
pagi ini bibi belanja di temani oleh Bram, bahkan keduanya nampak begitu bahagia.
ibu-ibu pun memberi selamat karena tau jika bibi sedang hamil anak ke tiga, sedang bibi merasa malu saat ini.
"kamu bisa membuat rendang ma?" tanya Bram.
"tentu, papa ingin memakannya, tapi akan sangat membutuhkan waktu," gumam bibi.
"tak masalah, aku bisa menunggunya, karena aku sedang merindukan masakan kampung ibuku," jawab bibi.
"baiklah, bang tolong daun singkong sama nangka mudanya sekalian ya," kata bibi
"siap ibu bos," jawab Abang sayur itu.
akhirnya setelah membeli apapun yang di inginkan,mereka pun memutuskan untuk pulang.
tapi tak terduga keduanya malah bertemu dengan orang yang sangat di hindari.
Feli kaget melihat sosok wanita yang berdiri di samping Bram, bahkan wanita itu sangat lengket dengan Bram
"mbak Feby ..." panggil Feli.
bibi pun hanya bereaksi biasa saja, toh dari dulu dia dan adiknya itu tak terlalu dekat.
"maaf, apa kita saling kenal? papa kenal mereka?" tanya bibi menunjuk Feli dan ayu
"mbak, ini aku Feli adikmu mbak, mbak masih hidup terima kasih Tuhan, ayah dan ibu pasti akan sangat senang melihat mbak begitu sehat," kata Feli yang ingin memeluk bibi.
"tunggu ya mbak, aku tak mengenalmu, kenapa kamu begitu yakin, dan jangan terlalu sok akrab begitu," kata bibi menghindar.
"tolong ya adek-adek, jangan menakuti istriku, dia hanya orang biasa dan tak kenal kalian," kata bram membela bibi.
"tidak dia itu mbak Feby, kalau tak percaya ada bekas jahitan dan tanda lahir di punggungnya, Karena dulu aku menusuknya dengan pisau," kata Feli.
karena tidak sabaran, Feli membuka baju belakang bibi, tapi gadis itu tak menemukan bekas itu.
tapi hanya tato yang sudah di cukup lama, "maaf ... maafkan teman ku, dia selalu begini saat mengingat kakaknya," kata ayu.
"sudah pa, ayo pulang kasihan anak-anak, dan untuk kalian, lain kali jangan sembarangan bicara, atau kalian bisa di tuduh bicara tanpa bukti," kata bibi dingin.
dia tak suka tingkah adiknya ysng terlalu sembrono, terlebih Kenapa dia merasa jika Feli terlalu bulsyit.
__ADS_1
toh dulu gadis itu yang memusuhi bahkan menghina Feby saat menjadi istri Sandi.
dan sekarang gadis itu seperti menjadi orang yang paling peduli padanya.
"kamu tak apa-apa? atau kita perlu pindah rumah?" tanya Bram.
"tak perlu pa, oh ya ini yang akan aku hadapi, tapi aku akan kuat saat kamu di sisi ku, jadi tolong jangan pernah melepaskan tangan mu dari tangan ku ya," mohon bibi.
"baiklah, apapun untuk mu ma, dan aku akan selalu bersama mu," kata Bram.
sedang Feli langsung mencoba menghubungi Sandi, dan ternyata pria itu tak bisa di telpon.
Feli ingin sekali memaki pria itu, terlebih dia kebingungan karena wajah wanita itu begitu mirip dengan kakaknya.
tapi Feli tak bisa berbuat apa-apa karena bibi tak memiliki tanda yang pernah ada, bahkan Tan lahir pun tak ada.
Bram pun duduk dan bermain bersama anak-anak, dia tak mengira jika dulu dia Menato punggung bibi itu ternyata berguna.
pasalnya wanita itu tak bisa di kenali karena tato itu menyembunyikan semuanya.
sesampainya di rumah, Feby langsung mencoba memasak makanan keinginan dari Bram.
dan kali ini cukup riweh, karena begitu banyak bumbu dan juga masakan, tapi bibi tak mau menyerah terlebih dulu.
tapi setelah ikut Bram, dia seakan punya keluarga sendiri lagi, "nyonya kenapa masak begitu banyak?" tanya bik tum.
