
hari berjalan seperti biasa, tapi perubahan Feby tak terlalu terlihat di banding Dini.
orang tua Sandi terus datang ke rumah untuk menengok menantu kesayangan mereka.
"Yusuf ayo makan sayang, jangan seperti ini, ayah udah berangkat nanti malam saja ya mainnya," kata Feby menenangkan putranya.
"Lihatlah putra haram mu, terus berulah tak mau diam, dasar anak aneh," hina Bu Sulastri.
"Cukup Bu, bagaimana pun ini juga darah daging mas Sandi, tolong jangan menghina putra ku, apa ibu ini benar-benar seorang ibu, sampai bisa mengeluarkan kata-kata seperti itu," kata Feby tak tahan.
"Cukup Feby, tolong yang sopan, ini ibu mas Sandi," lerai Dini.
"Aku akan sopan, pada orang yang menghormati ku,dan aku bisa kasar pada orang yang menghina putraku," kata Feby menjawab Dini.
"Wah hebat, sudah berani kamu," bentak Bu Sulastri.
"Mbak bawa Yusuf bersiap, aku akan segera mengikuti kalian," perintah Feby.
"Baik non," jawab mbak Tami.
"Oh ya kamu, kalau nanti pergi gak usah bawa mobil, biar mobil itu di pakai Dini, toh kamu masih normal dan bisa naik angkutan umum kan," kata pak Ibrahim.
"Maaf ya tuan Ibrahim, mobil itu pemberian kakek saya bukan di belikan putra anda, jika ingin punya mobil sendiri minta mas Sandi, jangan mengunakan milikku," kata Feby.
"Kamu! bagaimana pun dini juga cucu dari pak Cahyono," kata pak Ibrahim.
"Kalau begitu minta dia untuk minta kakek saja, jangan menganggu ku," bentak Feby.
Feby langsung mengajak mbak Tami dan Yusuf pergi, dari rumah yang menyesakkan itu.
Dini tak mengira jika Feby bisa semarah itu, lagi pula kedua mertuanya juga keterlaluan.
"Ayah, ibu, saya minta tolong sekali, tolong jangan mengatakan hal buruk pada Feby, itu bisa membuatnya tersakiti," mohon Dini.
"Kamu itu terlalu baik Dini, dia itu harusnya mikir dia itu cuma orang ketiga," kata Bu Sulastri.
__ADS_1
"Aku tau Bu, tapi bagaimana pun dia itu istri mas Sandi, apa ibu ingin mas Sandi marah padaku," lirih Dini.
Keduanya diam, yang di katakan di i benar, sandi tak akan mentolerir saat mereka menyakiti Feby.
Maka akan di kembalikan pada Dini luka yang sama, selama dalam perjalanan Feby terus menangis.
"non, baik-baik saja?" tanya mbak Tami khawatir.
"Iya Mbak, dan kebetulan kita akan melihat sebuah rumah, tapi tolong jangan mengatakan pada siapa pun ya," mohon Feby.
"Maksudnya non, non ingin keluar dari rumah itu?" tanya mbak Tami.
"Iya mbak, aku merasa sesak setiap hari, orang tua mas Sandi terus menghina Yusuf, padahal bagaimana pun Yusuf tetap cucu mereka," jawab Feby.
Satrio sedang memikirkan beberapa ide untuk memisahkan Feby dari keluarga sandi dan Dini.
Dia ingin dini bahagia tanpa bayang-bayang wanita lain di rumh tangganya.
Lamunannya buyar saat sebuah mobil yang dia kenali melewati rumahnya.
Satrio pun menghampiri Feby, "wah hebatnya, kamu bisa dapat rumah dari Sandi, memang pelet apa yang kamu gunakan."
"Jika tak kenal tak usah menyapa, lagi pula aku bukan wanita yang hanya berpangku tangan dan hanya bisa menangis tuan," jawab Feby ketus.
Satrio merasa tertantang melihat keberanian Feby, tapi yang sebenarnya Feby memberanikan diri menjawab pria itu.
