
Cempaka menunggu Naskala dengan harap-harap cemas yang juga tak kunjung datang untuk menjemput dirinya. Wanita itu mengepalkan kedua tangannya menenangkan dirinya. Padahal ia sudah menunggu Naskala sudah sangat lama tapi laki-laki itu belum juga kelihatan batang hidungnya.
Teman-temannya senantiasa menemani Cemapka dijemput meksipun ada yang beberapa sudah pulang lebih awal.
Cempaka mengehela napas panjang dan menatap ke arah teman-temannya dengan pandangan yang sangat merasa bersalah.
"Reyhan, Nanda! Kalian pulang aja dulu."
"Ish nanti. Aku mah aman pulangnya. Ini si Om Naskala kayanya banyak omong doang tapi kenapa gak datang-datang."
Cempaka pun kian cemberut. Menghubungi Naskala beberapa kali tetap saja tak diangkat. Cemapka malah sangat khawatir takut terjadi sesuatu kepada Naskala di tengah jalan.
"Nanda! Reyhan! Yohana! Patricia! Jangan-jangan ada apa-apa lagi sama Om," ucap Cempaka dengan raut tegang dan juga panik.
Nanda mengusap punggung Cempaka dan menepuk punggung itu beberapakali. Ia tersenyum lebar meyakinkan jika tak akan terjadi sesuatu kepada Naskala.
"Palingan telat atau gak jemput. Gak mungkin lah terjadi sesuatu."
"Cempaka! Kenapa gak pulang aja sama aku."
Cemapka menatap Reyhan yang terus menawarkan tumpangan kepadanya. Jujur saja Cempaka tidak enak dengan Reyhan. Ia tak ingin merepotkan Reyhan apalagi Naskala sudah berpesan untuk pulang dengannya. Jika dia pergi dengan Reyhan maka Naskala akan marah kepadanya.
"Gak papa Reyhan. Kamu pulang dulu aja, aku bisa nunggu sendirian. Lagipula nanti Om bisa marah kaya tadi siang."
"Dih om kamu kok gitu amat," ucap Yohana yang tak mengerti dengan Naskala.
"Sudahlah Yohana! Biasalah seorang kakak pasti khawatir sama adiknya."
"Bener apa yang dibilang sama Nanda," cepat Cempaka membela Naskala di depan teman-temannya.
"Kalau gak gini aja, kalian pulang dulu biar Cemapka di sini aja. Nanti kalau Om belum juga jemput biar aku aja suruh supir aku yang antar."
Reyhan sebenarnya tampak tidak ikhlas. Terlihat jelas di matanya bahwa ia sangat menginginkan jika Cempaka pulang dengannya.
"Cempaka!"
"Udah gak papa Reyhan, mending kamu pulang," ucap Nanda dan menarik tangan Reyhan.
Reyhan menghela napas panjang dan mengikuti keinginan teman-temannya. Ia pun pulang lebih awal hingga Cemapka pun menunggu Naskala sendirian.
Cemapka terus duduk di teras hingga larut malam. Yohana beberapakali menawarkan agar Cemapka menunggu di dalam namun Cemapka enggan.
Merasa sangat khawatir Cemapka pun pulang lebih awal tanpa sepengetahuan Yohan dan berjalan kaki. Ia pikir dengan cara ini mungkin bisa bertemu dengan Naskala yang mungkin saja mendapatkan masalah di jalan.
__ADS_1
Hujan pun tanpa disangka-sangka tiba-tiba datang dan Cemapka terkejut saat merasakan tubuhnya diguyur oleh air yang cukup deras. Kemudian wanita itu berlari mencari perlindungan yang aman.
Namun Cemapka tak juga kunjung menemukan tempat teduh. Ia pun lanjut berjalan dengan tubuh menggigil. Terlihat dari jauh bahwasanya ada sebuah mobil yang tengah mengarah kepadanya.
Cempaka sudah tak terlalu jelas melihat mobil itu. Sekujur tubuhnya benar-benar kaku dan juga sangat pucat. Ia pun menundukkan kepala berusaha menahan dingin hingga tiba-tiba ia merasa tubuhnya diberikan sebuah jaket dan juga ada payung yang melindunginya.
Cemapka melirik orang tersebut yang sudah menolongnya. Ia pun menangis kencang dan memeluk tubuh Naskala. Naskala tak memiliki daya untuk menolak. Ia menahan kesedihannya karena rasa bersalah karena telah telat menjemput Cempaka.
Naskala membawa Cempaka masuk dan menutupi tubuh Cempaka dengan kain tebal.
"Maafkan saya."
"Om kenapa baru datang?"
"Tadi ban mobil bocor dan hp saya juga udah mati jadi tidak bisa menghubungi kamu."