"ya gak papa bik, itung-itung untuk semua orang di rumah, oh ya bik apa tadi Ale menangis?"
"tidak nyonya, tuan kecil anteng bermain dengan tuan Edgar, apalagi tuan Edgar juga begitu sayang pada adiknya," kata bik tum.
"baiklah kalau begitu, ternyata putraku sudah dewasa," gumam bibi.
Feli menghubungi ayahnya dan pria itu terkejut bukan main, apalagi Feby Putri yang di carinya selama ini akhirnya di ketemukan.
pak Ibnu dan ibu Soraya langsung bergegas menuju desa tempat KKN dari Feli.
saat sampai di desa itu, keduanya menghampiri Feli terlebih dahulu, karena dia tak tau apa-apa tentang desa itu.
kebetulan Feli menunggu bersama sandi yang baru saja datang setelah Feli menjemputnya.
pak Ibnu tak suka dengan pria itu, bahkan ingin rasanya pak Ibnu menyingkirkan wangi selamanya.
__ADS_1
"Feli apa ini alasan kamu tak bisa menjelaskan di telpon tadi?" tanya pak Ibnu sedikit kesal.
"bukan ayah, aku hanya tak ingin ayah salah paham, sebenarnya tadi aku sudah bertanya pada wanita itu, tapi dia bersikap aneh dan menghindari, aku makin yakin jika itu mbak Feby, tapi dia berpura-pura melupakan segalanya," terang Feli.
"baiklah Feli, kali ini ayah percaya, tapi jika kamu membohongiku maka kita pulang dan kamu akan ayah nikahkan dengan putra teman ayah," kata pak Ibnu marah.
sandi hanya diam, dia tak bereaksi apapun karena otaknya sudah hilang.
sedang Feli tau jik dia tak bisa berharap dari pria seperti sandi, jadi dia mengangguk saja.
mereka pun menuju rumah mewah di desa itu, sandi melihat Feli, "kenapa kita ke rumah pak Bram?" tanya sandi
"karena wanita itu ia dari pak Bram," jawab Feli dengan yakin.
sandi pun ingin langsung masuk, tapi mereka di hadang oleh tiga satpam.mereka lupa jika Bram bukan orang sembarangan.
bahkan tak akan semudah itu bertemu denhan Bram, satpam Tejo menghampiri Bram dan keluarga.
"maaf tuan besar dan nyonya, ada rombongan keluarga dari mbak Feli dan mas sandi, mereka ingin bertemu dengan tuan besar," kata satpam Tejo.
"perbolehkan mereka masuk, tapi jika mereka membuat ulah maka seret mereka keluar," kata Bram dingin.
"baik tuan," jawab satpam itu
rombongan Feli masuk kedalam rumah, dan di persilahkan untuk duduk sambil menunggu Bram dan bibi.
do ruang tamu ada sebuah foto keluarga mereka, pak Ibnu terdiam melihat foto itu.
karena wajah istri Bram dan putranya mirip Feby dan Yusuf, tapi dia tau benar jika Yusuf berada di saudara jauh dari orang tua sandi.
tak lama Bram dan bibi turun sambil bergandengan, tapi mereka semua tercengang pasalnya bibi lebih cantik dan putih dari Feby.
terlebih wanita itu nampak modis, "selamat siang, ada apa ini kok ramai-ramai kesini, dan untuk mu Feli, apa tadi belum cukup mempermalukan istri saya," kata Bram
"bukan begitu pak Bram, aku hanya ingin meyakinkan diriku jika dia bukan mbak Feby, jadi aku membawa ayah dan ibu," kata Feli.
bibi tertawa, pasalnya gadis itu tak menyerah sedikitpun, bahkan sandi pun terpesona dengan istri Bram itu.
"apa ini ajaran dari kalian, hingga putri kalian tak sopan pada orang, beruntung istriku tak melaporkan gadis itu ke polisi," kata Bram.
"maafkan kami, dia menjadi sedikit sensitif setelah kakaknya menghilang, terlebih kami kehilangan dia tanpa jejak sedikitpun," kata pak Ibnu.
__ADS_1
dan hubungan dengan pak sandi, apa dia juga keluarga kalian?" tanya Bram.
bibi merapatkan tubuhnya pada Bram karena melihat Sandi yang menatapnya ke sekujur tubuhnya.