Feby dan mbak Tami melihat rumah yang sudah selesai renovasi itu, dan rumah itu sudah atas nama Yusuf.
"Rumahnya bagus mbak,meski kecil tapi sangat nyaman," kata mbak Tami.
"Iya mbak, ini aku sengaja karena hanya ingin merasa nyaman saja, terutama agar aku bisa mengawasi Yusuf," jawab Feby.
Sandi pulang dari bengkel, dia tak mengira jika bisnisnya sedikit menurun.
Tapi dia memiliki usaha yang lain, jadi setidaknya dia tak seutuhnya mengandalkan bengkel itu.
__ADS_1
Saat sore hari Sandi baru pulang dan harus mendengar keluhan dari ibunya yang datang.
"Sandi, kamu itu harus mengurus istri kedua mu itu, masak mobil mau di pakai Dini malah di bawa pergi, dasar wanita aneh," kata Bu Sulastri.
"itu memang mobilnya, jika mau Dini bisa memakai mobilku, biar aku naik motor saja," jawab Sandi lelah.
"Kamu ini gimana sih, kamu bisa sakit kalau kepanasan dan kehujanan, seharusnya dia itu yang mengalah, toh dia juga sehat, dan lagi itu pengasuh juga tak pernah mau di perintah, katanya tugasnya hanya mengasuh anak wanita itu, memang dia tak mengambil uang mu," kata Bu Sulastri ingin memprovokasi putranya.
Dini sudah was-was pada Sandi, pasalnya Feby selama sepengetahuan dirinya tak pernah minta uang belanja pada Sandi.
Sandi ingat sesuatu, dia mengecek kartu miliknya dan ternyata benar tak ada pemberitahuan dari kartu yang dia berikan pada Feby.
Semua laporan hanya dari kartu yang Sandi berikan pada Dini, "cukup ibu, jangan menganggunya, dia bahkan tak pernah mengunakan uang ku, dan jangan pernah menyuruh pengasuh Yusuf karena dia itu pengasuh yang di berikan oleh kakek, Feby selama ini bekerja dan tak hanya berpangku tangan, jadi jangan berlebihan ibu," marah Sandi.
Feby yang baru datang bersama mbak Tami pun terkejut mendengar semua keluhan dari ibu Sandi.
"Sekarang apa yang ibu Sulastri yang terhormat dan begitu menyayangi menantunya inginkan?" kata Feby mengejutkan semua orang.
"Seharusnya kamu dan anak haram mu itu mati saja, karena kami akan memiliki cucu dari menantuku yang hanya Dini saja," kata Bu Sulastri.
"Ibu!" bentak Sandi ikut marah.
"Baiklah jika itu yang anda inginkan, sekarang minta anak laki-laki anda menceraikan saya, dan jangan menganggu hidup saya," kata Feby yang langsung pergi ke kamar untuk berkemas.
"Tunggu dek, jangan gegabah, jangan seperti ini," kata Sandi menahan Feby.
"Cukup mas, aku tak bisa mendengar hinaan pada putraku lagi, dari awal aku tidak ingin menjadi istrimu, hanya karena ancaman mu tentang Yusuf, aku mau melakukan hal ini, dan yang mengemis bukan ku tapi kamu, jadi cukup aku tak ingin terluka lagi," kata Feby benar-benar marah kali ini.
Bu Sulastri dan pak Ibrahim terdiam, mereka tak mengira jika putra mereka bisa melakukan hal serendah itu demi wanita seperti Feby.
Feby pun keluar sambil membawa koper besar, sedang Tami juga membawa hal yang sama.
Sandi pun tak bisa menghentikan Feby, "dek aku mohon jangan tinggalkan aku."
"Selama ibu dan ayah mas sandi tak bisa menerima diriku, jangan harap aku kembali padamu," kata Feby yang pergi.
__ADS_1
"Jangan pernah mimpi, aku tak Sudi meminta maf pada wanita perusak rumah tangga orang lain," kata Bu Sulastri.