Cempaka tersenyum lebar. Benar dugaannya. Lagipula Naskala tak akan pernah ingkar janji untuk menjemputnya.
"Makasih Om sudah mau datang jemput Cemapka."
"Cemapka!" Cempaka pun menatap Naskala serius. "Itu sudah kewajiban saya. Dan kamu kenapa pulang jalan kaki, kamu bisa nunggu saya." Cemapka tak menjawab.
Naskala lantas menuntun Cempaka untuk masuk ke dalam mobil bagian belakang. Setelah itu barulah ia duduk di bagian supir.
"Sekali lagi maafkan saya. Apalagi kamu sampai basah seperti ini. Saya khawatir jika kamu akan sakit."
"Gak perlu khawatir Om, saya pasti baik-baik saja."
Naskala tersenyum samar. Selalu saja Cempaka sangat percaya diri. Padahal ia tahu jika Cemapka tak sekuat apa yang ia lihat.
Wanita itu sangat rapuh apalagi dengan kondisinya yang lemah seperti saat ini.
____________
Paginya Cempaka tidak bisa bersekolah karena wanita itu yang sakit dan juga lemas. Adhila tak henti-hentinya memarahi putra tunggalnya itu.
"Kamu sih Kak kenapa bisa telat jemput."
"Maaf Bunda, sudah Naskala bilang kalau bannya bocor."
"Kalau bocor yah tinggal tambal gak usah lama juga. Makanya sebelum apa-apa itu dicek dulu."
"Mungkin ada paku Nyonya," bela pembantu.
__ADS_1
Adhila menatap kesal pembantunya dan juga Naskala. Mereka seakan tengah bersekongkol.
"Awas aja sampai kenapa-kenapa anak kesayangan Bunda."
Naskala pun tersenyum lebar. Tidak hanya ibunya yang khawatir dirinya juga sangat khawatir dengan kondisi Cemapka yang demam tinggi.
"Bunda tenang saja, Naskala pasti bertanggung jawab."
"Pegang kata-kata kamu Kak."
Adhila pun masuk ke dalam kamar dan melihat Cemapka yang tengah terbaring lemah di ranjang sambil memeluk boneka beruangnya. Ia tersenyum lebar dan duduk di samping Cempaka seraya mengusap kepala wanita itu.
Ia tak menyangka jika anak kecil yang dititipkan padanya kini telah tumbuh menjadi wanita yang sangat cantik. Pantas saja ia sering melihat Naskala yang berusaha menghindar bertatapan langsung dengan Cemapka. Ia memahami naluri seorang pria.
"Kamu sudah besar yah sayang, Bunda harap kamu bisa memanggil Bunda dengan sebutan Bunda dan anak-anak kamu manggil Bunda adalah nenek." Ucapan tersebut didengar oleh Naskala. Ia juga berharap yang sama.
Terkadang dia sangat sedih bahwa Cemapka belum bisa memanggil mereka dengan panggilan Kaka, Bunda dan Ayah.
"Semoga aja Bunda."
Naskala pun menghampiri bundanya dan menatap Cempaka dengan seksama.
"Naskala juga gak nyangka bocah nyebelin dulu udah sebesar ini. Rasanya masih sangat singkat dan juga tak menyangka jika dia sudah besar. Baru kemarin Naskala selalu main sama dia. Tapi semakin dia dewasa dan juga Kakak semakin dewasa semakin Kakak jauh dari Cemapka."
"Kaka, Bunda jadi sedih. Bunda tau kamu seperti apa, memang kita tak bisa berada di samping seseorang dengan cukup lama. Ada saatnya untuk kita berpisah."
"Bunda, andai Cempaka adalah adik kandung Naskala. Naskala pasti bisa nyentuh dan peluk dia tanpa takut dosa."
Adhika pun menghela napas panjang. Ia sudah diangkat rahimnya hingga tak bisa memberikan seorang adik perempuan yang sangat diinginkan oleh Naskala. Maka dari itu ia sangat senang mengangkat Cempaka sebagai anak angkatnya.
Naskala juga sangat bahagia tapi tetap saja ada rasa sedih karena Cemapka benar-benar tak menganggap dia adalah seorang Kaka.
Ia hanya menganggap Naskala sebagai orang yang telah membuatnya kesal di waktu kecil.
Cemapka pun perlahan membuka matanya dan menatap samar-samar Adhila dan Naskala.
"Aaaa aku kan harus sekolah!" Cempaka langsung bangun dan Adhila sangat kaget. Ia lantas menahan pergerakan Cempaka dan membaringkan wanita itu kembali.
"Jangan bangun sayang. Kamu masih sakit."
____________
Tbc
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA.