
"Aku hanya ingin melihat mu menderita, sudah ku katakan ayo ikut aku pergi, dan aku bisa membuatmu bahagia, kenapa kamu mau bertahan dengan pria seperti bajingan itu," kata Satrio terus menginggatkan Dini.
"Tutup mulutmu itu Satrio, kamu saja tak bisa menepati janjimu padaku, bagaimana aku bis percaya padamu," balas Dini.
"Janji itu belum kau minta, bagaimana bisa aku menepati janji itu, dan kamu ingat betul siapa aku Dini, sekali aku berjanji pasti aku lakukan apapun itu yang kau minta," jawab Satrio.
Dini pun tersenyum mendengar itu, dan itu yang di tunggu ya dari Satrio, pernyataan pemberian janji yang tak mungkin bisa di bantah lagi.
__ADS_1